Antara Redaktur, Tutoress, dan Food Combiner

Food combining. Dua kata ini baru setengah tahunan akrab di telinga saya. Bagaimana hingga saya membulatkan niat bergabung menjadi food combiner (FCer)? Alasan pertama, karena saya tertarik untuk sehat jangka panjang. Sahabat yang sering dolan ke Segores Pena Phie mungkin tahu bahwa saya menderita dermatitis. Selain itu, saya juga punya alasan lain: riwayat penyakit diabetes dalam keluarga, dari kedua pihak Bapak dan Ibu. Ya, 15 tahun lalu Bapak meninggal karena komplikasi: diabetes yang menjalar ke liver dan jantung. Sementara, Ibu saat ini juga mengalami peningkatan kadar gula darah karena faktor usia dan pola makan yang kurang baik di masa lalu.

Boleh dikatakan, risiko saya besar. Kalau saya tidak berhati-hati mengelola gaya hidup, terutama pola makan, mau jadi apa saya? Ada keinginan juga agar Ibu, orangtua saya yang tinggal satu-satunya itu, menjalani masa senja beliau dengan bugar. Tentunya dengan tetap teratur melakukan kontrol kadar gula darah, asam urat, tensi, dan kolesterol.

Kedua alasan itu diperkuat dengan pengalaman dua bulan sebelum saya memutuskan ber-FC (sekitar Oktober-November 2014). Saya dilanda ‘krisis energi’. Iya, rupanya bukan hanya bumi yang bisa mengalami krisis energi, tubuh juga bisa. Ini berkaitan dengan rutinitas saya sehari-hari. Pagi-sore 5 hari kerja saya di redaksi; masih disambung dengan jadwal mengajar les privat usai ngantor, seminggu 7 hari.

Yang mengherankan, bagaimana mungkin saya bisa ‘krisis energi’, lha wong makan saya juga banyak dan cukup bervariasi? Herannya lagi, dengan asupan yang cukup, saya hanya bisa produktif di jam-jam sebelum makan siang. Setelah makan siang? Ngantuk berat! 😥 Padahal semestinya di jam-jam itu saya bisa melakukan editing layout artikel jurnal, tapi kalau badan saya seperti kehabisan energi, gampang ngantuk, berarti ada yang harus dikoreksi.

Saya mungkin bisa sedikit berlega hati jika ‘krisis energi’ di kantor itu tak merembet ke jadwal mengajar. Kenyataannya tidak seperti yang saya harapkan. Dalam dua bulan itu, saya sering minta izin tidak datang ke rumah siswa karena merasa sakit, lemas, dan lelah (baca: kehabisan energi). Ditambah lagi di akhir pekan, jadwal saya terkapar di kasur. Sudah macam bohlam lampu 5 watt, redup! *alamak! 😥

Alasan itulah yang mendorong saya mencari formulasi makan terbaik untuk tubuh saya (syukur-syukur untuk keluarga kami). Maka, ketika saya menemukan sebuah artikel kesehatan di portal berita Yahoo! Indonesia soal pola makan sehat food combining, saya mulai mencari tahu.

Dalam artikel itu disinggung nama suhu Erikar Lebang, suami dari Nina Tamam (salah seorang personel grup musik Warna). Lagi-lagi ini soal ‘kepo’. Dengan penuh rasa ingin tahu, saya pun menelusur tulisan Erikar Lebang di blog bernuansa merah jambu-nya.

Well, saya mulai mengerti, tetapi belum merasa yakin harus memulai langkah. Oleh sebab itu, saya mulai mengulik beberapa sumber lain terkait food combining. Dalam perjalanan ‘menjadi mengerti’ itu, ada istilah lain yang muncul, seperti misalnya ritme sirkadian (circadian rhythm), makanan asam-basa (acid-alkaline diet), enzim, hingga raw food. Lumayan bikin saya pusing hehehe 😆

Ritme sirkadian pernah saya baca, tetapi itu berupa bahan kuliah, pun kaitannya dengan serangga. Bagaimana dengan manusia? Sama atau berbeda? Hmm … *garuk2kepala* ❓

Makanan asam-makanan basa? Setahu saya, soal pH ini hanya dibahas di lingkup ilmu yang berkaitan dengan kimia. Eits, makanan yang kita konsumsi pun ternyata bisa juga digolongkan menjadi dua karakter ini! Setelah menjenguk artikel di The A-A-A Diet, saya baru mengerti benar pentingnya menyeimbangkan kombinasi asam-basa makanan. Dengan kombinasi yang serasi, kerja enzim tubuh pun akan optimal. Ooh, jadi begitu?

