Sejuta Rindu untuk Ayah

Dearest Ayah,

Pagi ini, entah apa yang sekarang Ayah lakukan di sana. Phie tak ingin membayangkan apa yang bisa Phie lakukan suatu saat nanti di kedalaman perut bumi. Bersantaikah? Atau berbincang dengan kedua malaikat penjaga? Hm, apapun itu Phie berharap Ayah tenang di sana, selalu. Aamiin..

Ayah, ingatkah pada sketsa yang dulu sekali Ayah buat untuk Phie? Telah lama Phie cari di tumpukan buku-buku lawas, tapi tak jua Phie temukan. Maklumlah, putri sulungmu ini kalau sudah rindu apa saja kenangan tentang Ayah selalu dicari untuk diceritakan. Hanya agar dunia mendengar bisik-bisik kerinduan yang takkan bisa ditepiskan. Ya, itu setidaknya yang bisa Phie lakukan sekadar meredakan rindu pada Ayah.

Sesekali Phie berharap bertemu Ayah dalam mimpi. Berbeda dunia bukan berarti kita takkan bisa saling berkontak kan? Hehe.. ini yang aneh dari putrimu, selalu saja berpikir bahwa Ayah takkan selamanya pergi. Selalu saja berpikir bahwa suatu ketika Phie akan bersua dengan Ayah, di sana.. di keabadian yang dijanjikan Rabb untuk setiap manusia.

Ada kalanya menikmati se-mug besar cokelat hangat sembari melihat rinai hujan dari sebalik jendela cukup mengobati rindu. Meski kadang tak mampu dan harus meluangkan waktu barang setengah jam untuk menyambangi nisan beku Ayah. Ah, tiada mengapa. Itu satu-satunya jalan untuk Phie bisa bertemu dengan Ayah. Lagipula bukankah sudah menjadi kewajiban Phie untuk berbakti pada kedua orang tua? Pada Ayah yang telah rela menjadi jembatan kehidupan, mengabdikan sepanjang hayat untuk memberi inspirasi dan motivasi kehidupan untuk putri mungilnya ini?

Ayah tentu ingat pada obrolan kita berpuluh tahun lalu. Kala itu Ayah bermimpi bisa melanjutkan sekolah hingga tingkat perguruan tinggi bukan? Sayangnya, karena masalah ekonomi dan prinsip akidah, Ayah enggan meneruskan. Disekolahkan dengan syarat menggadaikan akidah, lalu buat apa? Hmm.. ya sepakat! Tidak ada barang satu pun di dunia ini yang jauh lebih berharga ketimbang iman di dada. Manakala tak memiliki iman, manusia tentu akan bertindak semaunya, asal dirinya senang. Ayah tentu tak ingin itu terjadi pada Phie. Terima kasih telah membagi itu semua, termasuk membagi impian Ayah agar Phie bisa bersekolah di almamater yang telah membuat Phie lulus dengan predikat sangat memuaskan. Alhamdulillah. Sekalipun Ayah tak sempat melihat prosesi wisuda, Phie yakin di sana Ayah tersenyum bahagia.

Kini, izinkan Phie bermimpi lagi. Sebuah impian untuk dipersembahkan kepada Ayah. Phie ingin terus berusaha membahagiakan ibu, satu-satunya orang tua yang kini mendampingi Phie dan adik-adik. Dengan bekerja keras dan displin seperti Ayah, Phie yakin suatu ketika impian itu akan menjadi nyata; impian indah yang terbaik bagi Ayah. Aamiin.

Warmest regards,

Phie

*) diinspirasi oleh Yang Terbaik Bagimu – Ada Band

0 thoughts on “Sejuta Rindu untuk Ayah

  1. Kenapa kalau baca tulisan tentang Ayah atau Ibu air mata ini langsung meleleh…
    terharu sekali aku membacanya..
    Ssemoga Alm. Ayah diberikan jalan yg terbaik di Sisi-Nya..
    Aminnnn

    1. Sudah 12 tahun lalu, Mas Imam.
      Yang saya lakukan adalah mengenang beliau berikut segala budi baik & inspirasi sepanjang hayat beliau.
      InsyaAllah sedang belajar ikhlas. 🙂

  2. Setiap yang menjadi ayah, pasti akan bahagia bila dia melihat anaknya menuliskan suatu isi curahan hatinya seperti ini. Dan saya yakin, beliaupun sama dan bahkan lebih bahagianya seperti kami-kami para ayah membaca tulisan ini, Dia akan selalu bersyukur kepada Tuhan memilki seorang anak seperti kami.

    Kebahagian orang tua dan anak, merupakan salah satu urat nadi perjalanan doa yang tidak dapat terpisahkan anatara jarak dan waktu. Hanya Tuhan yang daat mengerti doa dan keinginan kamu yang mengalamai ini. Maka, Tuhan pula yang selalu menyatukan kalian dalam doa dan Rahmat Nya.

    Sukses selalu
    Salam
    Ejawantah’s Blog

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *