Hadiah untuk Klanduhan

Klanduhanku Sayang, Klanduhanku Malang

Pagi di bulan Desember. Mentari telah beranjak dari peraduannya. Tergesa, kuturuni tebing barat kali. Hosh.. hosh.. Jalanan curam menurun terpaksa membuat kedua kakiku setengah berlari. Tak ada 3 menit aku pun sampai di bibir kali.

Ya, Kali Klanduhan. Kali berair jernih yang lekat dengan masa kecilku. Kali yang mengajariku bagaimana asyiknya bergumul setengah hari bersama teman-teman. Belajar berenang, kadang-kadang menyelam, mencari udang di balik bebatuan, atau berjemur di atasnya jika kami kedinginan usai terendam air. Sampai-sampai kami suka lupa waktu, lupa makan, dan satu hal lagi: lupa belajar. (Ah, sekali dua kali sepertinya tak apa.. hehe, dasar NAKAL!). Kali yang membuatku sesekali terngiang pada gelak tawa dan tangis masa kanak-kanak. Masih kuingat gelak tawa Sulis, Dwi, Ipung, Riyanto, Nur, Lanjar, Agus, dan banyak lagi; saat kami berlomba menemukan sebuah batu baterai bekas yang dilempar ke dasar sungai.

“Ayo, cepet-cepetan!!” tantang Riyanto.

Seketika itu pula, kami pun berebut menyelam. Wah, sulit! Akhirnya, kami harus menyerah karena si gesit Riyanto telah mengambilnya lebih dulu.

Ah, masa-masa itu.. sungguh pun telah berlalu begitu lama, takkan lekang dari ingatanku.

Di sebelahku berhenti, sebuah pohon gayam berdiri berjajaran dengan pohon ketapang, teduh menaungiku. Sayang, tinggal merekalah yang tersisa dari kenangan masa kecilku. Sementara, batu-batu kali sebesar buldozer kini tiada tampak lagi. Gosong sungai tempatku dan teman-teman dulu sering mengusili gerombolan bebek milik Pak Kasno pun, lenyap tak berbekas. Hanya ada sebuah kolam besar, untuk ukuran tubuhku yang mungil, besar sekali.. bak kolam renang! Pfuih..!!

Sesaat kemudian pandangan mataku menerawang sejenak lalu tertuju ke arah tebing timur kali. Beberapa pohon pisang bertahan hidup di sana. Kurus dan nyaris rebah menahan tanah tebing yang sesekali longsor. Tanah di seberang kali beberapa waktu terakhir memang digunakan untuk ajang tracking sepeda. Bahkan beberapa tracker nakal suka menggunakan tebing… dan begitulah, tanahnya melorot sedikit demi sedikit. Hmm, bakal seperti apa jadinya kalau dibiarkan berlarut seperti ini? Kuhela nafas panjang, berat.. Inikah yang harus diterima oleh kali tempatku bermain dulu? Kali yang memberiku begitu banyak kenangan manis masa kecil ? Hmm…

Pengerukan pasir dan batu (sirtu) Klanduhan nyata-nyata telah merusak ekosistem kali. Ironisnya, pelaku pengerukan adalah orang-orang yang kukenal baik. Ya, beberapa tetanggaku sendiri! Orang-orang terdekat yang seharusnya ikut menjaga titipan Tuhan, meski di sisi lain mereka pun berhak mengambil manfaat dan menikmati kekayaan alam berupa sirtu tersebut.

Seperti yang kulihat pagi ini, beberapa ibu muda mengangkuti pasir dengan bakul (bahasa Jawa: tenggok) . Sementara, anak-anaknya mereka biarkan membawa ember sarat pasir. Hampir tiap hari inilah aktivitas mereka. Usai menyiapkan sarapan, mereka pergi ke kali untuk mencuci dan mandi. Sembari menunggu cucian kering, tangan “kreatif” mereka bergerilya mengeruk pasir dan menjumputi bebatuan. Begitu seterusnya hingga timbunan sirtu menghias halaman depan rumah mereka. Kalau ditanya, alasan mereka sangat klasik: membantu suami menambah pendapatan keluarga. Tapi, sungguh pun dengan alasan ekonomi pernahkah mereka berpikir bahwa setidaknya mereka berandil dalam kerusakan ini? Lalu, sebagai manusia Timur yang beradab etiskah berbuat demikian?

Belum lagi saat kuberanjak mendekat, miris rasanya melihat kondisi Klanduhan. Sungguh Klanduhanku malang, alirannya kini tak sederas dulu. Onggokan sampah plastik di mana-mana. Mulai dari tas kresek, bekas sabun colek, sandal bedhat, sampai sampah pembalut wanita! Ah, apa-apaan lagi ini? Mengapakah mereka menghadiahkan “bingkisan sampah berharga” mereka untuk Klanduhanku sayang? Untuk kali yang telah sekian lama setia menghidupi mereka? Untuk batang air yang tiada pernah mengeluh walaupun perilaku manusia di sekitarnya telah membuatnya jenuh?

Oh, malang nian nasibmu.. Klanduhanku sayang. Namun, tetaplah bertahan karena masih ada bias asa yang kelak membuatmu jauh lebih baik dari saat ini. Aku yakin..

-Karangsari, Desember 2007-

Kubaca lagi isi blog di Friendster ini. Tiga tahun telah berlalu dan entah apa yang terjadi beberapa bulan terakhir sungguh membuatku berharap banyak. Kapan lagi kalau bukan saat ini, saat aku diberi kesempatan menjabat kembali di organisasi kepemudaan kampung, Kadang Anem IX. Meski bukan jabatan yang luar biasa, tapi setidaknya aku masih bisa berurun rembug membagi ide liar dalam otakku.

Ya..ya.. Semua bermula akhir tahun 2009. Kala itu kepengurusan Bung Joe (baca: Marjono) berakhir. Dan, sebagai penggantinya Bung Yan “Pitung”-lah yang menggantikannya. Malam Ahad itu, tak dinyana sungguh kalau aku bakal ketibanan sampur. Apa sebab? Rupanya sang Ketua menganugerahiku sekali lagi, sebuah posisi terhormat (ciee..): Koord. Sie Pemberdayaan Perempuan! Hoho.. dengan senang hati, meski itu beban juga sebenarnya, kuterima amanah itu. Ini lebih karena aku mengerti bahwa mereka mempercayai kemampuanku. Bismillah.. terima kasih atas kesempatan ini, Teman..

So? Bulan berlalu dan beberapa ide mulai mencuat bejibun menyesak dalam rongga kepala (haduuh, lebaay! :D). Satu di antaranya adalah soal Klanduhanku malang, hasil renungan pinggir kali beberapa tahun lalu. Aku masih saja menyimpan mimpi itu. Suatu ketika ingin kudapati Klanduhan kembali pada kehijauannya, pada deras aliran airnya, pada kenangan indah semasa kecil dahulu.. Ohh, betapa senangnya!

Lalu? Apakah lagi upaya yang bisa kuberikan untuknya, Klanduhanku sayang? Hmm, bagaimana dengan konsep konservasi DAS? Daripada gagasan itu beku dalam otak, lebih baik ku-floorkan dalam forum rutin. Ayo.. Ayooo..!! Semangatku memuncak, menyoraki lidah dan bibirku agar terus dan terus berbicara. Sekali waktu diam memang emas, tapi tetap memilih diam dalam kondisi yang salah.. adalah sebuah pilihan buruk. Dan, mulailah aku berbicara. Tentang program Go Green Jogja, tentang penyediaan bibit tanaman perindang gratis oleh Hortimart, tentang partisipasi generasi muda paling tidak untuk lingkungan terdekat kami, hingga akhirnya tercetuskan juga rencana penyusunan proposal permohonan bibit kepada sponsor, jumlah polybag yang sekiranya bisa diajukan, hingga survei lokasi penanaman. Aku tak sabar.. Sungguh!

Setengah menggebu, kusampaikan alasan demi alasanku mengapa memilih Klanduhan sebagai pokok agenda. Mungkin ini sedikit egois, tapi egosentris dalam diri ini.. hmm, entahlah tertuju untuk siapa. Saat ini yang kupikir masih dalam lingkup kecil, tentunya teruntuk kami semua, yang tinggal di kampung Candi Karang, yang setia menikmati tiap tetes air dari bumi Candi Karang. Namun, bukankah menghijaukan daerah di kaki gunung Merapi sama halnya menyediakan sumber air bagi saudara-saudara kami yang tinggal di kota Yogya dan Bantul? Meski itu terdengar terlalu tinggi, tapi bukankah tiap manusia berhak memiliki impian? Ya, akan kusongsong impianku dengan upaya terbaik. Aku memang telah lama menantikan saat-saat ini, saat aku bisa melangkah bersama mereka karena apalah artiku tanpa kehadiran dan bantuan mereka. Hmm, semoga semua ini bisa menjadi hadiah terindah untuk Klanduhan, kali yang telah menyisipkan sepenggal kenangan dan kisah manis dalam kehidupanku, kehidupan orang biasa seperti Phie. Amiin..

-Bulaksumur, 11 Maret 2010-

2 Comments

  1. Catatan dari Sebalik Rindang Kaki Merapi « Segores Pena Phie

    06/06/2011 at 2:10 pm

    […] belakang. Berawal dari pengerukan pasir di Kali Klanduhan serta kondisi sampahnya yang saya tulis di sini, membuat saya resah. Lalu serangkaian ide bergulir. Saya sempatkan membagi galau hati dengan […]

  2. (Sedikit) Cerita dari Workshop Green Lifestyle KOMPAS dan SwitchAsia SCP Indonesia Seri II (bersambung) | Segores Pena Phie

    03/11/2014 at 11:07 pm

    […] ini, sama seperti tema workshop seri II: Save Water. Ah, ingatan saya mengembara ke masa lalu: Klanduhan dan serunya petualangan bocah-bocah angin. #tsaah! […]

Leave a Reply