Menurut saya kebebasan itu milik setiap orang. Tidak terkecuali saya, Phie, seorang mom wanna be blogger yang memilih bekerja sebagai pelaksana harian jurnal, freelance tutoress, dan co-author proyek penulisan buku. Melakoni ketiga kesibukan tersebut membutuhkan keberanian dan kebebasan berekspresi. Kelihatannya sepele, tetapi sungguh ini bukan pekerjaan mudah.

Sebagai seorang pelaksana harian tugas saya saban harinya mengecek surat-surat dan artikel yang masuk ke redaksi. Setelah masuk, tiap-tiap artikel tersebut diarsipkan, lalu dikirimkan ke orang-orang yang dinilai kompeten di bidangnya (istilah kerennya mitra bestari, red.) secara anonim, tanpa diketahui siapa saja penulisnya. Hal ini semata dilakukan agar tidak ada subjektivitas dalam melakukan penilaian. Apa kata dunia jika sebuah artikel ilmiah yang sebenarnya di dalamnya terdapat kekeliruan, tetapi diloloskan hanya karena si penulis adalah guru dari si penelaah? Ini ilmu dan ilmuwan tidak boleh berbohong, begitu kata orang. 😀
Proses penilaian akan terus berlangsung hingga ada keputusan final. Artikel diterima atau ditolak? Kalau diterima, seberapa banyak perbaikan yang harus dilakukan? Itu semua tugas si penelaah untuk memberikan penilaian. Dua penelaah cukup untuk sebuah artikel. Bila nantinya hasil dari kedua penelaah draw (satu menolak, yang lain menerima, red), maka ditambahkanlah seorang lagi penelaah dengan harapan si penelaah ketiga ini akan menjadi penentu apakah proses penilaian akan tetap berlanjut atau berhenti sampai di situ, lalu bye.. bye..
Redaksi serupa jembatan antara penulis dengan penelaah, maka ketika salah satu bagian dari proses ini mengalami hambatan, redaksilah yang berwenang menjadi penengah. Katakanlah jika suatu ketika proses ini mandheg di penelaah atau penulis. Sudah menjadi kewajiban saya sebagai pelaksana harian untuk melakonkan tugas sesuai prosedur. Ya, melakukan penagihan! Hmm.. sekarang yang menjadi masalah adalah betapa rumitnya bila saya tidak belajar untuk membebaskan pikiran dari rasa tidak percaya diri alias minder, juga rasa takut (yang kadang menghinggap tanpa sebab), atau juga prasangka buruk,
“Jangan-jangan nanti kalau saya tagih, beliaunya marah karena bla bla bla..”
Maklumlah, penelaah yang saya tagih itu boleh dikatakan senior dan tingkatan ilmunya jauh di atas saya. Karakter manusia pun bermacam coraknya.. lagipula doktor dan profesor juga manusia kan?
Memulai hal macam begini kadang membuat saya keder. Tapi… kalau bukan saya, siapa lagi, siapa yang mau menagih? Saya pun “memaksa” diri untuk belajar lebih berani. Lalu, apa akal? Saya menyukai kebebasan. Bebas menjadi diri sendiri, free to be me.. dan menentukan apa pun yang ingin saya lakukan. Ada banyak cara untuk menagih. Mengirimkan surat resmi dan menyampaikannya langsung; via e-mail serta SMS itu yang paling sering saya lakukan. Telepon? Kalau saja redaksi mau mengganti pulsa sih tidak masalah 😆
Itu baru tahap awal. Istilah saya, satu kelokan di jalan menanjak. Ada kelokan lain di jalan menurun, jauh lebih berisiko dan menjengkelkan. Ya, ketika saya berurusan dengan komputer yang lemotnya minta ampun plus jaringan internet bak siput 😥 (maaf ya, jadi mengkambinghitamkan siput nih). Saya butuh sarana pendukung yang jauh lebih yahud! Hmm, sekalipun begitu, pernah suatu ketika saya tidak terima ketika si Putih (begitu saya menyebut komputer kerja saya, red.) dicela oleh salah seorang teman yang mampir untuk nitip nge-print,
“Pantas saja telat terbit.. komputernya lelet begini..”
OMG.. 😯 Helloo.. ini bukan keinginan saya. Sejak setahun terakhir memang demikian. Ataukah saya saja yang terlalu sabar? Hmm, sebagai pelaksana harian mungkin tidak, tetapi itu sangat berarti saat saya beralih profesi seusai jam kantor.

Kesabaran. Itu salah satu kunci menjadi seorang freelance tutoress. Kiprah saya boleh dibilang baru. Ya, sembilan tahun menjalani profesi ini bagi saya belum apa-apa. Saya masih harus banyak belajar. Belajar menjadi manusia sejati dari mereka, siswa siswi yang saya bimbing. Menjadikan mereka sumber inspirasi tulisan di postingan blog salah satunya bisa menjadi kesenangan tersendiri. Lewat bejana “Tutoress, Happy & Sad” dan “Learn to be a Cool Parent” saya tuangkan hampir semua suka-duka dan pengetahuan baru yang saya peroleh dari anak-anak. Mereka aset yang sangat berharga. Selalu bergerak, bersemangat, tertawa, bebas mengekspresikan diri.. butuh banyak energi untuk mengimbangi celoteh berikut aktivitas motorik mereka. Namun, ada kalanya saya lelah. Hmm, manusiawi bila saya lelah. Saya manusia, bukan robot atau mesin yang setiap saat bisa melaju kesana-kemari berpindah dari rumah satu ke lainnya tanpa henti untuk memberi les privat.
Teringatlah saya pada pepatah orang Barat, “Hard work and no play, make a dull boy“. Karena itulah saya sering tertantang melakukan hal-hal baru.. hitung-hitung membuang penat selama sepekan bekerja. Mulai dari refreshing sederhana semacam jogging, mengendarai si Ezy (motor saya), menjelajah sembari mengabadikan langit dan pemandangan alam, tracking ke lereng Merapi, hingga menjajal olah raga high impact seperti repling.
[slideshow]
Namun, sepertinya pusaran energi saya tidak akan berlanjut manakala kembali ke redaksi dengan keadaan seperti itu. Kapan saya bisa bekerja lebih efisien waktu? So sad.. 😥
Kalau saja ada partner kerja yang lebih oke untuk saya pakai di rumah tanpa berebut colokan monitor dengan kedua adik saya karena layar si laptop buram sama sekali; tanpa harus mengetik dengan #uruf yAN9 tidak genap karena tombol “h” dan “g” pada keyboard tidak berfungsi dan sering berubah sendiri menjadi huruf kapital; tanpa harus mengkambinghitamkan si siput karena leletnya; tanpa harus loading lambat karena kapasitas simpannya yang terlalu cekak; tanpa harus berdebat dengan adik karena ia meng-compress folder berisi foto-foto kegiatan yang ingin saya posting di blog tanpa izin… hmm, itu seperti merasakan semilir angin surga. 
Partner yang cocok untuk orang yang menyukai kemandirian dan selalu bergerak penuh energi seperti saya, ya.. si hitam bergurat merah Sony VAIO E14P. Saya berharap bisa mendapatkannya dalam kontes ini.

Kalau itu semua terkabulkan, berarti saya akan mempensiunkan laptop IBM pinjaman seorang dosen yang saya bantu. Sebenarnya saya masih ada utang proyek buku dengan beliau. Sebelum saya pindah ke redaksi, saya baru menyelesaikan sekitar tujuh artikel tentang spesies hama tanaman. Inginnya, saya tetap masih bisa membantu beliau menjadi co-author (calon) buku tersebut dan bekerja di sela kesibukan redaksi dan membimbing anak-anak. Namun, apa daya kalau sarana seperti ini..? Bukan tak mau bersyukur, hanya saja berurusan dengan rasa malas (ini dia yang tidak saya suka).. bila terlalu lama dibiarkan tidak akan baik. Alhasil, hampir 1,5 tahun sudah saya menelantarkan tulisan, semua data, dan pustaka penunjang di dalam laptop tersebut.. 😥 Itulah mengapa, saya berharap bisa membawa pulang si VAIO E 14P hitam-merah yang sesuai untuk si mungil nan energik ini agar nantinya segala hal yang menjadi target saya di redaksi, proyek buku, dan nge-blog bisa tercapai, segera. Aamiin..
*Tulisan ini diikutsertakan dalam kontes blog Sony VAIO “Because It’s Me – Express Your VAIO Personality” persembahan Sony Indonesia dan Femaledaily
klo menang aku pinjem aah lepi nya….
boleh, tapi tracking & repling dulu sama aku ya, Bun
Memang komputer kantor prosesornya pake apaan, Phie? Jangan2 siput lebih kenceng jalannya 😀 Rebutan colokan monitor tuh gimana maksudnya? Moga menang ya dg kontesnya….jd terus ngeblog dan terus berbagi dengan anak didik…
biasa , Om Intel inside.. tapi yang bikin ga kuat itu lemotnya 😀
hehe rebutan colokan monitor itu terjadi karena layar laptop IBM tersebut sudah tidak mampu menayangkan gambar. Jadi, saya mesti menggotong-gotong monitor komputer rumah untuk dicolokkan ke laptop supaya saya bisa bekerja, gitu Om Walank
wah ternyata ikut kontes ya, tak kiran murni curhat tentang pekerjaan…
salam kenal, Gusti. iya, ini setengah curhat sebenarnya. diikutkan ke kontes, siapa tahu menang 😀
mudah-mudahan menang ya mbak… 🙂
aamiin.. terima kasih doanya. 🙂
sukses ya mbak jatu … doa dr jauh aja ya …
Aamiin ya Rabb.. matur nuwun, Mbak Erlita 🙂
seperti biasa, dalam foto itu ada orang kembar 😀
ya iyalah, kami kan mirip.. bukan kembar. dia bodyguardku, Ri hehehe. kapan kita kopdar? moga saja bisa mengajaknya serta.. biar Ari tahu bedanya 😆