Raw food? Bicara soal makanan mentah, setahu saya cuma jus buah, jus sayuran, juga lalapan. Itupun sangat terbatas jenisnya. Apalagi dalam keseharian, mengonsumsi lalapan bukan budaya keluarga saya. Hehehe orang Jawa, terutama Jogja, identik dengan makanan olahan manis. Lihat saja makanan khasnya: gudheg, geplak, bakpia, yangko, dsb. Semua dengan cita rasa manis. Belum lagi kebiasaan minum teh, kopi, cokelat, juga susu (yang tentunya ditambah gula atau pemanis lain). Waduh, apa bisa saya istiqomah menjalankan pola makan sehat ini? Saya harus berusaha, agar niat menjadi sehat jangka panjang tidak sekadar impian.

Yang saya perlukan adalah tetap berjalan langkah demi langkah. Bismillah, terhitung mulai Desember 2014, saya jadikan FC bagian dari hidup saya. Lalu, apa yang terjadi kemudian? Sehari, dua hari, … saya dipandang aneh.

“Nanti gak tambah kurus, Mbak?” tanya Maylia, teman sesama redaktur.

Kekhawatirannya sangat beralasan. Badan saya memang kurus. Beberapa teman lain bilang, saya malah tambah kurus setelah beberapa tahun berkutat di redaksi. 😆

Tiga hari ber-FC, saya disodori menu makan siang gratis dari ruang sebelah. Sayangnya, menu tersebut adalah yang paling gak boleh di FC: karbohidrat + protein hewan. Aduh! Mau ditolak, rejeki. Ditolak, dianggap sombong, milih-milih makanan. Akhirnya saya makan saja karbohidratnya dulu. Si lauk saya makan tiga jam kemudian. 😛

Dalam tiga hari pertama, badan saya sudah mulai enteng, tidak mudah merasa lelah dan ngantuk. Wow, kemajuan! Meski begitu, saya merasa ukuran lingkar pinggang saya agak menyusut. Hmm, tapi saya tidak ingin berhenti. Saya mau sehat, soal bobot badan ideal akan menjadi bonusnya nanti. 😀

Well, niat ini tentu tidak tanpa halangan. Sebagai tutor privat, saya berhadapan dengan budaya menjamu tamu di Indonesia. Meski saya tidak pernah membiasakan diri ngeteh atau ngopi, di rumah siswa saya akan menjadi bagian dari penikmat teh atau kopi. Susah ya kalau saya minta disuguh air putih saja? Hehehe 😛

Alhasil, di jam-jam mengajar (pk.17.00 s.d. 18.30) saya terpaksa cheating, sekadar menghormati orangtua siswa yang sudah repot membikinkan suguhan untuk guru les anak mereka. Supaya si cheating tidak menimbulkan banyak masalah, saya menyiasatinya dengan makan malam sayur mentah setibanya di rumah. Soal cheating di rumah siswa ini, saya berharap hanya sementara saja. Bulan depan, saya akan membicarakan kebiasaan saya ini kepada para orangtua siswa supaya jadwal cheating bisa lebih teratur. Mudah-mudahan beliau semua mau mengerti. 🙂

Inilah susah-senangnya menjadi redaktur jurnal sekaligus tutor privat yang ber-FC. Bagaimanapun orang lain menganggap saya terlalu repot, aneh, that’s okay … saya cukup duduk tenang, menyiapkan makan, sembari bilang, “Terima kasih, mari ngramban dulu. Mbeeek!” 😆

foodcombiningbannergiveaway1

4 Comments

  1. wyuliandari

    07/03/2015 at 8:50 pm

    Salam Mbeeek, eh?
    Baru tahu dirimu juga fc-er mbak 🙂 Semoga makin sehat. Btw ngantuk usai makan siang, masihkah? Aku justru setelah ber FC kebiasaan tsb menjadi-jadi. Eh ternyata normal aja, bahkan hiromy shinya menyarankan power nap, tidur siang sejenak pasca maksi, 10 menit juga cukup. Hasilnya suegerrrr… eh? kok malah aku ngobrol.

    Thanks sudah berbagi. Terimakasih juga sudah meluangkan waktu mnegikuti GA perdana ini. SAlam hangat 🙂

    1. Phie

      14/03/2015 at 6:05 am

      Salam mbeeek, Mbak Wid :mrgreen:
      Saya masih baru gabung di FC, Mbak. Aamiin, semoga kita sama-sama selalu sehat.
      Soal ngantuk, masih, tapi alhamdulillah sudah gak separah sebelum FC. Iya, hbs maksi beberapa menit bisa merem, terus melek n badan pun seger. Jadi, bisa lebih produktif gitu hehehek

      Senang bisa berbagi, Mbak Wid. Pengen juga dolan ke tokbuk beli buku FC-nya Mbak Wid. 😉 Semoga buku2 selanjutnya juga sukses 🙂

  2. Lidya

    14/03/2015 at 1:06 pm

    tantangannya pasti ada ya kalau mau ikut FC.

    1. Phie

      16/03/2015 at 7:00 am

      Pasti banyak, Teh Lidya 🙂 Belajar tahan komentar miring, tahan banting hehehe

Leave a Reply