Belajar dari Rasa Lapar

Tak terasa, Ramadhan tinggal sebentar lagi. Ada satu hal penting yang selalu saya ingat ketika bulan mulia ini tiba: rasa lapar. Pelajaran apa yang bisa saya ambil dari rasa lapar? Hmm, saya harus berterima kasih kepada Bapak (alm.) yang tepat hari ini berulang tahun yang ke- 62 tahun. Dari beliau saya belajar tentang hal ini.

Selamat ulang tahun, Pak. Terima kasih untuk setiap inspirasi sepanjang hayat yang telah Bapak beri untuk kami semua. Semoga Gusti Allah SWT memberi Bapak tempat terbaik di sisi-NYA. Aamiin.  

… dan untuk mengungkapkan rasa terima kasih itu, saya akan membagi kisah bagaimana beliau mengajari saya tentang rasa lapar, hingga pada akhirnya membuat saya lebih berhati-hati memperlakukan makanan. Berikut ini selengkapnya. 🙂

Bapak bernama lengkap Herdjito Hadiwardoyo. Beliau lahir di Yogyakarta, 26 Juli 1952. Masa kecil beliau dihabiskan di kampung Tamansari, dekat dengan lingkungan keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Tidak banyak dari kisah masa kecil yang beliau bagi kepada kami, tapi sekali pernah beliau bercerita pada saya bahwa RM. Herjuno Darpito (saat ini Sri Sultan HB X) adalah salah satu teman bermain bola beliau kala itu. Entah, saya hanya bisa tersenyum mendengar kisah itu. Ekspresi khas anak-anak yang kagum kepada ayahnya. Beliau memang bukan orang yang banyak bicara. Jadi, sekali beliau berkisah/mendongeng, saya hampir selalu mengingatnya.

Sementara itu, masa remaja beliau sebagian dilalui di daerah Gundih, Purwodadi, Grobogan, Jawa Tengah. Bapak harus rela pindah karena mengikuti orangtua beliau. Ayah beliau/kakek saya [R. Purwoyo (alm.)] yang kala itu bertugas sebagai pegawai Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA), dipindahtugaskan ke Purwodadi. Di Gundih inilah, Bapak mengalami sebuah kejadian tak terlupakan; sebuah pelajaran berharga tentang rasa lapar.

Sebagai anak sulung, sudah barang tentu beliau diberi tanggung jawab lebih dibanding adik-adik beliau yang masih kecil. Satu di antaranya, membeli beras. Jarak rumah—pasar lumayan jauh. Bapak harus naik sepeda untuk pergi ke sana. Perjalanan pergi ke pasar, lancar. Begitu perjalanan pulang, beliau tidak pernah terpikir bahwa karung beras yang beliau bawa ternyata bocor. Baru saat sampai di rumah, beliau sadar. Simbah yang tahu, sontak marah, Bagaimana bisa kamu seceroboh itu, Le? tanya Simbah. Maklumlah, harga beras masih lumayan mahal, sementara gaji Simbah tak seberapa besar kala itu.

Satu kata yang beliau rasa setelah kejadian itu, menyesal. Kejadian itu membuat beliau lebih berhati-hati. Karena pengalaman berharga itulah, Bapak selalu berpesan kepada saya dan adik-adik untuk menghargai tiap butir nasi dan makanan. Itu bukan sekadar ucapan, atau nasehat. Beliau selalu meneladankan makan sampai habis secara konsisten. Ya, sesuai prinsip: ambil secukupnya dan habiskan.

Hmm, kalau saya pikir baik-baik, teladan Bapak secara tidak langsung juga memberi kesempatan saya untuk belajar berdisiplin terhadap makanan. Kebiasaan ini juga yang sering membuat saya merenung ketika menjumpai seseorang menyisakan makanan di piring dengan seenaknya. Lalu, saya akan merasa sangat iba dan bertanya dalam hati, Apa orangtuamu tidak pernah mengajarimu untuk menghargai makanan?

dont waste good foodcredit

Pertanyaan itu makin kentara dan sering terulang dalam hati beberapa tahun setelah Bapak meninggal. Terutama, setelah saya berkesempatan menempuh studi di Fakutas Pertanian UGM; makin sering hati saya kisruh karena melihat cara orang-orang memperlakukan makanan mereka. Tidak semua orang berlaku demikian, memang, tapi ada dan banyak jumlahnya. Tidak hanya skala rumah tangga, tetapi juga skala industri, seperti yang tergambar dalam film pendek berjudul WASTE produksi SCHNITTSTELLE THURN GbR bekerja sama dengan WWF Germany, UNEP, SIWI dan FAO berikut ini.

Ya, saya memang tidak berhak mencampuri urusan orang-orang tentang uang mereka, isi kantong belanjaan mereka, juga makanan mereka.

Beli makanan dengan uangku sendiri, terserah dong mau kuhabiskan atau kubuang!

Mungkin akan ada kalimat semacam itu yang terlontar kemudian, jika saya mengingatkan orang-orang ini. Kedengaran menyakitkan, ya, memang demikian. Jadi, tanpa bermaksud menggurui, saya ingin mengingatkan Sahabat sekalian yang baik hati dan budiman, … sebelum berkata seperti itu, cobalah untuk mengingat kembali orang-orang di luar sana yang makan sehari sekali pun tidak tentu; yang terpaksa mengais tempat sampah demi mendapatkan makanan; atau saudara-saudara kita yang kekeringan, paceklik, dan kelaparan di belahan bumi lain.

Coba ingat juga bahwa untuk menghasilkan makanan siap santap, ada proses begitu panjang. Mulai dari petani, bibit, air, pupuk, energi matahari, tenaga manusia/hewan, mesin pertanian (plus bahan bakar), mesin pengolahan pascapanen (plus bahan bakar), sarana penyimpanan/lemari pendingin, sampai kendaraan untuk distribusi (plus bahan bakar), gas dari kompor untuk memasaknya dan tenaga ibu/juru masak. Ada banyak sekali sumber daya manusia, sumber daya alam, energi, dan tentunya biaya yang terlibat dalam proses tersebut; yang harus dikeluarkan demi mengisi kebutuhan perut kita. Bukankah dengan alasan itu sudah sepatutnya kita semua menghargai makanan, bumi, dan alam semesta? Caranya?

Beberapa poin ini bisa dicatat sebagai tips:

  1. Mari belajar bertanggung jawab dan disiplin dari rasa lapar.
  2. Makanlah hanya jika telah lapar.
  3. Ukur kapasitas diri. Ambil makanan secukupnya dan habiskan.
  4. Jadilah panutan bagi keluarga kita dengan mengurangi limbah makanan.

 

blog_adv_think_eat_save (1)credit

So? Let’s think, eat, and save food! Mencintai bumi dan lingkungan bisa kita mulai dari diri sendiri, dari hal-hal kecil semacam ini. Bon appétit a.k.a selamat makan, Sahabat! 😉

 

PS: thanks to my beloved Dad and Hijauku.com for this green inspiration

0 thoughts on “Belajar dari Rasa Lapar

  1. Aku pernah baca di mana ya, resto gitu kalo makannya gak habis, pengunjungnya kena extrq charge. Katanya karna sudah menutup kesempatan org lain buat dpt sumber daya makanan yg akhirnya terbuang itu.

  2. @Alam: kalau lapar, makan dulu sana 😛 *korban iklan*

    @Aqied: nah, peraturan macam begitu yang mestinya diberlakukan di semua restoran. biar yang merasa punya uang lebih ga seenaknya buang-buang makanan. 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *