Kalau tanggal 17 Desember saya sudah bertemu dengan duo Ari, maka empat hari kemudian saya kembali bertemu dengan sahabat blogger. Yuuk, diintip kisahnya 😉
Kopdar Kilat Bersama Bunda Yati
Jumat, 21 Desember. Saya telah memulai aktivitas sejak pagi buta. Mandi sebelum Subuh, rasanya sudah biasa bagi saya hampir setengah tahun terakhir. Jadwal les privat jam ke nol mewajibkan saya untuk bersiap lebih pagi. Setelahnya, baru saya berangkat ngantor. Sebelum sampai, ada baiknya mampir sarapan. Bubur Koclak khas Cianjur menjadi pilihan saya pagi itu. Mampirlah saya di Jl. Kaliurang km 9 (sebelah utara tempat cuci mobil Blue). Cuaca memang sudah mendung sedari saya berangkat dari rumah siswa di Kalasan. Maka tak heran jika hujan pun turun dengan derasnya di tengah-tengah saya menyantap sarapan.. #duuuh!
Sementara itu, bunda Yati yang sedang berada di Jogja merencanakan untuk kopdar sekalian makan siang dengan saya, tiba-tiba mengirim kabar kalau rencana terpaksa dibatalkan. Yaah.. kok dibatalkan? Karena pagi itu beliau serombongan akan ke Pasar Beringharjo untuk mencari tas batik, lalu disambung dengan melanjutkan perjalanan ke Semarang. Lalu?
“Bunda akan ke tempat Phie kerja saja. Tunggu ya.”
Wah? Serius, Bun? Padahal sempat terpikir oleh saya untuk menyambangi saja rumah bunda Yati menginap. Jaraknya tidak jauh dari kantor, Bulaksumur-Baciro sekitar 15 menit melaju bersama Ezy. Lagipula hujan seperti pagi itu rasanya tidak mungkin pula meminta beliau keluar rumah untuk melaksanakan kopdar. Daripada beliau yang sudah sepuh itu sakit gara-gara hujan, pikir saya. Namun ternyata hujan seawet pagi itu tak menyurutkan niat beliau untuk kopdar kilat dengan saya, subhanallah.. Bunda ini ada apa ya? Sebegitu kangenkah pada saya?
Akhirnya, saya yang mengalah.. Ancer-ancer jalan pun saya SMS-kan ke nomor ponsel beliau.
“Bunda nanti silakan parkir di sebelah gedung A1. Nanti kita ketemu di loby A1 saja, biar lebih enak ngobrolnya..”
Kantor redaksi berada di lantai tiga gedung A2, jadi akan sangat merepotkan jika meminta beliau untuk naik tiga lantai. Biar saja saya turun ke loby A1.
Sekitar pk. 09.00 ponsel saya berdering. Bunda Yati dan rombongan telah sampai di tempat parkir rupanya. Buru-buru saya mengunci pintu ruangan dan bergegas turun. Di telepon tadi Bunda mengatakan gedung perpustakaan, itu artinya gedung A4. Di kompleks Fakultas Pertanian UGM setiap gedung memang diberi kode A dengan angka di belakangnya, saya sendiri kurang tahu mengapa harus huruf A 😀
Saya turun lewat tangga darurat biar cepat hehe padahal tangga darurat ini dulunya hampir tidak pernah dibuka, sekarang malah menjadi akses utama ke gedung A2. Mungkin karena dalih menghemat energi ya? Memutar ke pintu utama gedung berarti melangkah beberapa puluh kali, capek! Hm, saya tergopoh-gopoh berlari dari lantai tiga menuju loby A1. Masih hujan. Akan makin mengenaskan kalau saya tak berpayung. Maka, mampirlah saya ke pos satpam. Ada mbak Yati di sana, satpam cantik yang selalu menyapa saya, “Selamat pagi, Mbak Jupi..” tiap kali saya berangkat pagi-pagi dan melewati loby A1.
“Mbak, pinjam payung ya? Mau ke A4, ada tamu nunggu di sana.” Saya mencoba membujuk mbak Yati.
“Nanti dikembalikan ke sini lagi ya, Mbak,” balasnya.
“Iyaa..” sahut saya sambil bergegas ke A4.
Payung merah besar itu cukup memayungi tubuh saya yang mungil. Langsung saja, setengah berlari saya menuju sebelah barat gedung A4. Terlihat deretan mobil berjajar sepanjang Jl. Flora, tapi di mana mobil bunda Yati sekeluarga?
Alhasil, saya hanya bisa mondar-mandir melihat kiri-kan mana tahu ada yang memanggil. Nilhil. Lima menit saya bolak-balik di trotoar sebelah barat gedung A4, tapi tak juga menemukan yang saya cari-cari.
