Yang Mungil, Yang 20 Tahun Bersama

Beberapa siswa saya pernah bertanya hal-hal menggelikan. Dasarnya anak-anak, ya, selalu ada saja caranya untuk penasaran dan mencari tahu. Sebut saja Rifa, usianya baru 6 tahun. Meski kini ia sudah tidak lagi saya dampingi, ada sebuah ingatan soal Rifa yang kadang membuat saya tertawa geli. Bisa begitu? Ya.

Jadi, begini ceritanya ….

Sore itu seperti biasa saya datang ke rumah orangtua Rifa. Jaraknya sekitar 2 km dari rumah. Kebiasaan saya kalau belajar dengan anak-anak pasti ada saat-saat jeda. Sekadar ngobrol ringan dan bercanda, tentu saja supaya suasana belajar tidak membosankan. Tahukah apa yang Rifa tanyakan kepada saya?

“Mbak Jatu kan belum nikah, kenapa pakai cincin?”

Rada kaget juga saya mendengar pertanyaan itu; lalu sebisa mungkin saya menjelaskan soal cincin mungil yang melingkar di jari manis tangan kiri. 

“Mbak Rifa, perempuan yang sudah menikah biasanya memakai cincin. Tapi, yang Mbak Jatu pakai ini bukan cincin kawin. Ini pemberian Ibu. Waktu itu Mbak Jatu masih kelas 5 SD. Karena masih muat, ya sudah, dipakai sampai sekarang.”

Senyum lebar saya di ujung kalimat tersebut disambut dengan “oh” panjang Rifa.
Ah, namanya juga anak-anak. 😉

***

Well, sebenarnya bukan cuma Rifa yang pernah melontarkan pertanyaan serupa soal cincin yang saya pakai. Kakak angkatan, teman KKN, siswa lain yang tidak kalah curious-nya dengan Rifa pernah juga bertanya. Mungkin menurut mereka saya ini antik, pakai cincin dengan ukuran mungil; sementara orang kebanyakan punya selera yang lain dengan saya. Lha, memangnya kenapa? 😛

si cincin mungil
si cincin mungil

Entah, saya tak tahu pasti apa yang membuat saya begitu suka dengan cincin pemberian Ibu ini. Mungkin karena bentuknya yang sederhana dan manis. … dan meski tahun ini telah mencapai angka 20 tahun, saya bahkan tidak terpikir untuk menjual atau menukar tambah dengan cincin berukuran lebih besar/berat. Yang terpikir di benak saya justru menyimpan emas dalam bentuk batangan; biar ukuran gram-nya tidak berkurang. Hehehe. 😆

O ya, sesuai pengalaman, saya hampir tidak pernah cocok memakai perhiasan berukuran besar. Dulu saat saya duduk di bangku SMP kelas 3, Ibu membelikan subang emas bermata mutiara. Masing-masing dengan dua mata mutiara. Apa yang terjadi kemudian? Subang sebelah kanan jatuh saat saya berolahraga. Apesnya lagi si subang tidak pernah ketemu sampai hari ini. Ouch! 🙁

Sejak itu subang sebelah kiri saya kembalikan kepada Ibu, biar disimpan saja. Saya matur Ibu,

“Saya mau dibelikan perhiasan emas, tapi yang ukurannya kecil saja, Bu.”

Jadilah, sampai hari ini saya hanya memakai perhiasan yang kecil-kecil saja. Lagipula badan mungil begini bakal kontras kalau saya paksakan memakai perhiasan yang berlebih ukurannya. Iya, kan? 🙂

  1. Lidya

    18/05/2015 at 9:26 am

    awet juga ya cincinnya. Cincin kawinku aja udah gak bisa dipakai karena longgar 🙂

    1. Phie

      27/05/2015 at 7:00 am

      iya, Mbak, diawet-awet bener. baru waktu sekolah SMP apa ya si cincin itu mulai dakpakai setiap hari. jaman SD disimpen aja hehehe

  2. apikecil

    18/05/2015 at 11:15 pm

    Mbaaak, aku suka sekali judulnya. Sederhana namun manis sekali, seperti cincin yang menemanimu selama 20 tahun ini. Salam sayang dari Jember :*

    1. Phie

      27/05/2015 at 7:01 am

      Priiit, iya, yang sederhana dan manis itu selalu bikin berkesan.
      Salam sayang balik dari kaki Merapi :*

Leave a Reply