Homemade 'Thokolan'

Bisa jadi ada di antara Sahabat yang buru-buru mengernyitkan dahi saat membaca judul postingan kali ini. Hmm, iya, mana ada sih kata ‘thokolan’ dalam bahasa Inggris? Hahaha. Tapi, kalau saya bilang ‘sprout’ atau ‘kecambah’, pasti Sahabat semua paham apa yang saya maksud. Ya, benar, thokolan dalam bahasa ibu saya adalah kecambah. Berasal dari kata ‘thukul’ tanpa Arwana, yang berarti tumbuh. Akhiran –an yang ditambahkan di belakang kata tersebut menunjukkan bahwa benda yang dimaksud ini sedang tumbuh alias berkecambah.

Nah, karena usai cek EKG, saya diwanti-wanti dr. Pingky untuk banyak mengonsumsi biji-bijian atau menu yang kaya vitamin B, maka salah satu hal yang saya lakukan selain mengonsumsi biji-bijian utuh (wholegrain) adalah membuat kecambah di rumah. Membuat? Mungkin, lebih pas jika saya sebut ‘menumbuhkan biji dan memanen kecambahnya’, ya. Hihihi.. (((KEPANJANGAN istilah))) 😆

Apapun istilahnya, hayuklah kita tengok cara sederhana membuat kecambah a la dapur Yu Pulen. 😀 

Bahan-bahan:

½ cangkir biji kacang hijau (atau sesuai kebutuhan)
air bersih secukupnya

Cara membuat:

  1. Cuci bersih biji kacang hijau dan rendam dalam air selama semalam.
  2. Setelah direndam semalam, biji-biji kacang akan mekar. Pindahkan biji-biji tersebut ke wadah yang memiliki lubang-lubang kecil. Pastikan besar lubang pada wadah tidak melebihi besar biji.
  3. Siram biji tersebut dengan air, lalu tempatkan di dalam wadah yang lebih besar(boleh baskom, panci, dsb).
  4. Tutup rapat bagian atasnya dengan kain. Saya menggunakan dua lapis kain agar lebih hangat. (((Selimut kalii!))) 😆
  5. Siram biji dengan air bersih setiap 6 jam sekali. Jika cuaca sedang panas, rentang waktunya bisa diperpendek menjadi 3 jam sekali. Setiap kali menyiram, keluarkan wadah biji dari wadah yang lebih besar. Selesai disiram, masukkan kembali ke tempat semula, tutup rapat, dan simpan di ruang gelap/tidak terpapar cahaya langsung.
  6. Lakukan hal pada poin 5 selama 2 hingga 3 hari.
  7. Kecambah pun siap panen.

homemade sprout

Panen harus dilakukan dengan hati-hati agar kecambah tidak rusak. Saya biasa menggunakan bantuan air keran saat memanen, sehingga kulit biji dapat lebih mudah lepas. Setelah bersih, tiriskan, simpan dalam wadah tertutup. Stok kecambah akan lebih tahan lama jika disimpan dalam suhu dingin/lemari es. Jadi, sewaktu-waktu ingin memasak si kecambah, kita sudah siap bahan.

kecambah siap disimpan :D
kecambah siap disimpan 😀

O ya, jangan buang kulit biji kacang hijau yang terlepas saat pencucian. Memang bisa buat apa? Kalau saya sih, saya kumpulkan lalu dilumatkan. Campuran ini bisa digunakan untuk eksfoliasi kulit muka dan badan bersamaan dengan mandi. Cara memakainya mirip dengan memakai lulur mandi. Dalam kondisi kulit masih kering, balurkan kulit biji yang sudah dilumatkan tadi ke seluruh tubuh, sambil digosok-gosok. Bilas dengan air, lalu mandi seperti biasa. Kulit pun terasa bersih dan halus. 😀

Nah, sederhana bukan cara membuat kecambah a la dapur Yu Pulen? Selamat mencoba, semoga bermanfaat. 😉

5 thoughts on “Homemade 'Thokolan'

    1. Iya, ini tauge, Kang. Tidak hanya baik untuk pria, kecambah juga mengandung fitoestrogen yang baik juga untuk kesuburan perempuan.:D

      O ya, fyi, cara di atas juga bisa digunakan untuk mengecambahkan biji-biji lain, yang sekiranya ingin dikonsumsi. Gampang sekali. Mangga atuh, silakan dicoba.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *