Bicara Soal Tayangan TV Indonesia

Kalau sudah menyinggung tema per-televisi-an, ada saja yang membuat saya merindu beberapa tahun terakhir ini. Salah satunya karena kian minimnya tontonan anak dan keluarga yang pas dan mendidik. Sering saya merasa jengah ketika mengutak-atik tayangan di televisi. Di sana-sini hanya sinetron, berita artis dan gosip, acara musik yang terkesan hura-hura dan euforia saja… belum lagi iklan yang tak pas penempatan waktu tayangnya. Hm, apa ini? Apa pihak produsen juga tak mau melihat keadaan? ❓

Saya bukan pencinta sinetron, lebih suka menonton FTV (itu pun kalau ceritanya tidak lebay). Sekali tonton langsung berakhir, tak perlu berlarut-larut. Sementara untuk tayangan anak dan keluarga? Tak banyak bisa berharap dari stasiun televisi dalam negeri. Alhasil, saya ganti saluran ke televisi lokal, atau malah saya matikan langsung si tivi.

dark_television_horror_weapons_vector (1)credit

Bicara soal tayangan televisi, saya pun teringat pada sebuah percakapan via Yahoo! Messenger dengan seorang teman lawas beberapa tahun lalu. Mustofa, teman saya sejak taman kanak-kanak yang kala itu mengambil kuliah di jurusan broadcasting. Awal percakapan bergulir karena ia mengutip tagline blog utama saya di status YM. Saya yang waktu itu sedang online pun buru-buru menyapanya. Haha iseng saja, nyomot tagline saya nih orang. Meskipun sebenarnya, saya bersyukur, itu artinya dia menjadi salah satu pembaca blog saya. :mrgreen:

Entah, saya lupa mengapa waktu itu percakapan kami tiba-tiba masuk ke area broadcasting, wilayah kekuasaannya. Saya yang jengah melihat situasi pertelevisian, langsung melayangkan pertanyaan soal pengawasan acara tivi. Mengapa pihak produsen lebih suka memproduksi sinetron yang begitulah keadaannya.. bagi saya tidak mendidik. Adanya adegan nangis, teriak-teriak, melotot-melotot, perang siasat saling menjatuhkan, lalu jor-joran tak mau kalah. Apa itu yang namanya tayangan mendidik? Ke mana lagi energi positif itu? Di mana keramahan bangsa Indonesia yang tersohor sejak dulu? Bangsa timur yang dikenal bernorma tinggi, santun, dan cakap menjaga nama baiknya.

Dari seberang sana, dia menanggapi. Mus mengatakan bahwa itu adalah sebagian dari hegemoni, kekuatan pasar yang tidak bisa kita tawar karena memang seperti itulah keadaannya.

What? Hegemoni? Istilah apa lagi itu? ❓ *garuk2kepala*

Lebih lanjut Mus juga mengatakan bahwa, pihak produsen sinetron itu hanya melihat pangsa pasar. Mereka tidak mempermasalahkan efek dari tayangan tersebut terhadap penontonnya.

“Pasar bagus, ya produksi jalan terus. Efeknya tidak diperhatikan. Toh, kita sudah punya KPI kan?” begitu kata Mus.

KPI? Komisi Penyiaran Indonesia? Saya tidak sepakat kalau bangsa Indonesia hanya mengandalkan kinerja KPI. Dan meskipun nantinya keputusan menonton ada di tangan konsumen, tetap saja mereka harus memperhitungkan efeknya terhadap penonton yang tidak punya posisi tawar (baca: anak-anak). Berapa banyak sudah anak-anak yang belum saatnya bernyanyi Kucing Ga**ng, bisa bernyanyi sefasih penyanyinya juga meniru gerakannya?

Lalu, di mana letak humanisme sosialnya?

“Semestinya tiap badan yang memproduksi tontonan memiliki divisi ini, humanisme sosial!” begitu sambut saya dengan berapi-api.

Ada rasa tidak rela bila hal seperti ini terus-menerus terjadi di tengah bangsa yang saat ini justru membutuhkan figur teladan. Sementara saya berpikir, setiap orang memiliki kewajiban menjadi teladan untuk diri dan lingkungan sekitarnya. Mengapa rumah produksi sinetron tidak bisa?

Ah, ya … kalau waktu itu perdebatan kami berdua via YM itu dilanjutkan rasa-rasanya tidak akan selesai seharian. Well, setidaknya saya sudah menyampaikan uneg-uneg saya kepada salah seorang mahasiswa broadcasting; sekalipun itu tak mampu memberi jawaban atas pertanyaan saya dan mengobati kerinduan terhadap tayangan televisi yang mendidik (misalnya seperti yang dulu sekali pernah ditayangkan di TVRI, Anak Seribu Pulau). … dan karena saat ini saya merindukan segala keseruan zaman kanak-kanak, perkenankan saya mengajak serta Sahabat menjenguk sejenak secuil kenangan itu. 🙂

[youtube https://www.youtube.com/watch?v=trD2ZcBzSfc&w=420&h=315]

0 thoughts on “Bicara Soal Tayangan TV Indonesia

  1. Sebetulnya kalo pemerintah kita tegas, mana tayangan yang layak tayang dan mana yg tidak, mungkin kita tdk akan merasa gelisah ketika melihat tayangan TV ya… Makanya di rumah saya, TV sekarang ini hanya sebagai hiasan belaka, karena jarang dinyalakan.

    1. Benar sekali itu, Mbak. Sayangnya, masih banyak yang terlalu cuek dan tidak mau bekerja sama membangun masa depan lebih baik. Padahal mereka juga punya tanggung jawab penting terhadap generasi penerusnya. Ironis..

  2. Setuju Phie, minim banget sekarang tayangan mendidik. Benar-benar mengedepankan keuntungan, demi kejar rating saja. kerja di media pun serba dilema, punya ide ini itu, kalau gak laku juga gak akan ditampung 🙁 Kebetulan sy di jurusan komunikasi, jadi ya tahu-tahu sedikit….hehe

    1. Hai, Fitri 🙂
      Terima kasih sudah singgah. 😀
      Ya, miris sekali kalau lihat kenyataan di luar sana. Anak-anak sering jadi korban atas kepentingan orang dewasa. 🙁

  3. Hegemoni itu menurut dosenku dulu bukan istilah ekonomi tapi sosial politik, artinya kurang lebih dominasi suatu negara atas negara lain heheheee…. Menonton itu pilihan, terserah kita. Sebaliknya himbauan itu pilihan produser, terserah mereka. Ditinjau dari sudut pandang pengusaha, beban produksi yang besar, sewa2 alat & tempat mahal, apalagi kenaikan UMR yang ngawur, membuat mereka bisa ngawur juga. Menambah satu divisi lagi siapa yang nggaji? Tapi tentu saja itu bukan excuse. Harus ada aturan tegas & sanksi ttg suatu acara boleh tayang atau tidak di jam apa saja, termasuk iklannya.

    1. Trims atas pencerahannya, Mak Lusi. 🙂
      Kita berharap setiap elemen masyarakat bisa berperan dan mengedukasi diri, terutama orangtua.. jadi posisi anak-anak lebih terlindung dari produk-produk ga bener.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *