Bulan ketujuh, Juli, selalu berharga bagiku. Empat hari yang lalu, 6 Juli 2009, genap 9 tahun sudah Bapak meninggalkan keluarga Herdjito Hadiwardoyo. Sembilan tahun, hmm, ya waktu yang cukup lama untuk sekedar menggambarkan betapa tak sempurnanya kehidupanku dan kedua adikku. Kami tumbuh mendewasa tanpa kehadiran beliau di sisi. Namun, tak ada yang perlu kurisaukan atas kepergian beliau untuk selamanya. Kuyakin, semua yang telah terjadi sungguh telah menjadi jalan terbaik dari Yang Maha Kuasa.
Meski telah berlalu begitu lama, tetapi kenangan, semangat, dan jiwa beliau tetap setia menemani hari-hariku. Aku masih ingat benar detik-detik menjelang kepergian beliau menghadap Sang Khalik. Waktu itu aku masih duduk di bangku SMU kelas 1. Lima hari sebelumnya, beliau masih sempat mengambil rapor hasil belajarku selama caturwulan III. Ah, beliau selalu terlihat bersemangat melihat hasil belajarku. Apalagi saat itu aku mendapat peringkat lima besar! Terbayang olehku mendapatkan janji kado istimewa kenaikan kelas yang telah beliau janjikan 3 hari sebelumnya: lampu duduk (desk lamp) berwarna hijau dan sebuah boneka tempel Donald Duck. Namun, sungguh tak kusangka ternyata itulah kali terakhir beliau berkesempatan memberiku bingkisan.
***
Senin, 3 Juli 2000.
Bapak pulang kantor lebih awal. Biasanya pk 17.00 tapi kali itu baru pk. 15.30, motor beliau sudah sampai di depan pintu samping rumah. Bergegas kubukakan pintu. Tak dinyana, kulihat raut wajah beliau begitu pucat, menggigil, dan keringat dingin mengucur dari sekujur tubuh beliau. Ada apa? Panik, aku pun berlari menghampiri ibu yang sedang berada di kebun belakang; berbincang dengan salah seorang tukang. Ya, waktu itu ibu memang menjadi ’mandor’ dadakan pembangunan indekost milik bulik.
“Ibuu.. konduur… Bapak nika lho!!” teriakku dari kejauhan.
”Ngapaa.. Ana apaa?!” sahut beliau tak kalah lantang.
“Nika, Bapak..!!” aku tak sanggup melanjutkan kalimatku.
Segera saja ibu berlari pulang bersamaku. Sesampainya di rumah, kulihat bapak sudah berbaring di kamar. Ya, ruang yang kini kudiami adalah kamar tempat beliau menikmati hari-hari terakhir. Hmm.. 🙁
Kupikir beliau hanya kelelahan karena ada inspeksi mendadak oleh atasan dari Jakarta, namun ternyata..
Dua hari kemudian, Rabu 5 Juli 2000, beliau terpaksa dilarikan ke rumah sakit terdekat, RS Panti Nugroho sekalipun sebenarnya beliau paling enggan pergi ke dokter. Takut jarum suntik, seperti alasan kebanyakan orang. Tidak ada firasat buruk apa pun, hanya sekitar dua minggu sebelumnya aku kejatuhan cicak. Kata orang, siapa yang kejatuhan cicak akan mendapatkan tujuh lipat kebahagiaan atau sebaliknya, tujuh lipat kesedihan.
“Ah, cuma mitos!” pikirku kala itu.
Saat bapak mulai dirawat inap, aku mulai mengingat hal-hal tak masuk akal seperti itu.
“Semoga saja bukanlah kesedihan yang bakal kuterima.”
Demikian kuberharap sesaat sebelum mencoba memejamkan kedua kelopak mataku. Sayangnya, tak berhasil! Aneh, sekalipun aku tak pernah punya gangguan insomnia, entahlah malam itu yang kurasakan sungguh berbeda. Akhirnya, kunyalakan radio. Greatest Memory, sebuah program acara kesukaanku dari Yasika FM. Sebuah kisah kenangan seorang perempuan muda sedang dibacakan. Menyedihkan, ia berkisah tentang kepergian ayah yang sangat ia sayangi.
“Aku tidak akan pernah lagi melihat segurat senyum terkembang di wajah ayah, Mem.. Seminggu lagi aku akan melangsungkan akad nikah. Sayangnya kutakkan dapat berwali nikah padanya..”
Berdesir jantungku seketika itu! Kehilangan seorang ayah untuk selamanya? Aku tak pernah memikirkannya sedetik pun.. Bayangan wajah Bapak pun tiba-tiba muncul. Semoga tidak ada sesuatupun yang harus kurisaukan.. ya, semoga. Namun entahlah, bayangan cerita itu membuatku ketakutan,
“Yaa Allah semoga bukan, semoga ini hanyalah rasa yang salah..”
Sementara lagu Mandy Moore ‘I Wanna Be With You’ diputar, aku berharap, terus-menerus sepanjang malam hingga akhirnya aku lelah dan jatuh tertidur hingga keesokan hari.
***
Kamis, 6 Juli 2000.
Pagi yang cerah di liburan kenaikan kelas seperti saat itu takkan pernah kulewatkan. Kuawali dengan menyapu halaman, tetapi belum selesai kubersihkan seorang tetangga, Pak Sutomo yang akrab kupanggil Mbah Tomo, datang dengan tergesa kepadaku.
“Nak, mau ibumu telpon ngomah”
“Nggih, wonten menapa nggih, Mbah?”
“Ngabari bapakmu..”
“Bapak? Kados pundi?”
“Kritis…”
Kritis? Tidak!! Aku tak mau dengar kata itu, aku mau beliau sembuh!
“Kowe kon lek ndang ndhana, Nak”
“Oh, nggih matur nuwun, Mbah”
Spontan, kulemparkan sapu lalu bergegas masuk kamar dan berganti baju. Kukabarkan berita itu pada Mbah Kung (bapak dari ibu). Reaksi beliau bisa kutebak. Kaget! Aku mencoba tenang, mengabari sanak saudara lewat telepon wartel setelah itu, meski sesungguhnya rasa dalam hatiku bercampur tak karuan. Sepulang dari wartel, aku dan adikku pun bergegas berangkat ke rumah sakit dengan angkutan umum.
Tak sampai 15 menit, aku pun tiba di halaman depan rumah sakit. Kulihat beberapa tetangga dekat telah sampai lebih dulu. Mereka melihat ke arahku dengan sorot mata yang membuatku kebingungan. Ada apa?! Satu di antara mereka membimbing kami memasuki sebuah bangsal. Di sekitar beliau terbaring, beberapa perawat berusaha memberikan yang terbaik. Lalu.., Masya Allah, kulihat tubuh bapak terguncang-guncang oleh serangkai alat pacu jantung. Sungguh tak kuasa melihat kondisi beliau, aku keluar ruangan. Kutahan tangis dan sakit di rongga tenggorokanku sembari merapat di dinginnya dinding rumah sakit.. Rabb, inikah kehendak terbaik-MU untuk kami?
Sesaat kemudian kudengar suara teriakan diiringi tangis,
“Allahu Akbar..!! Laa ilaha illallah..”
Ibu… itu ibu! Aku tahu, bapak telah pergi untuk selamanya. Seorang tetanggaku menghampiriku dan adikku, merengkuh kami yang terisak. Dan, sementara kepulangan jenazah beliau diurus, kami harus pulang. Kupaksakan hati meninggalkan ibu dipapah pulang, sementara aku membonceng motor Lik Trubus, tetanggaku. Di sepanjang perjalanan, kubiarkan air mataku leleh. Membiarkan desau angin sepanjang Jalan Kaliurang menghembus kegetiran hati; sungguh pun itu satu di antara hal-hal sulit dalam hidupku. Sesampainya di rumah, suasana sudah mulai ramai. Aku berlari lewat pintu belakang menemui Bulik Is dan menghambur ke pelukan beliau. Terisak.., tapi hanya sesaat karena ternyata ibu telah tiba di rumah.
“Wis, Mbak..aja suwe-suwe. Aja nganti Ibu ngerti yen Mbak Jatu nangis..mengko ndhak tambah sakit.” begitu Lik Yanti, tetangga sebelah rumah menenangkanku.
Kuhapus segera air mataku, merenggangkan pelukan, lalu diam mencoba menenangkan diri. Aku belum bisa menemui ibu yang shock berat di kamar. Aku hanya ingin diam, sendiri. Melangkah pergi dari Bulik Is di sela tatap sedih beliau juga orang-orang di sekitar, sama sekali tak membuatku nyaman. Namun, setidaknya aku mulai belajar memahami seperti inilah rasanya.
***
Malam, usai pembacaan surat Yasin dan dzikir, keluarga dari Bekasi tiba. Paklik Hari, adik ragil ibu yang paling dekat denganku membuka pintu kamar. Seolah beliau merisaukanku,
”Ora isa turu?” tanya paklik.
Bangkit dari pembaringan, kuanggukkan kepala, lalu bersalaman dengan beliau. Sungguh kedatangan beliau sedikit melegakan hatiku. Tak ada bapak, masih ada ibu, paklik, dan bulik yang akan setia membersamai langkahku. Sekalipun terkadang aku galau. Tentang satu hal, sebuah permintaan bapak yang telah kujanjikan pada diri sendiri untuk memenuhinya.. ya, kuanggap itulah wasiat beliau.
“Bapak pingin Mbak Jatu suk sekolah nang kene, dadi sarjana..” kata beliau suatu sore kala melintasi sebuah perguruan tinggi negeri ternama di Yogya, Universitas Gadjah Mada.
Hari itu aku dijemput dari rumah saudara setelah 3 hari menghabiskan liburan caturwulan ketiga kelas 5 SD di sana.
Hmm, Bapak. Aku tahu benar dari pemaparan kisah masa kecil beliau di Purwodadi dan Yogya. Bagaimana rasanya hidup di masa sekolah rakjat dengan batu sabak; bertahan tetap belajar di tingkat menengah saat buku pelajaran begitu mahal hingga beliau harus menyalin ulang setiap buku paket; sulitnya hidup sebagai anak sulung yang dibesarkan oleh keluarga Nasrani dan harus berpisah dengan orang tua. Aku mengerti, harapan bapak begitu besar kepadaku. Pun hingga akhirnya beliau memutuskan tak melanjutkan kuliah karena tak ingin menggadaikan akidah.. harapan itu bapak sampaikan kepadaku, putri sulungnya.
“Jadilah sarjana, wujudkan impian terindahku, dan buat aku bangga padamu..” seperti itulah kesimpulan yang kutarik dari panjang-lebarnya kisah beliau.
Saat Bapak meninggal, pikiran itu mengecamuk. Masihkah aku berkesempatan melanjutkan sekolah, mewujudkan mimpi indah beliau? Sementara dua adikku yang lain juga perlu biaya sekolah, padahal..ibu tak punya pekerjaan, hanya mengurus rumah. Bisakah? Aku masih harus menempuh setidaknya 2 tahun pelajaran lagi hingga lulus SMU. Dua adikku, Ning dan Di, mereka masih duduk di kelas 3 SMP dan 2 SD. Mampukah aku?
Kehidupanku berubah, 180 degree changed! Semakin sering aku menyendiri, termenung. Hendak apalagi akan kuusahakan, paling tidak untuk meringankan beban ibu. Beasiswa Supersemar semasa SMP sudah berlalu, dapatkah aku mendapatkannya lagi di SMU? Ah, aku terus menerus berpikir hingga kadang ibu sedih melihatku kurus kering, karena sering jatuh sakit.
“Ana apa ta, Mbak? Ora usah mikir terus, ora apa-apa..”
Kalimat itu yang kadang beliau gunakan untuk menenangkanku, seolah paham benar apa yang sesungguhnya ada di dalam benakku: sekolah!
Ya, untuk mewujudkan impian bapak tentunya perlu banyak biaya. Sementara di lain sisi prestasiku menurun di tahun kedua SMU. Entah, kepergian beliau seperti menyedot separuh semangat dan motivasi belajarku. Selama ini beliaulah yang getol menyemangatiku; memberiku hadiah di tiap kenaikan kelas, mengantar-jemputku sekolah meski beliau sedang lelah. Mungkin pula selelah beliau menahan penyakit diabetes mellitus sejak tahun 1994 silam. Sayangnya, terkadang aku yang egois terlampau menuntut.
***
Yang tersisa kini hanyalah kenangan beliau. Sesekali perasaan bersalah mampir ke benakku menyesak di rongga dada karena aku merasa sejauh ini belum mampu memberikan hasil terbaik untuk kupersembahkan kepada sosok yang demikian kukagumi. Aku baru tahu kalau selama ini kharisma beliaulah yang tak bisa membuatku merasa dekat dengan beliau. Ah, Bapak..! Andai saja aku mampu mengembalikan waktu, tapi.. Hmm, sudahlah.. Tuhan pasti Maha Tahu yang terbaik untuk kujalani. Tak ada gunanya aku bersedih hati. Terlampau bersedih hanya akan membebani Bapak di peristirahatan terakhirnya. Dan, beginilah aku kini menjalani hari tanpa kehadiran beliau. Awalnya timpang, tapi langkah kaki kecil yang dulunya rapuh ini perlahan tapi pasti belajar mencari bentuknya hingga tegar, kokoh, dan beranjak dewasa seiring berlalunya butiran pasir waktu.
***
Demi mengusir rindu, seminggu sekali, bila hari terang aku biasa menyambangi nisan beku beliau. Ngapel, begitu istilahku! Seperti juga Kamis sore kemarin; ibu, aku dan adik perempuanku datang ke Sasanalaya Candi, tepat 2 hari menjelang sembilan tahun meninggalnya almarhum. Di bawah pohon kamboja beliau tenang bersemayam. Kunyamankan simpuhku di depan nisan. Menangkupkan kedua telapak tangan dan merapatkan jemari. Pray, began! Rabb, please, favour him with a special and comfort place beside You, Amiin yaa Rabbal’alamin..
Kuseka butir air mata sebelum meleleh turun. Lalu, kubiarkan nafasku tertahan sejenak selepas melafadzkan doa, persembahan terbaikku bagi beliau. Hanya itu yang bisa kuberikan hingga detik ini, tapi semoga bingkisan kecilku bisa menemani beliau di persinggahan abadinya. Inilah, setangkup rinduku untuk Bapak, my beloved Dad.
“…Tuhan yang Maha Adil membagi setiap hal sesuai kadarnya. Entah pahit atau manis, entah baik ataukah buruk menurutku..pastilah itu yang terbaik untuk dijalani. Insya Allah.. Sekiranya Tuhan telah menakar setiap anugerah bagi masing-masing makhluk, lalu nikmat-Nya yang manakah yang pantas kudustakan?…”
– Karangsari, ditulis sejak 10 Juli s.d 6 Desember 2009, direvisi di Bulaksumur, 8 Juni 2010-
baca tulisan ini, jadi inget bapak di rumah…huffff…..makasih udah ngingetin…begitu berharganya seorag bapak buat anak anaknya….
Hai, Rie.. akhirnya mampir juga di blogku 🙂
Terima kasih. Ya, begitulah.. selama masih ada, mari kita jaga.
Kalau aku, hanya bisa mendoakan saja..
Salam buat bapak & ibu ya 😀
“Jadilah sarjana, wujudkan impian terindahku, dan buat aku bangga padamu..” ….ku tak sanggup melanjutkan membaca mba…hiks..
Membacanya sesekali juga membuatku meleleh T.T.. dan yang terberat sejauh ini. Tiap kali memulai kalimat per kalimatnya juga kadang ga sanggup, hiks :(.
Hmm.. kadang memang begitulah kehidupan.. Ayya juga pasti mengerti, kadang senang, kadang susah.. Tapi, apa pun yang telah, tengah, dan akan terjadi selayaknya disyukuri.
Bukankah Rabb telah menakar tiap hal karena IA sesungguhnya Maha Adil?
Sekarang saatnya menjadikan tulisan ini sumber motivasi dalam hidup, lalu bergerak ke arah yang lebih baik. OK, Ya? 🙂
Palupi Jatu… bapak pasti bangga sama kamu… semangat ya neng… keinginan ayahmu sudah terwujud, kamu jadi srjana 🙂
Saluuut…, dan kagum saya dengan ketegaran Mbak Jatu. Saya jadi ingat,..ketika Ibuku meninggalkan saya se-lama-2nya, meski usia saya sudah 20 th ketika itu ( sudah kuliah di MIPA-UGM) lebih dari 3 bulan seperti orang gila. Meski kemudian kehidupan berjalan terus,..tanpa arah. Ujungnya,…harus dropout. Meski jauh di lubuk paling dalam impian menjadi sarjana tetap menyala, Karena itu salah satu amanah Almarhumah yang harus saya tunaikan.
Keyakunan dan ketegaran Mbak Jatu harus tetap dijaga……karena Tuhan memilihkan dan memberikan yang terbaik, meski awalnya berasa pahit….Yakinlah..!
my beloved sist, I’m so sorry…….I’m so sorry……aku bersyukur dipertemukan denganmu, dengan keluargamu, makasie mo jadi sahabatku, kakak bagiku, maafkan segala keegoisanku ya…..my beloved sist, I love you forever in my live, Aku bangga padamu, semoga Arwah bapak diterima di sisi-Nya, dan mbak, Ibu, Mb Ning, dan Dody diberikan yang terbaik, semoga your beloved bro, jadi yg terbaik bagi keluarga kalian…..nice…sist….
luv u coz Allah…..:d
sungguh di setiap kata, kalimat, dan di tiap paragraf dalam tulisan ini sangat menginspirasi buat setiap orang yang membacanya. Dan semoga di jadikan penyemangat dan suatu pembelajaran yang dimana bisa kita petik dari isi tulisan ini. Semoga Tuhan senantiasa memberkati mbak Palupi Jatu sekeluarga. Salam 🙂
Terima kasih, Mas Rhicky 🙂
Salam kenal kembali.