The Power of 'Duit Receh'

Ah, jumpa lagi di postingan pertama di bulan Syawal. Meski sudah terlambat beberapa hari, izinkanlah saya mengucapkan:

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H

Mohon maaf lahir batin atas segala salah dan khilaf saya selama ini, ya, Sahabat. Mudah-mudahan kita diberi kesempatan berjumpa kembali dengan Ramadhan dan Syawal tahun depan. Aamiin. 🙂

Oke, tema kali ini adalah duit receh. Duit receh? Awal bulan kok ngomong soal duit receh, sih? Hehehe iya, soalnya saya belum terima honor dari redaksi. Baru besok ketemu dengan beliau yang berkuasa atas uang honor saya (a.k.a bendahara). 😉 Posisi saya sering seperti ini: awal bulan, belum gajian, dan HARUS bertahan hidup. Jadi, dari sumber yang mana saya bisa bertahan? Tentu saja, dari duit receh dan saldo uang kas bulanan. Lalu, bagaimana dengan posisi uang hari ini? Pagi ini saya sudah mengecek. Awal bulan ini ada Rp10.100,00 duit receh yang bisa saya gunakan. Alhamdulillah, bisa buat tambah bekal jalan  8 km ke kantor besok. 😀

Nah, ngomong-ngomong soal si duit receh, dari sudut pandang saya, duit receh menyimpan kekuatan yang kadang disepelekan oleh orang-orang pada umumnya. Semoga saya dan Sahabat semua terhindar dari menyepelekan hal-hal kecil semacam ini, termasuk duit receh. Aamiin.

the power of duit receh

Jadi, apa saja, sih, the power of ‘duit receh’ bagi saya? Ini dia beberapa di antaranya. 😉

Pertama, sebagai dana penyelamat. Seperti yang saya sampaikan di awal, duit receh itu penyelamat saya, jika posisi awal bulan bertepatan dengan libur (seperti yang saya alami sekarang) sementara gaji belum turun. Sebenarnya saya bisa saja merogoh pundi lain yang di bank sana, tapi tidak saya lakukan. Sengaja, sih, untuk sebuah alasan sederhana: saya ga ingin keterusan ngutak-atik ATM—seperti kebiasaan orang pada umumnya.

Memang kenapa? Karena uang di tabungan hanya akan saya keluarkan jika saya dalam keadaan darurat; sementara keadaan saya yang semacam itu—awal bulan dan belum gajian—tidak saya kategorikan sebagai kondisi darurat. Lho, kok bisa? Ya, kan, uang untuk bulanan sudah dibagi-bagi buat apa saja dan disesuaikan berapa besarannya di awal bulan. Jadi, di akhir bulan yang saya terima sebagai duit receh adalah sisa transaksi selama sebulan.

Hmm, sadar atau tidak, kebiasaan sederhana macam ini (baca: pengelolaan keuangan) penting sekali, bahkan untuk yang masih lajang seperti saya. Dulu, saat saya belum bisa disiplin mengelola uang, saya sering keteteran. Meski sangat jarang berutang, posisi saya lebih sering tekor; ga punya saldo akhir bulan, uang di tabungan sering bobol. Ah, menyedihkan. 🙁 Lalu, setelah sadar bahwa cara saya keliru, mulailah saya benahi. Tentu, saya tidak hanya hidup untuk saat ini. Masih ada beberapa impian indah masa depan yang harus saya persiapkan sebaik-baiknya.

Oke, lanjut ke point kedua. Duit receh bagi saya juga bermanfaat untuk membangun dana sanggar belajar. Percaya tidak kalau saya menghimpun dana sanggar dari uang receh? Sebagai seorang tutor privat, saya tentu memerlukan back up dana untuk membeli tambahan buku materi/referensi, copy soal, beli kertas, alat tulis, perlengkapan sanggar, dsb. Di sisi lain, saya juga bermimpi mendirikan sanggar belajar di rumah orangtua. Jadi, anak-anak bisa datang ke sanggar, belajar bersama, baca buku, lalu diskusi bareng. Yang berniat ingin les privat dengan kami, juga boleh. Dengan begitu, belajar akan semakin menyenangkan. Seems good, right? 🙂

Dana yang kami sisihkan untuk keperluan sanggar sejauh ini adalah 10% dari honor privat saya dan adik. Sebagai contoh, katakanlah per pertemuan siswa SMP dihargai Rp30.000,00; maka 10% (Rp3000,00) akan masuk ke dana sanggar. Itu boleh dibilang duit receh, kan? Hampir mendekati tarif parkir mobil di ruas jalan tertentu di Jogja.

Lanjut ke point ketiga, ya. Duit receh juga saya gunakan untuk keperluan investasi lho! Investasi? Ah, masa iya bisa? BISA pake BANGET. Di tulisan saya sebelumnya yang berbau-bau uang dan investasi, saya pernah mengutip pernyataan para ahli soal investasi, “Mengapa harus berinvestasi? Karena menabung saja TIDAK cukup.”

Saya punya sebuah hal sederhana untuk direnungkan sejenak.

Masing-masing dari kita pasti punya pengalaman ini. Sahabat semua ingatkah, pernah makan kue/jajanan jaman masih kanak-kanak dulu, lalu menemukan bahwa dengan harga yang sama ternyata ukuran si kue/jajanan itu mengecil saat ini?

Masih ingat?

Nah, itu dia, sebagian dampak dari inflasi yang disadari atau tidak, tapi benar-benar terjadi! Dengan kata lain, kasus ‘mengecilnya ukuran’ kue/jajanan di atas menandakan bahwa ada kenaikan harga bahan baku yang harus disiasati oleh pelaku industri makanan dengan cara mengecilkan ukuran produk.

Itu dilihat dari sudut pandang produsen, ya. Lalu, bagaimana dengan kita sebagai konsumen?

Ada kasus lain: rajin menabung selama beberapa tahun, eh, ternyata tidak cukup untuk mewujudkan impian masa depan. Ah, lagi-lagi, alangkah menyedihkan. 🙁

Jadi, harus bagaimana supaya uang kita tidak begitu saja tergerus inflasi? Diputar saja, jadikan uang itu modal untuk para pelaku ekonomi di luar sana.

Eh, tapi kan investasi butuh modal besar. Hei, siapa yang bilang investasi itu harus selalu dengan modal besar? Tidak juga. Contohnya, reksadana. Saat ini kita bisa membeli reksadana mulai dari harga Rp100.000,00 saja. Jadi, katakanlah mau investasi reksadana Rp100.000,00 per bulan (dihitung 1 bulan = 30 hari), maka, saban harinya cukup menyisihkan duit receh sebesar Rp3500,00. Ringan, kan sebenarnya? Asal mau disiplin, lho. 🙂

Ya, begitulah the power of ‘duit receh’ ala saya. Seperti apapun sepelenya, ingat selalu nilai penting duit receh. Bukan sekadar buat kerikan kalau masuk angin, lho … 😛 tapi, ingat juga, kurang Rp100,00 saja, uang kita yang Rp1.000.000,00 tidak akan pernah genap. Semoga bermanfaat. 🙂

  1. belalang cerewet

    03/08/2014 at 6:04 pm

    Sepakat banget. Receh atau buukan, harus kita syukuri. Adanya adalah nikmat. Semoga sanggar yang dicita-citakan bisa terlaksana 🙂

    1. Phie

      13/08/2014 at 5:25 pm

      Seberapa pun nominalnya rejeki yang dikasih Gusti Allah, wajib disyukuri. Kan gitu, Om. Aamiin. Matur nuwun doanya. Semoga bisa segera terlaksana. 🙂

  2. fandhy

    03/08/2014 at 11:34 pm

    bagus ini idenya… nyiapin duit receh buat masa depan… ibarat kata orang dulu “sedikit demi sedikit lama lama menjadi bukit”

    1. Phie

      13/08/2014 at 5:26 pm

      terima kasih. ada ide bagus lain buat tambahan? 😀

  3. Yessi

    13/08/2014 at 11:55 am

    Inget pepatah save the pennies, so the dollars will save you klo gak salah nulisnya.. Hehe.. Betul mbak, jangan sepelekan uang receh. Salam kenal

    1. Phie

      13/08/2014 at 5:28 pm

      Halo, Mbak Yessi, salam kenal kembali 🙂
      Bener itu, save the receh, so the rupiah will save us 😀

  4. Wisanggeni

    23/08/2014 at 10:17 pm

    setuju soal Reksadana. Sayang masih banyak yg belum investasi di Reksadana.

Leave a Reply