Yang Tak Terkatakan

Dearest Ibu,

Salam takzimku untukmu. Untuk engkau, sesosok perempuan yang menjadi penghubung antara dunia gelap dalam rahim hingga ke kehidupanku sekarang. Tiada lain kesyukuran kuhaturkan ke hadirat-Nya, Allahu Rabb yang telah sudi memberi karunia seseorang seperti engkau, Ibu.

Rabb tak pernah memberiku pengertian sebelumnya tentang siapa dirimu sebelum dilahirkan, tentu itu semua ada tujuannya. Agar aku terus belajar mengerti segala tentangmu, yang baik ataupun buruk menurutku. Betapapun, engkau tetap ibuku

Dalam diammu, aku tahu ada banyak hal yang tak bisa terucapkan. Tentang kegigihanmu berjuang selepas ayah meninggal demi menghidupi kami, ketiga anakmu. Tentang kesedihan yang terbaca di setiap guratan wajah, sekalipun terkadang samar oleh tebalnya garis senyummu. Tentang rasa bersalahmu yang hanya bisa tertuang dalam hela nafas tiap kali mendengar si Tengah berucap tak memperoleh prioritasmu.

Ibu, maafkan bila hingga saat ini satu impianmu melihat si Sulung ini menikah belum terlaksana. Namun, aku selalu berharap yang terbaik. Agar ia segera menjemputku. Memberimu menantu dan cucu yang manis. Memberi kami semua kehidupan lebih baik kelak. Ada banyak hal yang masih kupertimbangkan dari hidup lajangku.. dan itu tentang engkau, Ibu.

Masih ingatkah kala kau lontarkan kalimat itu?

Menurutmu lebih baik aku mengelana ke pulau seberang, Borneo. Meninggalkanmu, mengasingkan diri sedikitnya lima tahun di tengah perkebunan sawit, lalu kembali pulang membawa sekian banyak pundi keberhasilan. Menurutmu hidup menjadi petani sepertimu bukan hal yang layak dibanggakan.

Mengertikah mengapa aku tetap diam kala itu, Ibu? Mungkin ada benarnya, tidak setiap hal di dunia ini bisa kusampaikan secara lisan. Terkadang rasa dalam kalbuku mewakili untuk menjawabnya dengan sangat gamblang. Gelengan kepalaku pun membulatkan niatku untuk tak memenuhi keinginanmu. Maaf, tolong maafkanlah anakmu.

Ibu.. mengertilah. Hatiku tiada tega meninggalkan engkau yang kini kian ringkih. Setahun lalu, di pertengahan Ramadhan engkau terpeleset. Tertinggallah cedera di persendian lutut kaki kananmu.. Juga keriput-keriput itu kadang menyesakkanku; rasanya tak siap jikalau nanti kau tinggalkanku sendiri.

Tentang Borneo dan kebun sawit.. Mengertilah.. Sesak rasanya melihat si kecil Sarita kehilangan induknya. Ibu tahu siapa Sarita? Ia seekor bayi orangutan. Oleh karena kepentingan manusia, ia terpaksa kehilangan ibundanya. Tak cuma Sarita, Bu, masih banyak orangutan kehilangan nyawa dan kehidupan liarnya. Sebut saja Windy, Fajar.. Lalu engkau memintaku untuk bekerja di sana? Di bekas rumah nyaman Sarita dan teman-temannya yang telah menjelma menjadi hamparan sawit?

Hidup bukan untuk segalanya
Tetapkan tujuan sulutlah ambisi
Biarlah memandu

Marilah berpikir ‘tuk diri sendiri
Mendalami pribadi
Apakah disana ada yang tersisa
Rasa yang manusiawi

(Manusiawi – Nugie)

Mengertilah, Bu.. Bagiku lebih baik memperoleh rejeki tanpa harus menindas makhluk lain, tak terkecuali mereka. Hidup ini adalah serangkaian pilihan yang kuputuskan untuk dilakukan, baik “ya” atau “tidak”. Bukankah jauh lebih baik hidup dalam harmoni? Tenteram, nyaman jiwa-raga? Biarlah mereka mencercaku bodoh, tolol, atau apa pun.. Sejatinya tiap manusia tiada yang sempurna. Maka, biar kukembalikan, kupasrahkan kepada Yang Mahakuasa.. Yang memberi kita kekuatan untuk selalu istiqomah menjalani. Semoga, aamiin..

Ibu.. Maafkanlah, segores penaku ini mungkin melukai hatimu. Namun, sesuatu yang tak pernah terkatakan ini.. semoga tetap memanduku menjadi insan yang mengerti apa maknanya manusiawi.

Salam hormat & sayangku,

Phie

 

0 thoughts on “Yang Tak Terkatakan

    1. wah, maaf.. sekalipun saya belum pernah melakoni bekerja di kebun sawit.
      tapi kata teman-teman saya sih, terisolir. gaji besar tapi jauh dari kota

  1. hmmm,,sesuatu yang diniati dengan ikhlas n mulia pasti endingnya juga indah…gak usah ke borneo juga gpp, aku yang akan selalu mengunjungimu di yogya tercinta…:)

    1. ooh, Sistaa 😥
      thanks for supporting me so far 🙂
      ada banyak hal yang kadang tak bisa kita katakan, ya.. semoga itu bukan penghalang langkah untuk maju.
      good luck for us 😉

  2. belajar dari pengalaman bbrp teman yang pernah bekerja di kelapa sawit si materi yg didapet emang banyak mbak jatu. tapi ya itu, ada yg terisolir jg daerahnya, hrs kuat mental, ada konflik2 kecil gitu juga si. bbrp temanku akirnya tidak kuat dan lebih memilih kerjaan lain. itu si tergantung penilaian kita mbak jatu…kita mau milih jadi apa, mau kemana, kita yang menentukan. hati kita yg tau mbak jatu. dulu sebelum aku jadi PNS, aku pernah kerja di bank BUMN. rasanya kok bertentangan dengan hati nurani. apalgi soal utang ‘wong cilik’, masalah bunga, kredit UMKM. rasanya gak kuat, akirnya kuputuskan untuk keluar dr Bank “B” …karena bertentangan dengan prinsip yang aku punya …jangan salah langkah juga, pikir baik2, pikir dengan matang. soalnya sebelum aku kerja di bank, aku kerja sbg asisten di UGM, ikut penelitian2, dan diorbitkan untuk mjd dosen. waktu itu udah mw S2. tp krn keinginan ibu yg ingin aku kerja di Bank (mngkn bpk jg) ak lebih milih BRI. pdhl nuraniku berkata, aku pingin jd dosen. walopun orgtua menyerahkan semua kepadaku, milih studi ke ausie ato milih sendik BRI. berat rasanya mbak jatu ….aku telah salah pilih. tapi itu semua pelajaran dan pengalaman hidup berharga. orang akan merasa bahagia, kalo sudah merasa nyaman dengan lingkungan kerjanya. itulah yg aku rasakan sekarang. mungkin di tempat sekarang inilah yang Alloh mau. aku bisa membantu IKM2 untuk berkembang…yang penting kita bisa memberi manfaat buat orang lain..

    1. ya, Mbak Erlita.. setiap kita diberi kesempatan untuk memilih yang terbaik untuk dirinya. sepakat dengan prioritas kemanfaatan itu 🙂
      sukses selalu 😉

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *