REBORN

Hai, Sahabat! Lama juga ya saya vakum dari blog ini, sebulan lebih. Mau dibilang terlambat posting, ya, memang sih. Saya benar-benar melewatkan Januari tanpa say Happy New Year atau sekadar posting laporan kemajuan. Alih-alih melaporkan kemajuan blog, saya justru memlilih untuk terlahir kembali (baca: reborn). Yupe, per 20 Januari 2016 blog Segores Pena Phie berganti

Elektrokardiogram Pertama

Ruangan tunggu Puskesmas Ngaglik I sedang ramai hari itu. Usai mendaftar, saya pun (berusaha) tenang menunggu panggilan. Duduk di antara pasien lain ditemani ponsel. Online. Ibu jari sibuk menekan tombol ‘read more’ di sebuah website tentang parenting. Tumben, pagi itu saya tak membawa buku. Di antara harap cemas, pikiran saya menguatkan diri. Bahwa bagaimanapun saya

Di Balik #RI70: Balada Paduan Suara

Tahun ini boleh dibilang tahun nekat buat saya. Lha gimana enggak? Seingat saya, terakhir kali saya naik pentas sebagai dirigen paduan suara adalah tahun 2003; itupun menggantikan posisi Ning yang sakit pas hari H. Selepas tahun 2003, saya hanya berani mengurusi anak-anak di belakang layar, terutama saat latihan. Sesekali memberi mereka kejutan dengan suara lantang

Kemarau, Blanggreng, dan Sepenggal Kenangan

Saya ingat, hari itu adalah awal mula musim kemarau. Udara pagi di kaki Merapi  jauh lebih dingin dari biasanya. Dulu, Simbah Uti sering mengatakan saat-saat seperti itu dengan bedhidhing. Bukan cuma soal udara dingin, ada kenangan lain yang tidak akan pernah saya lupa. Ya, kemarau juga berarti waktunya bunga-bunga kopi di kebun Simbah bermekaran. Wangi