Ibuku seorang janda
Hampir berumur setengah baya
Ditinggal pergi suami tercinta
Diwarisi dua putri satu putra
Ibuku seorang janda
Tapi kini statusnya ganda
Jadi ayah juga ibunda
Bagi ketiga anaknya
Ibuku seorang janda
Berjuang keras nafkahi keluarga
Meski umur tlah batasi geraknya
Tak beliau berhenti berusaha dan berdoa
Ibuku seorang janda
Beliau seperti adanya
Makhluk Tuhan nan biasa
Tapi buatku, ibuku idola
Meski beliau seorang janda
Saat orang bertanya padanya
Mengapa tak ingin lagi berdua
Mengganti kosong hati dan jiwa
Merajut kasih dan cinta
Ibuku seorang janda
Tak ingin berbagi beban di hari tua
Bersama orang yang tak mengenalnya
Ada sebuah janji setia di hatinya
Terpatri teguh menantang dunia
Meski dua cinta pisahkan raga
Tak lekang rasa sampai akhir masa
Ibuku seorang janda
Dan itulah mengapa aku bangga
Jadi anak sulungnya
Karena ibuku seorang janda
Dari sinilah ku dapat bertahan
Belajar dari setiap ketangguhannya
Berlatih dari keteguhan hatinya
Bercermin dari optimis pikirnya
Karena esok hari akan tiba
Tak perlu sedih hati dan putus asa
(Ibuku Seorang Janda, Karangsari, 13 April 2004)
Kulongok kembali lembaran puisi lima tahun silam, di hari yang benar istimewa bagi Ibunda. Tak ada ingin dan niatku mengkultuskan status beliau yang ’janda’ alias widow itu ke muka publik. Aku hanya ingin melihat dari sisi yang kebanyakan orang tak memperhatikannya.
Status janda kadang dinilai orang sedikit lebih rendah dibanding perempuan yang bersuami. Ah, mereka pun tahu, sebenarnya tak ada yang ingin menjadi single parent.Kalau pun boleh memilih, setiap istri pasti berdoa agar suaminya diberikan panjang usia, bisa membina mahligai rumah tangga selawasnya bahkan kalau mungkin hingga akhir zaman. Namun apalah daya, makhluk hanyalah menjalankan titah Sang Maha Esa; menjalankan lakon hidup tanpa skenario bak acara ”Akhirnya Datang Juga”; mereka-reka rencana terhebat, terbaik, terbesar dalam lakon sandiwara kehidupan. Sekali lagi, apalah daya.. saat Sang Maha Dalang berkehendak, wayang-wayang kesayangan bisa jadi harus masuk kotak, tak pernah kembali ke pentas.
Aduhai sayang, istri-istri mengaduh kesakitan. Sejenak butiran air matalah yang akan mampir di sebagian besar hidup mereka.
Pun demikian halnya dengan Ibunda. Kisah hidup yang pahit, hari-hari yang getir.. terkadang diselingi deras air mata.
Hmm, perempuan mana yang tak mengerti apa arti air mata? Ia akan setia menghampiri kapan pun tiba saat istimewa. Senang, sedih, haru, bangga.. lengkaplah dengan kehadirannya. Tapi terkadang, perempuan dianggap cengeng dan lemah hanya karena ia ’hobi’ merinaikan butir-butir air mata. Pandangan yang keliru, menurutku. Karena konon kabarnya itu juga yang melahirkan begitu banyak perempuan tangguh di luar sana, termasuk yang memutuskan berstatus single parent. Seperti Ibunda atau pun ibu-ibu lain.
Kusimak banyak kisah tentang ibu single parent, tak semua berhasil mewujudkan cita-cita terhebat anak-anaknya, tapi banyak di antara mereka yang oleh sebab status itu kemudian berupaya keras memberikan yang terbaik untuk putra-putrinya.
”Paling tidak akulah yang harus bertahan lebih tangguh untuk kalian anak-anakku..” begitu suatu ketika kudengar penuturan Ibu.
Pemikiran sederhana inilah yang kian lekat memotivasiku. Beliau punya cara tersendiri untuk membuatku belajar mendewasa perlahan. Satu di antaranya memberiku kepercayaan; hal terberat yang beliau sandangkan di kedua bahuku.
Kata beliau,
”Ibu percaya padamu, takkan ada yang kau lakukan lebih dari apa yang diperbolehkan, sekalipun Ibu tidak pirsa..”
Belum lagi saat beliau harus melepasku pergi dari rumah untuk heregistrasi kelas 2 SMU tepat dua minggu lepas kepergian Bapak, inilah yang terucap saat kujabat tangan beliau,
”Subhanallah.. Hati-hati di jalan yaa..”
Kalimat itu seolah berbisik padaku,
”Pergilah, raih cita-citamu.. tiada artinya terlarut bersedih.”
Dan, lima tahun belakang, makin santer beliau memberiku wejangan. Saat santai, beliau biasa menggodaku, sepert ini:
”Sebentar lagi lulus, sudah siap?”
-… sekalipun cukup lama aku berkutat di laboratorium hingga merelakan diri menjajaki 2 tema penelitian yang gagal, dan akhirnya berdamai dengan tema terakhir, aku merasa belum siap lulus kala itu-
atau
”Kau boleh bercita-cita setinggi langit, tapi ingat kodratmu perempuan..suatu ketika juga mesti menikah”
-… untuk yang satu ini, aku tidak dapat sedikit pun memungkiri.. ya, aku perempuan-
atau
”Berapa usiamu sekarang? Sudah punya calon belum? Mau nunggu apa, nunggu Ibu tua?”
-… nafasku tersengal tiba-tiba kala kusadari usia beranjak dan belum juga menemukan calon imamku, hmm.. 🙁 Ibu.. andai beliau tahu, satu risauku itu kadang terbawa menemani lelap tidurku. Ahh.. I have been doing my best, Mom. I promise..–
Ah, meski kadang ’wejangan’ itu terasa dalam hingga menyesak di hati.. aku mencoba memahami, begitulah cara beliau menempa, membimbingku menjadi perempuan yang lebih baik darinya.
Terima kasih, Ibu..
Kasih sayangmu sepanjang jalanku, walau penuh liku engkau biarkan aku menikmatinya. Membiarkanku mencoba hal-hal baru, menikmati dunia dan membuat segalanya menjadi lebih indah.
Happy Mothers Day, Mom!
-Karangsari, 22 Desember 2009, direvisi di Bulaksumur, 8 Juni 2010-