Senin 18 Juli 2011
Angelina Jolie sepertinya kali ini ‘kena batunya’ menghadapi anak-anaknya. Pasalnya, maksud hati ingin mengajari anak-anaknya budaya lain, justru kini Jolie yang terpaksa melarang mereka membiasakan ‘budaya’ tersebut di rumah.
Budaya ini tak lain adalah kebiasaan makan serangga, seperti mereka yang tinggal di Kamboja. Dalam kunjungan beberapa saat lalu ke negara ini bersama anak-anaknya, sang aktris bermaksud mengenalkan budaya setempat, termasuk makan serangga goreng.
Tak disangka, putra-putra Jolie justru menyukai hidangan serangga ini, bahkan sampai membawanya pulang. Tak hanya itu, mereka pun sama sekali tak jijik dan menyantapnya bak camilan.
“Putraku suka makan jangkrik. Itu makanan kesukaan mereka. Ketika pertama kali kuberikan pada mereka, aku ingin mereka tak jijik dengan apa yang tidak ada di budaya mereka. Jadi aku membelinya dan mereka justru menyantapnya seperti makan Doritos (merek makanan ringan),” aku Jolie di sela-sela syuting video untuk kampanye Core Values bersama Louis Vuitton.
“Dan mereka tak mau berhenti dan membawa pulang beberapa kotak. Sampai akhirnya aku harus melarang mereka makan jangkrik karena aku takut mereka sakit karena makan jangkrik terlalu banyak. Tapi mereka hebat!” pungkasnya. Maddox, anak tertua Jolie, berasal dari Kamboja. The culture is in his blood, eh? (cmc/mae)
sumber dari sini
Hehe, rupanya bicara soal yang satu ini seru juga. Hmm, bukan hanya artis selevel Angelina Jolie yang megap-megap karena serangga, tetapi tema yang satu ini sepertinya juga membuat saya penasaran. Saya jadi ingat beberapa waktu yang lalu Jogja kembali heboh dengan munculnya jenis ulat baru yang menyerang lahan pertanaman jambu mete. Saya sendiri mendengar langsung dari dosen, Pak Suputa yang keesokan harinya menyempatkan diri melakukan observasi di daerah Semanu, Gunung Kidul. Bicara tentang Gunung Kidul, pasti kita tidak asing lagi dengan yang namanya obyek kuliner serangga. Katakan saja belalang goreng, di sepanjang jalan di daerah ini banyak warga yang menjajakannya. Tidak hanya di Yogyakarta sepertinya kuliner serangga ini menjamur. Di daerah lain di Indonesia pun tidak kalah, bahkan di luar negeri sana.
Dulu saya pernah menonton liputan perjalanan beberapa petualang di daerah Papua. Siapa yang tak kenal pohon sagu? Pokok pohon sagu yang telah ditebang kemudian membusuk kadang dihuni oleh sejenis kumbang. Larva kumbang tersebut (orang Jawa akrab menyebutnya gendhon, red.), itulah yang diincar. Nah, seorang pribumi Papua menunjukkan lauk lezat yang bahkan (menurut pengakuan mereka) dimakan mentah pun rasanya enak. Saya sedikit jijik dan bergidik melihat mereka mempraktekkannya. Hm, ini bukan acara Fear Factor! Jadi, bukan untuk menaklukkan rasa ngeri dengan makan sebanyaknya serangga mentah semacam kecoa madagaskar yang harus ditelan bulat-bulat demi segepok uang! Yeaakk..! Ah, dasarnya memang sudah mendarah daging mungkin, sehingga bagi mereka tidak ada lagi rasa jijik karena mereka tahu ini lauk bergizi tinggi (meski semestinya mereka juga tahu apa keuntungannya bila memasak dahulu apa pun yang mereka makan :D). Lain lagi dengan yang saya lihat di sebuah liputan berita dari Cina, kalau saya tak keliru ingat. Di sebuah sudutkota di negara tersebut terdapat sebuah restoran yang menyediakan menu berbahan serangga sebagai menu favorit. Beberapa konsumen percaya bahwa mengkonsumsi serangga bisa menjadi alternatif penyembuhan penyakit tertentu. *oh ya?? ❓
Larva tawon, ulat jati, belalang kayu, kepompong.. rasanya itu bagian serangga yang dapat dikonsumsi. Hm, ya.. ini seperti menilik kembali kisah bocah petualang saya semasa nenek masih ada. Di depan rumah beliau ada sebuah pohon kedondong. Saya biasa bermain ayunan di situ. Setahun sekali pasti ada masanya pohon itu habis daunnya, nyaris gundul dikeroyok ulat bulu. Tentunya saya tidak akan mengganggu mereka dengan bermain ayunan, bisa “hujan lokal” nanti.. hiii, ngeri! Saya rela menunggu tidak bermain di halaman depan rumah beliau hingga si ulat berganti fase menjadi kepompong. Setelah ulat tersebut menjadi kepompong.. Nah, waktunya panen raya! Setelah kepompong yang masih terlindung oleh benang-benang berwarna kuning berhasil diunduh, saatnya untuk menyiapkan segala hal. Mulai dari memisahkan bagian benang dengan kepompong, lalu mencuci bersih kepompong hingga menyiapkan bumbu dan menggorengnya. Nenek saya cukup sederhana mengolahnya, dicelup sebentar ke dalam bumbu bawang-uyah (bawang putih dan garam dihaluskan, red.) lalu digoreng. Jadilah lauk yang enak disantap dengan nasi hangat.
Pengalaman masa kecil saya ini membuat saya penasaran, apakah teman-teman saya juga pernah memiliki pengalaman semacam ini? Lewat survei kecil-kecilan yang saya lontarkan via SMS tertanggal 2 Juni 2011, akhirnya terkumpullah sekian banyak testimoni. Hm, beberapa di antara komentar teman-teman membuat saya terkekeh 😆
~~
Ada seorang, saking banyaknya punya pengalaman, bahkan membagi saya cara memasaknya.. sepertinya beliau ini pas dijadikan host acara INSECT CULINARY. Adalah Soni, kakak angkatan saya yang kelahiran Gunung Kidul memberikan respons seperti berikut ini,
“Menu serangga? Hm, tergantung bumbunya. Kalau uyah bawang sih sudah cukup enak. goreng garing dengan api kecil, makan pas hangat lebih nikmat. Beberapa orang bilang rasanya seperti udang, tapi bagiku ya beda saja rasanya. Hati-hati alergi protein tinggi. Kalau kepompong seperti makan susu dalam tablet, cpluss.. sluurp gitu..”
Lebih lanjut lagi, disambung di SMS berikutnya,
“Kalau yang lain belum coba baru sekitar belalang dan kepompong ulat jati. Oya, jangan lupa buat masak belalang dihilangkan kotoran perutnya. Agak pahit kalau belum bersih! dan, sayapnya juga, itu buat lengket di lidah. Pernah nih makan belalang hampir 2 harian (dapat oleh-oleh dari Gunung Kidul) eh BAB-nya agak perih, lecet kali kena zat kitinnya.. hihihihi, maaf agak jo*ok”
Wah, blak-blakan juga nih, hehe. Maklumlah Mas Soni sudah akrab dengan saya semasa aktif di Ikatan Mahasiswa Hama Penyakit Tumbuhan (IMHPT) dulu. Eh, sebentar.. apa memang zat kitin kadar tinggi akan mengiritasi saluran cerna? Sepertinya saya perlu menelusur lebih lanjut. *penasaran ❓
~~
Kakak angkatan saya yang lain, Yoga, mengisahkan,
“Aku pernah makan belalang kayu, belalang kembara, & ulat jati. Nek belalang enake digoreng pakai bumbu pedas manis. Nek ulat jati digoreng pakai uyah bawang tok. Tapi nek ulat jati bikin sebah di perut.” (nek = kalau, red.)
Hmm, ulat jati menyebabkan rasa sebah di perut? Kira-kira kenapa lagi ya? Apa juga ada kaitannya dengan dugaan kandungan kitin? Wah, dapat PR lagi ini.. *tambah penasaran ❓
~~
Ada pula teman seangkatan waktu S1 tetapi studi di lain fakultas. Adalah Setyo, dara kelahiran Trenggalek yang kini bekerja di Malang ini mengaku sebagai berikut,
“Dulu waktu masih bocah, saya pernah makan laron yang digoreng sangrai. Pernah juga makan belalang goreng. Keduanya berasa gurih bagaimana gitu. Pernah juga makan bothok dan masakan berkuah berbahan larva dan rumah lebah. Rasanya juga gurih-gurih bagaimana gitu. Kalau sekarang kanjarang menemukan kuliner berbahan serangga. Misal ada mungkin saya akan berfikir ulang untuk makan mereka lagi, hehe ndak biasa mungkin..”
~~
Seorang teman saya yang dosen politeknik di Banjarnegara, Eko mengaku,
“Larva lebah madu, Mbak. Kalau kumakan ceplus-ceplus disayur pakai daun singkong apa ya.. Parutan kelapa mudanya juga ada. Jaman SD-ku simbah ku pernah mbuat.”
***
Di lain pihak, ada pula yang mengaku tidak doyan makan serangga *ah, masa sih? 
“Hehe, belum pernah, Mbak. Untuk orang-orang yang punya alergi kan bahaya haha yang ada kecelakaan tidak sengaja dimakan..”
begitu pengakuan adik angkatan saya, Paramita. Ia memang punya alergi protein, salah-salah makan bisa fatal akibatnya. Jadi, alasan semacam ini saya terima 😀
~~
Ada lagi, Heti, adik sepupu saya yang pribumi Purwokerto mengatakan,
“ra tau mangan, ra doyan Mbak.. yeeaak!”
Hihi, saking merasa jijiknya mungkin sampai pakai “yeeaak” segala. 
~~
Atau juga komentar Iis, tetangga beda RW
“aku ra nggragas, Bu.. aku ora doyan serangga.. hehe..”
Olalaa.. doyan serangga dibilang nggragas?! Saya sih lebih suka dikatakan polifag [baca: pemakan (hampir) segala jenis makanan] hehe, setali tiga uang itu namanya.
~~
“Hwaa.. gak kebayang kalau makan peyek Cocci, hehe..”
Kiyo, adik angkatan saya yang saat ini bertugas di Bangka berseloroh seperti Itu. Hmm, inilah sisi lain alumni kru lab Entomologi Dasar. Cocci (baca: koksi, red.)? Itu nama lain dari kumbang helm. Dulu saya dan teman-teman suka menyebut hewan ini dengan kepik, padahal mereka termasuk dalam ordo Coleoptera (common name-nya kumbang). Penasaran seperti apa yang disebut Cocci itu? Ini dia gambarnya! (sumber dari sini)

~~
Ada juga yang menjawab dengan gaya konyol (sambil saya membayangkan gaya khas mBanyumasannya eh Cilacap ding). Gilang berkata,
“Tiap hari Mbak, saya minum air rasa semut gara-gara malas bersihin :p”
Ada-ada saja adik angkatan saya yang satu ini 😆
~~
Yang termakan secara tidak sengaja juga pernah, seperti kata teman SMU saya sekaligus sohib blogger, Fikri,
“Dapat bonus protein di sepiring nasi pecel…ulat bayam, yumm..”
~~
Kalau sahabat blogger yang lain? Ada si empunya Tunsa Blog, Ari Seti Muhardian, yang katanya seperti ini,
“Aku gak pernah Mbak. Paling dulu aja waktu kecil makan belalang, dibakar di sawah, hehe”
Meski saya belum pernah sekali pun berkunjung ke Pekalongan, tapi saya percaya kok kalau Ari memang kecilnya mbandel.. tuh, mainnya saja di sawah. Hihi, pizz.. kita sama-sama bolang, Ri! 
***
Ya, demikianlah survei kecil-kecilan saya meminta pendapat teman-teman dari berbagai kalangan. Sekadar mencari tahu karena saya masih saja suka penasaran dengan makhluk Tuhan yang istimewa ini, serangga. Hmm, boleh jadi itu satu di antara sekian alasan yang membuat saya (telanjur) jatuh cinta dengan pilihan kedua saat Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) sembilan tahun lalu. Bagaimana pun anggapan orang-orang tentang serangga, tentang hama, tentang bagaimana mereka dibuat kesal oleh ulah serangga, saya tetap suka dengan serangga.. he, kekeuh! Saya ingin tahu pendapat sohib blogger lain soal kuliner serangga.Ada yang berani menambahkan testimoni? Saya tunggu.. Ingat ini bukan acara Fear Factor, jadi santai saja, please.. 
saya pernah makan apa ya? bingung… soalnya saya tinggalnya di daerah pantai… serangganya bentuk ikan boleh nggak ya? nyiahahhahahaha
widiih.. nawar nih si anak pantai 😛
saya dari kecil sering menyaksikan orang memakan makanan seperti serangga, ulat dan sehenisnya. tapi saya sendiri merasa jijik, dan tak suka. 😀
hehehe 😀
pokoknya saya mau oseng2 belalang, gak mau yg lain 😀
naah kan, si Ari ketahuan ya bolangnya 😀
Saya sih pengennya sate kelinci… 😀
*maap ga nyambung*
sate kelinci di Kaliurang banyak tuh, Sop 😆
*nanggapi yang ga nyambung*
Waktu kecil saya sering makan belalang bakar. Sekarang mending makan bebek panggang saja. Hehehe
bebek panggang.. itu sih saya juga suka, Pak
lum pernah makan serangga,sepertinya ga doyan saya.
Oh, ga doyan, Mas? punya alergi ya?
dulu sering makan laron yang masaknya disangrai gitu, kasih garam dikit, bisa dicemil atau makan pake nasi putih anget.. uenaak.. gurih, krinyis2.. 😀 tapi sejak tinggal di komplek perumahan dan mungkin karena udah banyak yg melakukan pembasmian rayap, jd jarang ketemu laron lagi.. kangey euy.. :'( pernah jg nyemili cacing yg udah dijemur sampe kering (lumbricus rubellus klo nda salah).. waktu kecil pernah makan bothok larva tawon (sama ngunyah2 sarang tawon bermadu yg dicuil kecil2) tp sekarang dah lupa rasanya.. kynya enak, soale doyan..
lg kepingin banget ngicip enthung, belalang goreng, dll.. pas sowan ke jogja kemarin nyoba nitip ke sodara yg tinggal di blora, tapi katanya belum musim, jd belum kesampean deh nih.. ada yg bersedia ngirimi liwat paket ke jakarta? 😀 haha..
wah, rupanya Dini banyak punya pengalaman ya untuk kuliner unik macam ini. tetap semangat deh.. hmm, kalau kirim lewat paket ya harus punya kenalan di Gunung Kidul atau tempat lain yg punya menu kuliner yg diinginkan donk hehe
serem ah
hehe, tergantung mungkin stadia serangga yang mana yang dikonsumsi
salam kenal, Rizal 🙂
jangan menghina bahan makanan serangga bro, sejak Mei 2013 FAO (badan pangan dunia) PBB menyarankan memakan serangga untuk mengatasi kelaparan dan obesitas penduduk dunia
menghina? maksudnya?