Ketika si Lajang Belajar Mengasuh

Lajang belajar mengasuh? Hei, tak perlu mengernyitkan dahi begitu ah! Saya selalu berpikir bahwa kepiawaian ibu dan ayah mengasuh anak-anaknya tentu tidak begitu saja menclok di kedua tubuh mereka saat masih melangsungkan akad nikah lalu para saksi mengatakan, “Sah!” Juga, kedua tangan tidak bisa begitu saja luwes menggendong bayi mungil (apalagi masih merah), tanpa membiasakan diri sebelumnya.

Bagi saya pribadi, belajar mengasuh adalah cara saya untuk mengasah kepekaan hati dan rasa saya sebagai emak wannabe yang insyaAllah kelak pun menjadi seorang ibu. Mengasuh memerlukan hati dan rasa; di situ juga kesabaran dan ketelatenan diuji. Pengalaman semacam inilah yang membuat saya kian betah berada di dekat anak-anak.

Seperti yang terjadi akhir tahun 2012 lalu. Ada pasutri yang menyewa kamar kost di belakang rumah kami. Karena kesibukan, mereka pun menitipkan putranya yang masih berusia dua bulan untuk diasuh selama si ayah-ibu tidak di sampingnya. Sebenarnya, ibu saya yang dititipi si kecil (bernama Hafiedz, red.). Namun, saya sering juga membantu beliau semisal ibu ada tanggungan lain yang tak bisa ditinggal.

Pada awalnya, saya hanya berani menggendong Hafiedz mungil dalam pangkuan. Namanya bayi masih dua bulan ya, posisi menggendongnya baru boleh seperti itu. Lihat deh, si mungil ini tampan ya? Saya serasa menjadi emak betulan! *mengkhayal 😛 😆

baby Hafiedz terlelap di pangkuan saya
baby Hafiedz terlelap di pangkuan saya

Dengan hadirnya Hafiedz di antara kami, kian bertambah pula pengalaman saya. Pengalaman praktik ini tidak lepas dari pengetahuan yang saya peroleh dari sebuah booklet Tabloid Nakita, Indahnya Tahun Pertama. Booklet ini saya peroleh jauh sebelum mengasuh Hafiedz.

booklet Nakita. Indahnya Tahun Pertama
booklet Nakita, Indahnya Tahun Pertama

Please, jangan heran …. Saya suka membaca artikel/buku tentang pengasuhan karena saya merasa penting mempersiapkan bekal sebelum masuk ke jenjang pernikahan. Selain itu, karena saya juga menjadi tutoress (guru les privat, red.) yang tidak pernah jauh dari anak-anak, maka penting untuk memperbarui pengetahuan saya mengenai dunia parenting.

Oke, kembali ke kisah saya membantu ibu mengasuh Hafiedz.

Karena kesibukan orangtuanya, berbulan-bulan kemudian si kecil tetap kami asuh. Sebenarnya saya heran, mengapa bayi sekecil itu sudah ditinggal-tinggal. Alasan ibunya sih karena ia masih kuliah, harus KKN, lalu disusul kerja praktik di rumah sakit. Baiklah, fokus kami adalah si kecil. Jangan sampai Hafiedz terlantar karena kesibukan orangtuanya.

Alasan itu juga yang membuat Hafiedz harus didampingi susu formula (sufor). Betapa tidak, ibu yang semestinya ada di samping si kecil, tidak dapat memberi ASI dalam jumlah cukup. Sayang sekali, si ibu juga tidak berinisiatif untuk memerah ASI dan malah memilih sufor mahal merek ternama. Ia beralasan tidak memiliki cold storage ASI, padahal di tempat kami ada lemari es. Meski kecil, cukuplah untuk menyimpan beberapa botol ASIP. Hmm, kami bukan mau mengoreksi, hanya menyayangkan saja keputusan si ibu. Tapi bagaimanapun, keputusan tetap pada orangtua si bayi, kami hanya membantu mengasuh.

Di usia Hafiedz 3 bulan, kemalangan menimpa keluarga kecil ini. Ayah si kecil meninggal dunia setelah 40 hari sakit. Penyebabnya diduga adalah kanker ganas. Awalnya hanya berupa jerawat kecil di bagian bawah bibir, lalu merah meradang dan merambah ke bibir. Karena kondisi kian mengkhawatirkan, si ayah pun dibawa ke rumah sakit. Sayang, nyawanya tak tertolong. Sedih, tapi mau apa lagi? Kehendak Tuhan tak dapat dielakkan oleh siapapun.

Kami semua makin sayang pada Hafiedz. Teringat pada sabda Rasulullah SAW tentang keutamaan memelihara anak yatim,

Dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu diriwayatkan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَا »  وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما شيئاً

“Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya [HSR al-Bukhari (no. 4998 dan 5659)].

Baby Hafiedz sudah seperti bagian dari keluarga kami. Karena Hafiedz-lah pengalaman mengasuh saya bertambah, bahkan kesibukan pagi saya bertambah menyenangkan dengan memakaikan baju dan memberinya susu. “Ah, betapa menjadi ibu itu menyenangkan,” pikir saya.

lihat ekspresi senang Hafiedz, lucu!
lihat ekspresi senang Hafiedz, lucu!

Menyenangkan memang melihat binar mata dan tawa ceria Hafiedz di saat ia sehat. Namun, pengaruh cuaca yang berubah-ubah juga bisa membuat bayi mudah sakit; terlebih lagi jika kurang diperhatikan asupan nutrisinya oleh si ibu.

Di usia 5 bulan, Hafiedz mengalami gangguan kesehatan. Pilek bagi orang dewasa mungkin bukan hal yang teramat mengganggu, tapi bagi bayi sekecil Hafiedz, itu sangat menyiksa. Duh, saya tak tega mendengarnya batuk-batuk dan sulit bernapas sepanjang malam, sementara beberapa hari ibunya tidak pulang. Mengurus kerja praktik di luar kota, pamit si ibu kepada kami kala itu. Obat yang diberikan dokter belum bisa membuat Hafiedz bernapas lega. Alhasil, dilakukanlah pemeriksaan ulang dan Hafiedz pun harus melalui terapi uap di sebuah rumah sakit.

Sebelumnya saya tak pernah mengetahui seperti apa itu terapi uap untuk bayi. Namun, karena saya menemani, akhirnya saya tahu seperti apa proses tersebut. Hafiedz dipasangkan masker bening yang dihubungkan dengan selang berisi uap air hangat. Uap air inilah yang akan membantu mengencerkan dahak. Untuk selanjutnya dahak akan ikut terbuang saat si bayi buang air besar. Oh, begitu? Saya pun menjadi lebih tahu.

Sebenarnya masih banyak pengalaman yang saya peroleh dari belajar mengasuh Hafiedz. Intinya, mengasuh bukan masalah lajang atau sudah berstatus ibu, tetapi lebih pada peningkatan kualitas pengasuhan. Semakin banyak belajar, semakin banyak ilmu, semakin meningkat kualitas diri, semakin baik pula pengasuhan yang bisa diberikan kepada si kecil. Jadi, tetap belajar yuuk! 😀