INPRES di Suatu Masa

SD Candirejo
SD Candirejo (sekarang)

Siang telah beranjak, tapi mentari masih terik. Kulajukan roda-roda kuda besiku melewati bangunan bertembok tebal dengan beberapa pohon kiara payung di sudutnya. SDN Candi Rejo, jelas terbaca olehku. Tak pelak, terngiang pula sekian banyak kenangan manis masa kecilku. Tentang sekolah yang kadang menggoreskan sejumput rindu di hati.

Entah, harus memulakan dari mana. Yang jelas, aku tumbuh dan bergaul dengan banyak teman di sana. Menerima pelajaran berharga dari sosok-sosok pahlawan tanpa tanda jasa. Insan-insan sederhana yang sedia mengabdi demi mencerdaskan kehidupan bangsa, yang setia mendidik kami menjadi insan berbudi pekerti. Mulai dari tahun pertamaku, Ibu Siti Alfiah. Sosok lemah-lembut dan penyabar seperti beliau sangat cocok mengajar di kelas I. Hingga detik ini pun beliau masih dipercaya menjadi wali kelas I.

Tahun kedua, kelasku diasuh oleh Ibu Sri Dalsih, guru cantik dengan rambut panjang. Tegas dan jelas bila menyampaikan pelajaran. Banyak kenangan berkesan tentang beliau. Sayang, beliau harus pergi selama-lamanya tahun 2003 silam akibat kanker. Kuingat benar, mulai dari membuat berbagai kerajinan anyaman dari kertas warna, bunga-bunga cantik dari kertas krep, hingga rumitnya membuat ketupat beliau sampaikan dengan sabar kepada kami. Beliau sangat fokus pada kegemaran kami, memacu keberanian anak didiknya agar percaya diri tampil ke muka.. hingga saat jadwal pelajaran Kesenian dan Bahasa Jawa, beliau tak pernah luput melirikkan mata kepadaku.

“Ayo, siapa yang ingin maju menyanyi? Jatu?!”
“Ya, Bu..!”

Kuanggukkan kepala dan dengan sumringah kulangkahkan kaki menuju muka kelas. Show time! Desaku, Buta-Buta Galak, juga Yo, Dha Dadi Wayang pernah menggema di ruang kelas IIB kala itu.
Beliau tak hanya setahun pelajaran mendampingi kami. Di tahun keempat, beliau ada dekat bersama anak-anak IVB, dan aku satu di antaranya.

Ada satu peristiwa konyol yang takkan bisa kulupakan. Siang itu Bu Sri Dalsih menyampaikan pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila- sekarang PPKn). Aku baru ingat kalau seminggu sebelumnya beliau memberi kami tugas untuk menghapal naskah Proklamasi. Singkat cerita, beliau akan memberi kami bonus nilai sebagai hadiah bagi siapa saja yang berani maju menghapalnya. Siang itu, beliau menagih janji.

“Ayo, siapa yang sudah hapal?” tantang beliau.

Ada satu yang maju: Erlita. Ah, si jawara ini tentunya takkan kalah. Untuk soal menghapal, dia jagonya.
Dan, begitulah.. lancar sekali ia melafalkan kalimat per kalimat; tak heran tepuk tangan pun membahana setelahnya.

“Wah, aku juga mau dapat bonus nilai.. bonus tepuk tangan apalagi!” pikirku.

Padahal waktu itu, aku baru hapal beberapa kalimat, tapi dasar nekat.. tetap saja kuacungkan jari.

“Siapa lagi?!” tanya beliau.
“Saya, Bu!” teriakku tak mau kalah.

Dengan rasa percaya diri 80%, kulangkahkan kaki.

“Naskah Proklamasi ini, pasti aku bisa..” pikirku lagi.

Dan..

Suaraku mulai memecah keheningan kelas,

“Proklamasi. Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal mengenai perpindahan kekuasaan dan lain-lain…”

Di sini aku berhenti bersuara. Kupandangi satu per satu wajah teman-teman, tak ada satu pun yang bisa membantuku mengingat lanjutan kalimat itu.

“Ayo, kok berhenti?” tanya Bu Sri.
“Uhmmmm.. hehe, lupa, Bu!” jawabku sambil menjulurkan lidah.

Sontak, teman-teman tertawa berbahak melihat ekspresiku. Rasanya malu setengah mati!

“Aduh, pertunjukanku gagal!” batinku.

Ya, setiap kali kuingat naskah Proklamasi, kenangan ‘pertunjukan yang gagal itu selalu muncul dan membuatku tiba-tiba terkekeh sendiri.
Tapi mungkin itulah yang tak terlupakan dari masa lalu kami. Konyol, lugu, jujur, apa adanya.. dasarnya anak-anak! Begitulah!

Mungkin sama konyolnya seperti saat mengenang manisnya sari tebu. Kala itu, di seberang timur SD beberapa petak tegalan terhampar, biasanya ditanami tebu dan palawija. Bila tiba waktunya ‘ngrembang’, sepulang sekolah aku dan teman-teman suka sekali menyusuri pematang sekedar mengamati para pekerja memanen tebu. Bak mandor, kami berjalan beriringan.. melihat kiri kanan sesekali. Tapi jangan salah, begitu mereka lengah kami siap membawa kabur beberapa lonjor tebu. Lalu?

“MLAYUU..” teriak seorang temanku mengomando.

Larilah kami tunggang langgang sebelum mandor tebu mengacung-acungkan aritnya, marah.

Hmm, dulu.. Itulah aku dan teman-teman.. nakalnya minta ampuun! πŸ˜€
***

Kembali ke sekolah.
Mundur setahun, tahun ketiga, sesosok guru nan sabar pun mendampingi kelasku, Ibu Sadjinah. Bisa jadi karena usia sepuh beliau, kesabarannya menghadapi kami teruji. Di bawah asuhan beliaulah aku akhirnya bisa menyusul sang jawara. Di kelas itu pula aku mendapat teman baru, Tarmuji namanya. Satu hari kami sedang belajar menulis halus. Kalimat yang kami tulis hari itu,

“Beriman dan Bertaqwa kepada Allah SWT”

Kebetulan Muji duduk tepat di bangku depanku, ia melafalkan lambat-lambat kata Allah. Karena menurutku cara melafalkannya salah, kusela..

“Sing bener Awloh.. le maca, Ji”

Ia memandangku lekat sesaat, tanpa merasa bersalah aku pun meneruskan pekerjaanku. Dua hari kemudian, dan seterusnya hingga kenaikan tiba, aku tak pernah lagi menjumpai Tarmuji. Menjelang kenaikan akhirnya aku paham. Tarmuji ternyata seorang Nasrani, pantas saja cara melafalnya berbeda dengan kami. Ah, aku sungguh menyesal.. Bisa jadi alasannya tak berangkat sekolah itu karena ucapanku? Entah.. sampai sekarang aku tak pernah tahu. Hmm.. Di mana pun engkau, Ji.. maafkan aku ya. Tak ada niatku menyinggungmu, sungguh.

Tahun kelima, seorang wali kelas berselera 70an mengasuh kelasku, VB. Sosok tinggi dan tegap, ya Bapak Sunaryo. Mengingat beliau membuatku terngiang sebuah lagu Project Pop..

“Celana cutbray lambai-lambai.. Kata orang sudah kaya seprai..”

Ya.. ya.. Sekilas bolehlah dibilang seperti artis Elvis Presley, tanpa JAMBUL.. hehe (n.n)d. Belum lagi kemejanya, press body! Beliau paling sering kulihat memakai kemeja putih. Hohoho, ditambah kaca mata hitam dan gitar..hmm, KEREN 8)

Kenangan beliau tak berhenti di situ.

Ada satu hal yang selalu lekat dalam ingatan kala kami diharuskan menghapal rumus-rumus Matematika. Entah itu karena beliau produk sekolah zaman kolonial, ataukah memang karena perangainya yang seperti itu.. aku tak habis berpikir, mengapa tiap kali ada murid yang gagal menghapal.., gagang kemoceng, penggaris kayu bakal maju menghantam tubuh-tubuh kecil kami. Beberapa kakak angkatan malah diolesi balsem. Ck..ck..ck..

Memang aku tak sering kena pukul, tapi sungguh tak menyenangkan melihat beliau melayangkan kayu kecil itu ke arah teman-teman. Bukankah kami hanya gagal menghapal? Mengapa tak memberi waktu lain hari supaya kami lebih keras lagi berusaha? Lalu wajarkah hal itu dijadikan dalih, memperkenankan tubuh kami dikorbankan demi sebuah hapalan rumus? Mungkin untuk alasan itulah kami menjadi anak yang “terganggu”. Bagaimana tidak, saat beliau absen dari kelas.. teriakan spontan keluar dari mulut kami. Seolah mencari pelampiasan.. gaduhlah suasana kelas, padahal kelas VB hanya berpenghuni 25 anak. Tingkah polah kami tentu membuat guru lain prihatin.

Pernah suatu siang, saat itu kelasku ditinggal rapat oleh wali kelas. Suasana gaduh seperti biasanya ternyata mengganggu kelas sebelah, kelas VI. Beberapa waktu kemudian, seorang guru masuk ke kelas kami. Bp Bakir (alm.), guru Matematika. Dengan wajah dingin beliau memandangi kami dari sudut ke sudut. Kami kontan diam karena segan pada beliau. Yang beliau lakukan bukan meneriaki kami. Lalu? Beliau menuliskan 3 bait syair tembang Gambuh untuk kami catat.

Iki dicatet.. Aja rame-rame, ana pelajaran neng kelas liya, ya Cah” kata beliau

Nggih, Pak!” sahut kami sekelas nyaris berbarengan.

Dan, mulailah kami mencatatnya. Tidak seorang pun dari kami yang peduli apa makna dan untuk apa sebenarnya beliau meminta kami mencatatnya. Embuhlah, sing penting ditulis wae. Iki dhawuhe Pak Guru, kudu ditindakke. Titik!

Seperempat jam berlalu dan inilah yang kala itu kami catat.

Sekar gambuh ping catur
Kang cinatur polah kang kalantur
tanpa tutur katula tula katali
kadaluwarsa katutuh
Kapatuh pan dadi awon

Aja nganti kebanjur
barang polah ingkang nora jujur
yen kebanjur kojur sayekti tan becik
Becik ngupaya iku
pitutur ingkang sayektos

Pitutur bener iku
sayektine kang kudu tiniru
nadyan metu saking wong sudra pepeki
lamun becik wurukipun
Iku pantes sira anggo

(Serat Wulangreh Pada I Laras Slendro Pathet Sanga)

Tembang itu sesekali masih suka kulagukan. Karena seringnya kuulang, lagi dan lagi… kini, barulah kumengerti maknanya benar-benar dalam. Bukan sekedar perintang waktu agar kami tidak lagi gaduh dan mengganggu pelajaran kelas lain, tetapi agar kami mau mengerti sesuatu yang berlebih dan keterlaluan seperti tingkah polah kami siang itu tak layak kami perbuat sebagai seorang murid. Samubarang gawe sing kaladuk, nora bakal becik ing tembe burine.

Terima kasih, Pak.. apa yang telah Bapak sampaikan sungguh berharga untuk bekal kami di masa depan.

Hmm, kembali kepada wali kelas VB yang sedikit “streng”. Sebenarnya masalah sikap beliau menjadi hal yang kontroversial di kalangan guru. Banyak yang tak sepakat dengan cara beliau, tapi.. hingga aku lulus tahun 1996 silam, belum ada perubahan berarti. Entahlah sekarang ini keadaannya bagaimana.
***

Tahun berikutnya, kelas tertinggi yang berarti klimaks dari perjalanan kami di sekolah dasar.. Hanya ada beberapa guru yang hilir mudik saban harinya di kelas. Mungkin karena SDM guru saat itu juga tak banyak. Maklumlah sekolah INPRES, hehe :D. Di antara beliau para guru.. hmm, seingatku Pak Bakir (kala itu beliau menjabat kepala sekolah) mengampu Matematika dan IPS, lalu Pak Djadi (wali kelas IVB, kelasku) mengampu Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, Keterampilan.. Dan yang tercantik, Bu Suyati. Beliau mengampu PPKn, IPA dan Kesenian. Oh ya, satu lagi nyaris terlupa, Pak Japar! Beliau pengampu mapel Agama Islam.
***

Hari-hari berlalu dan tanpa sadar tlah hampir tiba waktu kami menjalani PraEBTA. Wuah, hampir lulus! Tapi, sebelumnya tentu ada ujian-ujian yang mesti kami lalui. Satu di antaranya adalah ujian praktek memasak. Hyaaa!!

Beberapa minggu sebelum ujian praktek dilaksanakan, kami sudah dibagi menjadi beberapa kelompok kecil beranggotakan 5-6 orang. Kelompokku kala itu.. Hmm.. semoga aku tak keliru mengingat; Sulis, Marjono, Novi, Ratna ‘gendut’ dan aku sendiri. Satu anak laki-laki? Ah, bukan masalah! Marjono yang kala itu badannya masih sebesar diriku sekarang, hehe, ‘kupaksa’ wira-wiri. Ambil kayu-lah, ambil wajan-lah, ambil air-lah.. pokoke kubuat dia menderita.. yaa Allah, maafkan aku ya, Mar! Si ketua kelompok ini sudah begitu banyak ‘menyiksamu’..maafkan, ga bermaksud. Sungguh..
Namun, untungnya pengorbanan Marjono, Ratna dan Novi yang rela racik-racik serta nguleg sambel, juga aku dan Sulis yang paling sangit karena setia nangkring di depan dhingkel.. tak sia-sia. Sayur sop dan sambal buatan kami mendapat pujian saat penilaian di ruang guru. Hohoho.. senangnya! LULUS deh.. πŸ™‚
***

Ya, hari-hari di sekolah adalah yang paling mengesankan. Bagiku bisa mengenyam pendidikan dasar meski itu di sekolah yang statusnya masih INPRES kala itu sungguh sebuah kenikmatan. Anak-anak mana paham dan mengerti kalau itu bagian produk Orde Baru? Yang kami mengerti, bisa sekolah, berteman dengan banyak kawan, belajar supaya menjadi orang yang berguna kelak.. itu sudah lebih dari cukup. Bagiku, satu kata saja: MENYENANGKAN.

