Berkenalan dengan Daluang

Ada yang spesial di akhir pekan pertama bulan Februari 2017 ini. Apa itu? Workshop Clutch Bag Daluang dan Doodle di Pesona Jogja Homestay. Informasi acara ini saya peroleh akhir Januari saat tak sengaja membaca salah satu postingan rekan blogger ibukota, mbak Waya Komala. Ah, setelah tahu acara ini gratis, rasanya seperti mendapat rejeki nomplok, senangnya minta ampun. Maklumlah, sudah beberapa bulan saya vakum dari kegiatan offline bareng teman-teman blogger. Jadilah, sekalian temu kangen.

woro-woro workshop daluang (credit: IG @KriyaIndonesia)
woro-woro workshop daluang (credit: @KriyaIndonesia)

***

Hari H pun tiba, 4 Februari 2017. Saya terpaksa terlambat karena nyasar, padahal sudah meluangkan cukup waktu dari rumah. Nasib blogger nggunung, kalau ke kota sering nyasar. *duh! Sesampai di lokasi, acara sudah dimulai. Dipandu oleh mbak Astri Damayanti, kami berkenalan dengan seorang ahli kertas asal negeri Sakura, Prof. Ishamu Sakamoto. Dari pemaparan beliau berdua, saya memperoleh informasi tentang bahan utama workshop: daluang. 

workshop daluang jogja
para pemateri workshop

Daluang—dalam istilah Jawa, “dluwang”—merupakan tekstil yang terbuat dari kulit kayu, atau lebih gampang disebut ‘kain kulit kayu’. Meski perkembangan daluang belum sepesat batik, namun, keberadaan daluang saat ini mulai mendapat perhatian publik.

Yang khas dari daluang adalah proses pembuatannya. Berbeda dengan proses pembuatan kertas pada umumnya, daluang  tidak melalui proses pembuburan. Untuk menghasilkan daluang ukuran 90 cm X 2 m, perajin membutuhkan sekira 255 lembar kulit kayu yang ditumpuk lalu dipukul-pukul dengan alat dari batu. Penempaan dilakukan sebanyak tujuh tahap, sebelum kulit kayu mengering.

Karena prosesnya yang rumit, daluang termasuk jenis tekstil mahal. Ada yang per cm² dihargai hingga Rp 100.000,00, bahkan ada pula yang hitungannya per mm²; tergantung dari jenis kulit kayu yang digunakan. Selain harga, warna daluang juga sangat dipengaruhi oleh jenis pohon yang dipakai. Misalnya, kulit kayu saeh (sejenis mulberry) akan menghasilan daluang berwarna putih; sementara kulit kayu beringin menghasilkan daluang berwarna gelap.

***

Pengantar workshop yang ringan dan manis, membuat saya semakin penasaran, “Seperti apa nantinya si daluang jika dibuat menjadi clutch bag?”

Rasa penasaran saya terjawab saat panitia membagikan bahan pembuatan clutch bag.

bahan-bahan clutch bag
bahan-bahan clutch bag

Spon hati (hitam) digunakan sebagai dasaran clutch bag. Kain biru sebagai pelapis luar. Vuring jenis tricot sebagai pelapis dalam. Daluang disemat di bagian tutup clutch bag, dan tak lupa, kancing magnet. Jadi, kami menjahit? Tentu saja! Tidak ada penggunaan lem tembak di acara ini, seperti yang sering saya lihat di video DIY lifehack. Workshop ini didukung oleh mesin jahit Brother. Sekalian perkenalan dengan mesin jahit seri GS2700 dengan 27 jenis jahitan. Wah, banyak ya?! Iya, dan pastinya beda dengan mesin jahit milik Ibu di rumah. Saya yang biasanya menjahit dengan menggenjot, agak kagok juga saat harus menyesuaikan kecepatan menjahit dengan dinamo. Mak whussh, begitu lho! 😆

mesin jahit Brother GS2700
mesin jahit Brother GS2700, partner kami

Nah, bagian yang paling penting adalah mengenal step by step pembuatan clutch bag. Tentunya agar saya bisa mengulangi membuat yang serupa di rumah. Ini dia langkah-langkahnya:

1. Sematkan kain pelapis luar pada spon dengan jarum pentul. Jahit di bagian kiri, kanan, dan bawah.

2. Lapisi spon di sebaliknya dengan kain vuring, lalu setrika agar melekat dengan spon.

3. Lipat untuk menyesuaikan posisi kancing magnet. Sematkan bagian dasar kancing pada badan spon sesuai perkiraan posisi. Buat lubang dengan bantuan pendedel.

4. Sematkan daluang pada bagian spon yang tersisa lalu jahit dengan tusuk hias di ketiga sisinya.

5. Lipat spon dengan bagian luar di dalam. Jahit sisi kiri dan kanan sehingga menimpa vuring. Setelahnya, balik spon lalu pasang kancing magnet pada tutup clutch bag.

Taraa…. clutch bag daluang siap! Agar lebih cantik, daluang bisa dilukis.

beberapa langkah membuat clutch bag
beberapa langkah membuat clutch bag

***

Sesi kedua, doodling, dipandu oleh mak Tanti Amelia. Sebelum memulai men-doodle, kami diajak untuk melemaskan jari. Selama tiga menit pertama, kami diminta untuk menggambar ekspresif. Apapun yang terlintas di pikiran saat itu, boleh digambar. Setelahnya baru masuk sesi doodling. Kami menggambar di media kertas mengikuti arahan mak Tanti. Berawal dari coret sana sini. Akhirnya selesai juga karya kami, bertajuk “Jogja in the Future”.

Sayang sekali, kami kehabisan waktu. Doodling di media daluang tak sempat dipraktikkan, tapi saran mak Tanti akan saya ingat: melukis daluang akan lebih bagus hasilnya jika menggunakan cat akrilik. Oke noted, Mak.

hasil doodling kami (credit: Lusi Tris)
hasil doodling kami (credit: Lusi Tris)

Sesi doodling maupun sesi menjahit, sama-sama berkesan bagi saya. Terima kasih untuk kesempatannya ngangsu kawruh, Mbak Astri, Prof. Sakamoto, Mak Tanti. Semoga lain kesempatan bisa berjumpa lagi. 🙂

Leave a Reply