Antara Kucing dan Gejala Absurd

Siapa bilang saya phobia kucing? Nggak, saya ga phobia kucing. Saya cuma suka LIHAT gambar kucing, selebihnya nggak. Bisa jadi itu berhubungan dengan piaraan saya di twitter: (gambar) seekor kucing besar (baca: macan) sebagai background. Segarang apapun si macan, kalau munculnya di gambar saja, itu AMAN buat saya. πŸ˜€

By the way, sejak kecil orangtua memang ga memelihara binatang kesayangan. Sejak dulu piaraan kami di rumah adalah yang bisa dijual, misalnya ayam, itik, lele, bekicot (buat pakan lele), angsa, bebek, kambing, dsb. Kucing? Ga pernah. Anjing? Apa lagi! Ibu saya ga suka bulu kucing, meski kami ga punya riwayat asma dan alergi bulu. Alasan beliau sesederhana itu.

Mungkin karena ga pernah pengalaman dekat dengan kucing, saya sesekali merasa terserang gejala absurd kalau berada dekat dengan kucing. Sialnya, gejala keabsurdan itu bertambah setelah saya mengalami beberapa kejadian ga menyenangkan di masa lalu. Nope! Ini bukan karena saya gagal move on. πŸ˜› Hmm, ini lebih pada rasa trauma yang tinggal dalam diri saya. Ga banyak, a bit bitter … tapi, cukup bikin keder.

Jadi, begini. Gejala absurd gegara kucing memang ga selalu muncul, sih, sesekali saja. Cuma, kalau sampai gejala itu muncul, berarti saya yang harus sesegera mungkin menyingkir dari si kucing. Harus!

 

Gejala 1. Ketika saya mulai mendengar suara kuku kucing yang digaruk-garukkan.

Siapa, sih, yang ga risih kalau dengar suara garuk-garuk? Apalagi melihat kuku kucing yang tajam-tajam begitu. Udah, deh, rusak semua perabotan dari kayu. Diloakkan? Siapa juga yang mau beli?

Gejala ini dipicu oleh kejadian di rumah seorang teman main saya. Waktu itu saya masih duduk di kelas 3 SD. Siang itu setelah kami main cebur-ceburan di sungai, saya mampir sebentar ke rumahnya. Nah, tanpa sengaja saya lihat si kucing piaraan teman saya itu santai banget garuk-garuk tiang kayu di depan mata saya. Ya ampun, suara dan hasil garukannya itu lho, bikin ngeres di telinga dan di hati! πŸ™

 

Gejala 2. Ketika saya melihat si kucing pipis di sembarangan.

Sudah kodratnya memang tiap makhluk hidup yang normal itu buang kotoran. Cuma kalau sampai buang kotoran di sembarang tempat, apalagi di benda-benda kesayangan kita … gimana, tuh? *ouch! πŸ˜₯

kucing kebelet pipis

credit (dengan sedikit modifikasi)

Saya teringat sebuah peristiwa ga enak, sekitar 5β€”6 tahun lalu. Saya pernah sangat sangat sangat *diulang 3 kali biar afdhol! πŸ˜› * kesal dengan yang namanya kucing, terutama si empu kucing. Jadi, waktu itu saya diundang untuk memberi les privat. Nah, ibu si siswa saya ini (sebut saja, Bu X) adalah seorang maniak kucing. Piaraan kucingnya banyak di rumah; mereka bebas berkeliaran keluar-masuk kamar si anak yang sedang saya kasih les. Awalnya, saya ga pernah ambil pusing. Toh, si kucing lewat saja. Bukan mau makan tote bag berisi buku-buku saya. Kan, ga ada ikan asin di situ! πŸ˜›

Well, semua terasa lancar saja selama tiga minggu pertama jadwal les di rumah tersebut. Meski tiap kali pulang mengajar, saya harus siap membersihkan diri dari bulu-bulu kucing yang menempel, saya anggap itu masih bisa ditolerir. Kecuali, suatu sore. Saya sedang membahas soal-soal persiapan UN SD. Waktu itu jadwalnya Bahasa Indonesia, saya ingat benar. Pembahasan soal baru sampai pertengahan, but you know what? Salah satu kucing jantan berulah. Tiba-tiba saja si kucing itu berjalan santai ke arah tote bag saya dan cuuur… dia pipis di situ!! Ya Allah Gusti! 😯 😯 😯

Si siswa sama terkejutnya dengan saya, tapi hanya bisa diam.

Saya bisa saja mencak-mencak dan membatalkan seluruh jadwal les yang tersisa. Butattitude! Untuk alasan inilah saya tetap cool, calm, and confident di depan siswa, meski dalam hati marahnya bukan main. Sebenarnya apa sih mau si kucing ini? Minta ditendang?!!! Minta ditimpuk?!!! Minta dibanting?!!! πŸ‘Ώ πŸ‘Ώ πŸ‘Ώ

Ugh, pikiran saya bisa kejam juga, ya? πŸ™

Kejadian itu memang menyebalkan, tapi jauh lebih menyebalkan ketika saya tahu reaksi Bu X (tentu setelah anak lelakinya melapor).

β€œOh, dipipisi ya, Mbak? Saya juga sering dipipisi waktu dia saya pangku.” begitu Bu X menanggapi.

WHAT??

😯 😯 😯 *melongo*

Batin saya, mau ga mau, me-nga-muk! πŸ‘Ώ πŸ‘Ώ πŸ‘Ώ

Ga bilang β€œdeeply sorry”, Bu? Itu piaraan Ibu lho, sementara saya tamu di sini. Kucing Ibu sudah bikin saya merasa absurd begini, Ibu ga bilang apa-apa? Saya ga minta dihargai berlebih, Bu, tapi tolong mengerti juga kalau ga tiap orang punya latar belakang yang sama: sama-sama pecinta kucing dan punya batas toleransi yang sama. Setidaknya tawarkan sesuatu supaya saya bisa nyaman singgah di rumah Ibu, mencucikan tote bag saya, misalnya, atau ….

β€œBoleh saya minta kantong plastik, Bu? Dua, yang cukup besar. Biar buku saya muat. Tas saya basah soalnya.” cuma kalimat itu yang berhasil saya katakan, yang lain tertahan dalam batin.

Sebagai seorang tutor yang berusaha bekerja profesional, saya ga pengin membeda-bedakan pelayanan. Akan tetapi, setelah jadwal les anaknya selesai, saya berjanji ga akan masuk rumah Bu X lagi!

Kapok? Enggak. M-A-L-A-S. Ogah terjebak absurd (lagi)! πŸ˜›

Itulah, dua gejala absurd gegara kucing yang harus saya hindari. Saya ga benci kucing. Ga juga phobia. Tapi, kalau saya sudah merasa harus menghindar, saya ga harus memaksakan diri untuk menghadapinya, kan? Itu lebih baik daripada saya mengamuk dan mencederai si kucing. Sayang kalau sampai saya mencederai sesama makhluk. Kucing juga berhak hidup damai, sama halnya manusia biasa seperti saya, keleus. πŸ˜‰

β€œPostingan ini diikutsertakan dalam 1st Anniversary Giveaway: Tunjukkan Keabsurdanmu”

1st-anniversary-giveaway

  1. Aldi Rahman

    28/07/2014 at 8:12 pm

    wkwkwk, buku saya juga pernah dikencingi kucing, kucing memang mesti di kasih pelajaran, adab buang air kecil dan buang air besar, supaya baunya tidak menggangu

  2. Daftar Peserta 1st Anniversary Giveaway | Aiendyu.com

    06/08/2014 at 8:41 am

    […] 40.Β Phie Judul: Antara Kucing dan Gejala Absurd URL:Β http://asree84.wordpress.com/2014/07/23/antara-kucing-dan-gejala-absurd/ […]

Leave a Reply