Secuil Kisah di Balik Sound of Love “Sejejak Kamu”

Saya percaya, cara menikmati puisi tidak melulu dilakukan dengan membaca atau menulis. Kadang kala melakukan usaha lebih, bisa meningkatkan ‘rasa nikmat’ sebuah puisi. Mungkin itu yang juga diharapkan oleh panitia penyelenggara Sound of Love. Ya, dalam rangka ulang tahun keempat, penerbit LeutikaPrio mengadakan kompetisi puisi bertema Unbreakable Love. Saya kurang tahu kapan pengumuman ini dirilis. Yang jelas, event ini digelar hingga 30 November 2014 lalu.

Sound of Love
pengumuman Sound of Love

Sesaat saya menemukan pengumuman lomba ini di TL twitter pertengahan bulan November 2014, saya segera mem-favorite-nya sembari berharap di sela finishing layout terbitan (yang tidak kunjung kelar), saya masih bisa refreshing sejenak, menulis beberapa larik puisi dan merekamnya di rumah. I do hope so. 🙂

Seminggu menjelang tenggat, saya mulai memoles sebuah draft puisi yang saya beri judul “Tentang Kamu dan November Rain”. Well, bulan November kemarin hujan memang mulai menderas di kaki Merapi, kadang malah beberapa jam tak reda. Hmm, inspirasi Unbreakable Love datang dari hujan? Bolehlah disebut begitu. 😉

Sambil memoles kalimat-kalimat puisi tersebut, saya mulai mencari musik pengiringnya. Mau saya akustik gitar lagu November Rain-nya Guns N Roses. Ketemu? Ya. Setelah menelusur beberapa video di YouTube, lagu itu berhasil saya unduh versi .mp3-nya. Senang, tentu saja. 😆 *nyengir*

24 November 2014. Puisi sudah siap direkam. Sejak sore saya mencari moment yang pas. Maklumlah, saya tak punya studio rekaman sendiri di rumah. Semua rekaman puisi saya proses dengan sarana seadanya. Alhamdulillah, malam itu suasana rumah hening. Malam dingin selepas hujan deras sepertinya membuat orang-orang (yang sering berlalu-lalang di jalan depan rumah) enggan keluar.

“Let’s do it!” teriak saya kegirangan dalam hati.

Merekam suara sendiri tidak terlalu sulit, yang penting ada sarananya. 😉 Alat bantu saya adalah laptop, headset ponsel yang disambung ke laptop, dan media perekam. O ya, dua hal lagi: artikulasi saat membaca puisi dan suasana hening. Yang terakhir ini penting sekali. Bukan apa-apa, supaya suara rekaman puisi jernih, tidak berisik/bising. Usai merekam suara, dilanjutkan dengan menyesuaikan musik pengiring, baru kemudian masuk proses mixing. Ya, musik pengiring akan turut membangun nyawa sebuah puisi, kadang juga sedikit mendramatisir, hehehe.

Saat proses penyesuaian musik dengan suara, saya harus mengganti musik pengiringnya. Sayang sekali, November Rain unduhan dari YouTube urung saya gunakan. Beat-nya masih terlalu cepat jika disandingkan dengan suara rekaman saya. Jadilah, saya obrak-abrik koleksi musik di laptop. Pilihan jatuh di antara Depapepe dan Brian Crain. Bingung beberapa menit, tetapi alhamdulillah kedua telinga menjatuhkan pilihan pada Evergreen karya Brian Crain. Judulnya pun saya ubah menjadi “Sejejak Kamu“. Jadilah, hasil akhirnya seperti yang saya unggah di akun SoundCloud berikut ini:

***

Hari berlalu. Usai mendaftarkan diri sebagai peserta via e-mail, saya tak mengutak-atik lagi si rekaman. Jarang pula mendengarkan rekaman online di SoundCloud karena koneksi internet lebih sering down sejak itu. Namun, saya cukup senang menyetelnya di windows media player sebagai teman menulis, apalagi jika hujan turun di luar rumah. Hihihi berasa singgah di sebuah tempat bernama Melllow Corner. *iish, mengkhayal! 😛

Seminggu jelang pengumuman Sound of Love, saya mulai kepikiran. 😆 Kalau sudah begitu, saya bisa sangat usil dan cuat-cuit semau saya. 😛

***

19 Desember 2014. Hari itu pengumuman. Saya malah tidak begitu berminat melihat hasil kompetisi tersebut lekas-lekas; setengah pasrah dan tidak berharap menang, hehehe. Lha, memang, kalau saya terlalu berharap, begitu saya tahu kalau saya kalah, pastilah yang ada kecewa. Saya ulur waktu hingga sehari kemudian. … dan tahukah apa kejutan di 20 Desember itu?

pemenang Sound of Love, LeutikaPrio

Alhamdulillah, nama saya terpilih sebagai pemenang kedua. Benar-benar tidak menyangka. 😥 *speechless, sukses terharu*

***

Ah, begitu banyak bonus kebahagiaan yang Gusti Allah SWT karuniakan untuk saya di tahun 2014, alhamdulillah. Semoga di tahun baru 2015 ini akan bertambah lagi kebahagiaan, keberkahan, kemanfaatan diri. Aamiin. Happy Monday, Pals! 🙂

9 thoughts on “Secuil Kisah di Balik Sound of Love “Sejejak Kamu”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *