“Coba lihat itu.. Di sana!” teriakku.
“Iya, itu bagus seperti gajah. Yang itu.. lihat!” jawabmu.
“Iya.. itu seperti hamparan bunga kol. Hahaha..”
Er.. Aku terngiang suara tawa dan celotehan kita. Ketika tanganku menunjuk ke atas, ke arah gumpalan awan yang selalu kita puja. Ingatkah dengan pohon kersen di samping rumahku? Dari sana biasanya kita akan menggelantung bersama melewatkan siang di kaki Merapi. Kadang kala, kau memberiku waktu bermain di halaman rumahmu yang luas. Tentu, pepohonan kelengkeng di sana membuat kita betah bermain seharian menikmati langit dan gerombolan awan.
Masih ingatkah pada larik lagu ini?
Awan-awan melayang di langit
Pohon-pohon willow melambai
Awan merah di tengah lembah
Bagai burung menuju sarangnya
Ya, itu lagu yang selalu kita nyanyikan bila siang terlampau terik dan hanya rumah pohon bohongan yang menaungi kita. Ajaib.. kita tak pernah kehilangan akal kala itu. Selalu ada hal yang seolah membuat kita terpancang ke atas, mendongak berlama-lama menekuri langit tanpa batas. Serupa dengan sekian banyak mimpi yang kaubawa pergi ke sebuah negeri nun jauh di sana beberapa puluh tahun kemudian.. Sayangnya, impian itu terenggut paksa.
***
27 Agustus 2010
Masihkah kau ingat pertemuan terakhir kita?
“Kirimi aku ceritamu dari sana ya..” pintaku padamu ketika itu.
Kau hanya mengangguk, hanya diam lalu tersenyum. Beda, ada yang beda denganmu, Er. Biasanya kau ceriwis mengomentariku macam-macam. Tapi, mengapa waktu itu..? Mungkin saja kau sedih melepasku.. Aku pun kehilanganmu. Ah, tapi kau hanya berpindah tempat. Masih di bumi, di bawah naungan langit yang sama. Aku tak minta banyak, Er.. Tetaplah kisahkan awan-awan dari sana, seperti kala kita asyik menggelayuti pepohonan.
***
5 November 2010
Merapi meradang dan inilah yang terbesar. Dua hari yang lalu kau katakan titip Peyang, kucing kesayanganmu. Kau memaksaku suka pada kucing sejak kau pergi dari kaki Merapi. Hmm.. kenapa kau tak bisa berubah? Selalu merepotiku, bahkan untuk hal-hal remeh. Arrggh..
***
9 Maret 2011
Kau katakan akan mengirim e-mail dan foto juga kisah awan dari Tohoku. Kau sudah berjanji akan mengirimiku foto langit empat musim ala Jepang. Kutunggu e-mailmu. Pagi beranjak pun aku masih belum pergi dari layar laptopku: menunggu kirimanmu, Er. Nyaris bosan, aku pun pergi meninggalkan kamar.
“Er, awas ya kalau kauingkari janjimu sendiri!” dengusku kesal sembari mematikan laptop.
Kulajukan motorku meninggalkan rumah. Di taman kota, semua kekesalan kutumpahkan. Kau tentu tahu betapa aku tak suka berpusing memikirkanmu apalagi karena kau ingkar janji. Kebiasaanmu menunda itu, tak berubah.. Payah! Bukan kali pertama, tapi tetap saja membuatku kesal.
***
11 Maret 2011
Sudah kutepiskan sisa kekesalanku dua hari sebelumnya. Sedari pagi aku sudah siap online. Ingin sekali bisa mengucapkan selamat ulang tahun langsung padamu, Er. Kalau webcam tak mau membantuku, setidaknya aku bisa chatting. Berharap begitu.. Berharap bisa memamerkan lukisan langit kaki Merapi yang belum lama kautinggalkan. Aku sudah belajar beberapa angle foto dari Pak Yan, pemilik Studio 23 di gang Sahlan. Berharap itu akan jadi kado termanis untukmu. Hmm.. tapi mengapa berulang kucoba, lagi dan lagi.. Seharian pun tak bisa! Koneksi hari itu buruk sekali. OMG! Aarrggh.. kesal!!
Kekusutan hariku bertambah ketika ibu memanggilku dari arah ruang depan.
“Vik, gempa…! Jepang kena gempa..!”
Mendengar kata Jepang, aku bergegas meninggalkan laptop (nyaris) bututku. Pias wajahku memandangi layar televisi. Berita simpang siur melaporkan keadaan, tapi hanya satu yang memenuhi lipatan otakku. Kau, Er.. kau..! Erwinda Martina Putri, sahabatku sejak kanak-kanak. Berbondong penyesalan datang menyesaki rongga dadaku. Tangisku tertahan,
“Maafkan aku, Er..”
“Tulisan ini diikutkan pada Giveaway Satu Tahun dari blog celoteh .:tt:.“

GA-nya berhadiah buku, ‘kan? 🙂
iya, Sop.. kalau ndak keliru ingat judulnya Suburban Love apa ya? 🙂
ayoo, ikuta ngeramaikan, Sop. masih sampai tanggal 31 Maret lhoo!
Erwinda Martina Putri telah menumkan awannya sendiri.
Selamat mengikuti giveaway
terima kasih, Pak Alam.
selamat menjelang hari Air sedunia & menyambut Earth Hour 2012 ya. sukses untuk kita semua 😀
ini beneran ya mbak?
wah, salut deh berani sebut nama seseorang di blog
kalau saya paling nyinggung-nyinggung aja dikit, gak berani ceritain kejadian sebenarnya sedetail itu
hehe…
Weh, bukan, Puch.. Ini piksi, eh fiktif belaka.. tanggal tersebut diambil untuk membuat kronologisnya saja. jadi memang ada yang berdasar fakta, tapi juga dibumbui dengan fiktif.. begitu 🙂
eh.. ini fiktif toh.. tadi aku saking terhanyutnya kirain kisah nyata lho mbak
weeh, masa sih kaya kisah nyata, Mel ❓
Kukirimi potoku aja mau? Hehehe, sukses buat GA-nya ya… 😉
mana coba fotonya, pengen lihat, Sak 😀
terima kasih ya sudah singgah di SPP, salam kenal
Phie, sudah dapat kabar Er? Semoga Er selamat dari gempa itu…
Memang seperti kisah nyata fiksimu ini.. Terimakasih ya..
Btw, maaf atas kesalahan namanya.. hehe..
makasih, Mbak. eh, iya Mbak Tt.. ndak apa, namanya juga manusia ada kalanya keliru. pizz aah
waktu kecil bukannya kita juga hobi manjat pohon ya ? pohon jambu di tempat mbak jatu, pohon talok (skrg udah dibangun rumah ya?), trs pohon klengkeng depan rumahku …sambil nyanyi2 …seru ya jadi anak kecil…tanpa beban…hanya bermain dan bermain …kalo inget jaman dulu, kita tu lucu ya. kadang kita sahabat karib, tp jg kadang musuhan. namanya jg anak2. hehe
hehehe.. sengaja atau tidak inspirasi dari flash fiction ini bersumber dari memori masa kecil kita lho, Mbak Erlita
thanks ya sudah membuat masa kecil kita sangat berwarna.