Bicara tentang mendampingi anak-anak belajar tentu bukan hal baru bagi saya. Namun, bagaimana jika yang didampingi adalah balita dan batita? Hei, kata orang pengalaman pertama itu takkan terlupa. Mungkin ada benarnya. Jadi, baiklah, saya akan membagi kisah serunya menjelajah Museum Dirgantara bersama krucil TPA Beringharjo. Sudah siap? Lets go! 
Sabtu, 9 November 2013
Pagi-pagi sekitar pk. 07.00 saya sudah on the way ke kost mbak Lutfi di daerah Pandega Marta. Seperti biasa, kami berangkat bergoncengan ke TPA. Saat Ezy merapat di halaman TPA, di sana sudah menunggu anak-anak rapi memakai seragam. Baru kali itu saya melihat seragam mereka, bernuansa biru. Rupanya mereka sudah menunggu lumayan lama. Duh, jadi gak enak! Segera saja mbak Lutfi mengeluarkan spidol warna-warni dan kertas label. Ya, supaya mudah dikenali, mereka dipakaikan name tag sederhana yang ditempelkan di dada.
Saat itulah saya berkesempatan juga berkenalan dengan mbak Tita dari Matatours. Siapa beliau? Mbak Tita adalah sponsor acara piknik ini, termasuk menyewa bus kota untuk mengantar krucil dan para guru pendamping. O ya, mbak Tita tidak datang sendiri, ada suami dan si kecil Indira yang juga ikut.
Oke, kembali ke anak-anak. Saat pemasangan name tag, kami dibantu oleh guru-guru TPA. Kami kan tidak hapal nama tiap anak. 😛 Rupa-rupa ekspresi yang saya tangkap dari krucil ini. Ada yang girang; ada yang lempeng saja; ada juga yang ribut sendiri mengelus-elus name tag-nya sampai-sampai belum ada 5 menit sudah kusut lalu merengek minta dibuatkan lagi. Hahaha namanya juga anak-anak! 😆
Nah, keriuhan selanjutnya terjadi sebelum berangkat. Di halaman TPA, krucil dibagi-bagi berdasar kelas usia dan guru pendampingnya. Tiap anak bergandeng tangan dan berjalan berarak menuju bus yang sudah parkir di depan Museum Benteng Vredeburg. “Hohoho, kami siap menjelajah!” begitu mungkin yang ada di benak mereka. *iih sok tahu! 😆



Sampai di lokasi bus, dengan hati-hati krucil dibantu naik satu per satu oleh guru dan awak bus. Setelah semua masuk, oops … penuh sekali! Saya yang tadinya ingin ikut menumpang bus terpaksa mengurungkan niat. Untunglah, mbak Tita berbaik hati menawari kami untuk bergabung di mobil. Ada dua lagi teman dari Goodreads Jogja yang turut serta memeriahkan acara; mbak Niken bersama si kecil dan Indri. Kami semua menumpang mobil mbak Tita, dan mbruum … Opel Blazer hitam membawa kami menuju Museum Dirgantara.
Lebih kurang 20 menit kemudian, kami tiba di gerbang museum. Karena kami datang berombongan, maka harus melapor dulu ke pos penjagaan. Bus dan mobil pun melipir sejenak sembari menunggu mbak Tita selesai melapor. Setelah itu? Rombongan pun masuk ke areal parkir.
Di sana rombongan pun beristirahat sembari menikmati snack pagi selama lebih kurang 30 menit. Sambil menunggu anak-anak beristirahat, kami berkumpul untuk membicarakan arah perjalanan menyusuri museum serta pelaksanaan agenda lain, seperti menggambar dan membaca buku. O ya, seorang lagi dari Goodreads Jogja bergabung dengan kami, mas Bayu Hernawan.
Dari hasil pembicaraan, tour museum dilaksanakan lebih dulu, namun karena kondisi terlalu ramai, maka anak-anak pun digiring ke arah lain. Ya, menuju ke sebelah selatan bangunan museum. Di sana kami semua berkumpul untuk menggambar dan membaca buku.


Nah, setelah selesai membaca anak-anak pun diarahkan untuk memasuki museum. Hmm, gampang-gampang susah mengatur mereka. Sekali lagi, namanya juga anak-anak. Yang usianya lebih muda, jauh lebih mudah diatur … meski kalau kelelahan, gurunya juga yang bakal diminta menggendong hehe.

Di bagian akhir tour museum, kami masuk ke ruang audio visual. Di tempat ini, film singkat mengenai para penerbang ditayangkan. Hmm, keren pokoknya! Itu terlihat juga dari antuasiasnya anak-anak bertepuk tangan saat melihat adegan para penerbang melakukan akrobat. Di tengah film diputar, saya mendengar bisik-bisik dari para guru. Rombongan kami tak lengkap.
“Yang batita ke mana, Bu?” begitu yang saya dengar.
Saya ikut-ikutan melihat ke sekeliling, sekadar memindai apa benar bisik-bisik yang saya dengar itu. Iya, anak-anak memang tak sebanyak tadi. Pak Panca, salah satu guru TPA, pun mencari tahu lalu masuk kembali dan mengatakan bahwa para batita sengaja tidak dibawa masuk oleh guru pendampingnya karena mereka sudah lelah. Ooh, kasihan … 🙁

Akhirnya … usai film, kami keluar dengan tertib dan bergabung kembali dengan batita untuk makan siang. Menu nasi kuning bikinan rewang mbak Tita kami santap dengan lahap. Sebenarnya ini antara lapar dan doyan …. *ngaku 😆
O ya, demi kenyamanan anak-anak, rombongan dipulangkan dalam dua gelombang. Yang pertama, batita dan pendampingnya, tentu saja … mereka sudah lelah. Sambil menunggu bus kembali dan membawa para balita beserta pendamping, kami bermain-main di antara koleksi mobil. Satu hal yang membuat saya heran; anak-anak selalu punya energi untuk bermain, bahkan setelah kami bertiga (mbak Lutfi, mas Bayu, dan saya) sudah kelelahan meladeni keinginan mereka naik-turun mobil. Waduuh, energi dari makan siang terancam amblas! 😛 😆
Ya, namanya juga anak-anak. Mau dibilang apa juga tetap anak-anak. Akhirnya, saya hanya bisa menggeleng lemas karena lelah,
“Mbak Phie udah capek, naik mobilnya sama Mas Bayu ya ….”

Hahaha, maaf ya, Mas Bayu … saya terpaksa melempar tugas. Mana mungkin memaksa diri yang sudah lempe-lempe sementara sesampainya di TPA, saya harus pulang mengendarai Ezy dan mengantar mbak Lutfi ke kost? Daripada pingsan di tengah jalan, lebih baik menghemat energi. Iya kan? 😉
Setelah menunggu beberapa lama, bus jemputan pun datang. Karena bangku masih tersisa, saya minta izin untuk ikut naik bus. Well, kebiasaan saya mulai datang. Suka-suka saja menikmati suasana baru. Naik bus bersama balita? Kenapa enggak?! 😀

***
Seru kan? 😀 Jadi, adakah di antara Sahabat yang tertarik mengikuti kegiatan serupa bersama krucil TPA Beringharjo? Silakan menghubungi mbak Lutfi di Lrwahyudyanti[at]yahoo.com 😀