Bicara soal hari kemerdekaan tentu bukan perkara asing bagi kita sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tiap daerah tentu memiliki ciri khasnya, termasuk di kampung tempat saya lahir dan tumbuh mendewasa, Candi Karang. Mulai dari lomba skala kampung hingga malam tirakatan, dan panggung rakyat hampir selalu ada; kecuali untuk beberapa tahun belakang. Pentas tahunan tidak dapat diadakan karena bertepatan dengan bulan Ramadhan.
Biasanya sebelum malam puncak, beragam lomba individu atau kelompok diadakan untuk memeriahkan rangkaian acara. Saya termasuk anak yang getol ikut lomba sana-sini, tentu saja itu menggoreskan kenangan dan kesan tersendiri, terutama jika saya beruntung dan memenangkan beberapa di antara hadiah yang disediakan oleh panitia. Sama seperti anak-anak desa kebanyakan, ada rasa bangga manakala nama saya dipanggil lalu didaulat naik panggung untuk menerima hadiah dan bersalaman dengan tokoh masyarakat. Kelihatan sangat keren! 😀
Kenangan paling berkesan adalah saat perayaan tahun emas, 50 tahun Indonesia merdeka (tahun 1995). Waktu itu saya menjuarai beberapa lomba, di antaranya lari kelereng, balap karung, dan baca puisi. Dua lomba pertama itu karena memang saya suka balapan lari jarak pendek, bolehlah dijuluki “Gadis Sprinter” 😉 Tapi, bila ditanya mana yang paling berkesan? Jawabnya tentu lomba baca puisi.
Waktu itu, lomba masih diadakan di tingkat pedukuhan, sehingga kalau ditotal ada tiga wilayah rukun warga (RW) yang berpartisipasi. Ramai nian bersaing dengan teman-teman usia SD-SMP. Tema yang diangkat adalah kesenjangan sosial. Entah karena penjiwaan yang pas dengan puisi yang saya pilih atau bagaimana, dalam lomba itu, saya sebagai peserta termuda (SD kelas 5) mampu menyisihkan peserta lain dan meraih juara I. Juara lomba baca puisi tingkat pedukuhan Candi Karang? Alhamdulillah, lumayanIah 😆 Kegemaran saya terhadap puisi memang sudah terbangun dari masa sekolah dasar. . dan sungguh saya kian terpacu membaca dan/atau menulis puisi setelah moment berharga itu.
Rasa-rasanya di tahun itu kesannya sangat sempurna, kenangannya membekas jelas hingga detik ini. Selain menjadi pemenang beberapa lomba, saya sekaligus tampil mengisi acara. Tidak tanggung-tanggung, dua tari kreasi baru (Tari Ronggeng Parung dan Tari Payung) serta pentas kolosal “Suara Anak Bangsa“ bersama anak-anak Candi Karang. Tari Ronggeng Parung dan Payung saya bawakan bersama dua orang teman, Sulis dan Ratna. Kedua tari ini kami pelajari dari mbak Mita, seorang mahasiswa ISI tingkat akhir yang sekaligus menjadi guru tari kami. Beberapa tahun sebelum pentas itu saat masih kost di rumah orang tua Sulis, mbak Mita menghimpun kami dalam sanggar bernama Pareanom. Ah, betapa menyenangkannya masa-masa itu. 🙂
Yang membuat kami kegelian adalah saat berdandan kami diwajibkan memakai kain dobel. Ini lagi-lagi akal kreatifnya mbak Mita. Beliau selalu punya cara agar anak didiknya bisa tampil maksimal dengan kondisi fasilitas minimal sekalipun! Ya, tidak ada fasilitas ruang ganti di balik panggung rakyat. Sementara kedua tari tersebut di urutan acara hanya berselang penyerahan hadiah. Waduh, bagaimana mungkin mendandani tiga orang anak dalam jangka waktu 10 s.d. 15 menit? Sementara kostum kedua tari tersebut berbeda. Untuk Ronggeng Parung, kami mengenakan kemben kain jarit berwarna biru kehijauan, sedangkan untuk tari Payung kami memakai kain plus kebaya dan properti tari berupa payung. Kesulitan juga pada awalnya, tapi mbak Mita berkata sambil tersenyum,
“Ndak apa-apa, yang penting menarilah yang kenes..”, (kenes = lincah, bahasa Jawa)
Demam panggung, selalu seperti itu bila saya harus tampil.. tapi syukur Alhamdulillah, tari Ronggeng Parung berhasil dibawakan dengan lancar. Namun, benar saja… sekalipun persiapan boleh dibilang matang, kami tetap kerepotan saat harus mempersiapkan tari yang kedua. Tidak ada kamar ganti, jadi kami ucul-ucul (berganti baju, red) membuka kain terluar dan memakai kebaya dibelakang panggung. Duuh, tentu saja “perbuatan” kami menyita perhatian orang yang lalu lalang mempersiapkan segala keperluan pementasan. Untung saja pakai kainnya dobel, lhaa kalau cuma selapis, bisa tombok kandang dijadikan tontonan! Isin tenan! 😳 Syukur Alhamdulillah untuk kali kedua, tari Payung sukses kami bawakan. 😀
Tibalah giliran pentas kolosal “Suara Anak Bangsa”. Kami dihimpun, dilatih, dan diiringi gitar akustik oleh om Heru Priyono. Pentas kolosal ini sebenarnya sebuah simbol sikap anak-anak bangsa terhadap masa depan Indonesia yang lebih baik. Dimulai dengan lagu “Dengar Suara Kami”
Saya masih ingat liriknya, ya karena saya juga didaulat untuk menyanyikan bait pertama lagu ini
Dengar.. dengar suara kami
Gema Indonesia merdeka
Membahana di Nusantara
Kamilah suara anak-anak bangsa
Dengar.. dengar suara kami
Lima puluh tahun kami merdeka
Belajar giat mengisi pembangunan
Kamilah suara anak-anak bangsa
Reff:
Kamilah anak negeri Indonesa
Siap membangun bangsa dan negara
Kamilah anak negeri Indonesia
Menyongsong masa depan penuh ceria
Menuntut ilmu, bekerja giat
Kamilah anak negeri Indonesia
Menuntut ilmu, bekerja giat
Kamilah anak negeri Indonesia
Usai lagu ini, giliran lagu Gebyar-Gebyar alm. Gombloh kami nyanyikan bersama. Hingga sampai pada kalimat, “Gebyar gebyar pelangi jingga..” semua anak pun dikomando untuk bersenandung dan saya maju untuk ke sekian kali membawakan puisi
Andaikan matahari terbit dari barat
Kau tetap Indonesiaku
Andaikan langit terbelah
Kau tetap Indonesiaku
Tak sebilah pedang yang panjang
Dapat palingkan daku darimu
Lalu diakhiri dengan lagu…
Kusisingkan lengan rawe-rawe rantas
Malang-malang tuntas
Denganmu
Kemudian bersambung lagi ke lagu utama Gebyar-gebyar..
Kami bernyanyi, bersorak sembari melambaikan bendera merah putih kecil. Hm, menyenangkan sungguh.. seolah bara semangat para pejuang kemerdekaan merasuki raga kecil kami. Ya, begitulah kenangan tak terlupa dari masa lalu. Saya selalu berharap bisa menikmati semangat dan rasa bahagia sepenuh malam itu lagi. Kapan lagi ya?
*Tulisan ini diikutsertakan dalam kontes kenangan Bunda Sumiyati


Selamat dan semangat buat kontesnya ya mba 🙂
aamiin.. inggih, matur nuwun 🙂
Narinya pakai pakaian sampai dobel. Kreatif juga untuk mensiasati tiadanya ruang ganti. Tapi apa gak bikin gerah waktu menari?
Yang dobel kain jaritnya, Pak karena memang penekanannya ada pada tari dan tampilan berikut kostumnya beda.. kalau ditanya soal gerah.. ya tentu saja, Pak namanya penari itu begitu. apalagi berurusan dengan stagen dan segala yang nempel di badan.. sumuk hehe 😆
penari juga toh cah jogja ikih, leg tari ronggeng jane niar yoo nateh toh mbak nari ne tapi akeh di kreasikan 😀
Fotone ayu tenan rek rek, anak e sopo kuwi 😀
Leg malem tirakatan mesti ngerayak ne ulang tahun ku toh #pede 😀
hanya hobi nari, Niar. 😉 ya, lumayan kan kalau ada panggung rakyat begini bisa ikut menghibur warga. cuma, jadi penari bukan pilihan hidup, sekadarnya saja.. toh masih bisa buat olah tubuh di rumah biar ga kaku
Ronggeng Parung memang kudu kenes narinya, setengah menggoda sih hehe 😛
Anake simbok lan bapak noh 😆
Malam tirakatan vs ultahe Niar? hayoo.. pancen e tgl 16 Agustus lehmu ultah ta, Ndhuk 😉
Hai gadis sprinter, cantik sekali dengan baju merahnya. 😀
kalau baca puiis itu kudu hikmat kan, mba. . .
Pasti suaranya mengelegaaaaaaaaar. 😀
Sukses ya cyiiiiiiiin ngontesnya. 😛
Hai, blogger Banjarnegara 😉 dirimu juga manis *uhuuk* 😛
iya, bener.. baca puisi mesti dengan penghayatan penuh. suaraku kecil, tapi kalau sudah dibantu corong mic atau TOA pasti menggelegar 😆
sukses juga untuk Idah dan kita semua 🙂
oalah gek jaman semono…yg aku inget dr pentas 17an, ya gerak dan lagu “balonku” . hehe….kalo aku cuma pernah ngikutin satu lomba aja, baca pusi juga. tahun brapa ya mbak jatu? kalo gak salah waktu itu aku juara 1, trs juara duanya mbak jatu…cmiw…
hahaha pokoke kalau acaranya sudah mengenang masa kecil.. ga akan ada habis cerita serunya, Mbak 😉
gerak dan lagu itu pentas pertama kita ya kan di 17-an kampung? jadi ingat soal bedak, lipstik, juga kuciranku yang acakadul karena maunya dandan sendiri 😆 untunglah akhirnya ada ibu yang bantu merapikan..
lomba puisi yang itu, hmm.. setahun kemudian apa ya? kita kan selalu temenan, saingan, dan kadang kala musuhan, Mbak. hihihi namanya juga anak-anak 😀