Di sanalah aku dan kawan-kawan belajar menghargai waktu dan kesempatan, meski itu awal yang sulit. Bagaimana tidak, sebagai sekolah yang di’Instruksikan Presiden, tak banyak sarana prasarana yang bisa kami dapatkan. Ruang kelas dengan beberapa bangku rusak; penerangan seadanya; tak ada eternit, langit-langit kelas hanya dipasangi anyaman bambu, itu pun sudah usang dan beberapa di antaranya jebol. Bahkan, pernah suatu ketika karena pintu kelas rusak, kami harus bekerja bakti sebelum mulai pelajaran pertama. Ya, gara-gara ayam tetangga masuk kelas lalu buang hajat di bangku dan lantai kelas. Hmm, sungguh kejadian tak nyaman itu begitu lekat dalam ingatan. Belum lagi kalau sampai giliran kami piket WC, ugh.. ada-ada saja hal menjijikkan yang bakal kami temui! Semua serba kotor, tak sampai hati ini rasanya memakai minimnya fasilitas. Namun, apa boleh dikata? Kami harus tetap bertahan ditempa kekurangan bila memang hendak menjadi insan andalan.
***

akreditasi SD Candirejo
akreditasi SD Candirejo

Hari berganti, membersamai bergulirnya masa. Kini bangunan sekolah sudah jauh lebih kokoh. Halamannya sudah dipasangi paving block. Taman dan tempat parkir yang jauh lebih tertata. Beberapa kran air serta bak sampah di muka tiap kelas. Rapi sekali.. Ah, sekolahku! Sekarang statusnya sudah menjadi SD Negeri Candi Rejo dengan akreditasi B. Semoga di masa depan statusnya bisa menjadi A. Aamiin..

Terima kasih sekolahku, terima kasih Bapak/Ibu Guru, terima kasih teman-teman..atas goresan indah masa-masa itu, INPRES di suatu masa, sehingga saat ini aku bisa seperti diriku yang sekarang. Terima kasih.. πŸ™‚

-Bulaksumur, 24 Maret 2010-

6 Comments

  1. mustofa

    07/09/2010 at 3:14 pm

    btw kok cerita yg di inget tntng km terus??gak ada yg lain???hehehehhe..peace..

    SD yg sederhana dan sangat menyenangkan..

    1. Phie

      07/09/2010 at 3:36 pm

      Hehe, lha aku trubadurnya (baca: tukang cerita)
      Boleh dunk jadi pusat cerita di blog sendiri πŸ™‚

      Kapan-kapan deh cerita soal yang lain, soal Mus.. apa ya?
      Ahaa.. -clink- Kejadian yang itu.. psst -off the record-
      Simpan ide buat ditambah dan dikembangkan.. πŸ˜€

  2. STOP Pembunuhan Karakter & Kekerasan pada Anak! « Segores Pena Phie

    21/07/2011 at 10:00 am

    […] saya merasa trenyuh. Tidak hanya sekali dua kali, saya mencatat pula perlakuan guru yang lain di sini. Pertanyaannya, “Sampai kapan hal semacam ini harus terus menerus terjadi?” Sudah cukup […]

  3. erlita

    23/02/2012 at 4:19 am

    mbak jatu … seru juga crita waktu SD …kalo diinget aku ki yo nakal …ora gelem kalahan …hehe…kadang kita akur, tp juga musuhan ya …hehe …namanya juga anak2… dengan sgala keluguan dan kepolosan … maaf br nemu blognya mbak jatu …

    1. Phie

      27/09/2012 at 8:34 am

      hehe, saya juga baru sempat membaca komentar Mbak Ita :mrgreen:
      namanya juga anak-anak, Mbak πŸ˜†

  4. Mendadak Reuni | Segores Pena Phie

    24/09/2013 at 5:31 pm

    […] kenangan macam apa itu? Saya pernah menulisnya di awal-awal memulai blog ini (silakan menengok Inpres di Suatu Masa Masa). Sekolah kami memang awalnya berstatus di-instruksi-kan presiden (baca: inpres), maka orang-orang […]

Leave a Reply