“Bunda di mana? Saya pakai payung merah, batik biru”
Ketika saya mengirim SMS itu, sebuah rombongan dengan mobil berwarna perak mencuri peratian saya. Hanya bisa melihat dari kejauhan, apa itu ya? Sayangnya, beberapa orang yang berkerumun di sekitar mobil tiba-tiba masuk kembali. Ah, bukan berarti! Saya masih saja kilang–kilong, seperti anak kehilangan ibunya.
Berhenti. Saya benar-benar menghentikan langkah tepat di sudut ATM yang ada di dekat gedung A4 sembari menunggu balasan SMS dari bunda Yati. Sementara dari kejauhan mata ini masih terus mengekor pada mobil yang tadi saya “curigai”. Nah.. mulai lagi deh kepo-nya! 😆
Untuk membuktikannya.. saya pun melenggang santai di sekitaran parkiran. Hm, kurang kerjaan banget ya? Hihihi tapi yang namanya hal seperti ini kadang memang tak butuh banyak serius kok. 😛 Tiba-tiba ponsel saya bergetar, maklum silent mode on. Bunda Yati’s calling!
“Phie.. Bunda udah parkir nih. Bentar ya.. Mobilnya warna silver. Eh, ituuu udah ketemu.. Bunda lihat Phie..”
Terdengar suara yang antusias dari seberang. Saya seperti sudah mengenal tipe orang seperti halnya bunda Yati, mirip dengan saya. 
Yang terjadi selanjutnya? Bisa ditebak? Kami bertemu tepat di depan mobil. Serta merta saya mencium tangan beliau dan… entah, euforia macam apa yang bisa membuat bunda Yati memeluk saya erat-erat seolah kami dua ibu dan anak yang telah lama berpisah. No.. no.. no..! Ini bukan adegan FTV, FTW, atau FTX. 😆
Selanjutnya? Terserah kami donk #eh? 😛

Kami pun mencari tempat untuk duduk dan ngobrol santai. Tepat di sudut gedung A4 kami duduk berbincang. Sudah lama saya ingin bertemu langsung dengan beliau, seorang veteran UNICEF yang kini berusia tujuh dasawarsa lebih sedikit. Usia yang bahkan tak membuat beliau berhenti berlatih nge-blog, juga menulis. Kalau istilah beliau, aktivitas agar otak tak beku. Sedari awal saya mengenal beliau, yang saya tanyakan adalah tentang UNICEF. Ya, anak-anak dan kaum perempuan, dari situlah inspirasi sering bermunculan. Maka, jika rasa penasaran saya tiba-tiba muncul ketika mengenal sesosok bunda yang pernah mengabdi sekian lama di organisasi PBB bagian anak dan perempuan, saya tak perlu meminta maaf pada diri sendiri. Justru dengan mengenal lebih dekat bunda Yati, inspirasi itu kian menggelora *cieilee bahasanya…
*
Jadi, apa saja yang kami obrolkan di pagi yang dinaungi gerimis itu? Beliau membagi kisah tentang beberapa buku beliau yang semestinya terbit sebagai antologi sebagai penghargaan karena beliau berhasil menjadi pemenang lomba menulis. Sayangnya si penerbit indie yang sekaligus empu hajat lomba mangkir dari kewajibannya memberi pelayanan terbaik. Mulai dari e-sertifikat yang kosong, tanpa nama, hingga kewajiban memberikan endorsement dan bukti cetak yang terkesan setengah hati padahal beliau sudah membayar lunas ongkos penerbitan.
Kekecewaan serupa pernah kami alami di event lomba antologi cerpen dan puisi di akhir tahun 2011. Waktu itu bunda Yati menjadi pemenang utama kategori cerpen. Saya yang kala itu ikut serta di kategori puisi juga masuk dalam puisi pilihan panitia.. hanya sajaaa.. hingga saat ini tidak ada kabar berita mengenai kelanjutan proyek antologi cerpen dan puisi bertema surau/masjid/mushola itu. Memangnya mereka mau ditagih nanti di akhirat ya? *bertanya pada rumput yang bergoyang*
Ada nada kesal yang terendus dari perbincangan spontan dan kilat pagi itu. Bunda Yati mengaku sudah kapok berurusan dengan event-event semacam itu. Ya, itu juga menjadi pengalaman berharga untuk saya agar lebih berhati-hati. Penerbitan indie menjamur di mana-mana, tapi kita tak pernah tahu bagaimana mengenal kualitasnya karena event penulisan kebanyakan tersebar di dunia maya. Hm.. sebagai orang yang sedikit mengerti tentang penerbitan, saya turut prihatin atas apa yang dialami oleh bunda Yati. Namun, jangan dikira kalau beliau kapok lalu berhenti sampai di sini,
“Bunda sekarang pengen menulis itu dihargai, bukan malah bayar ongkos terbit..!”
Ya, saya tahu bagaimana tindak lanjut dari pernyataan beliau itu.. 😀 Tetap semangat, Bunda!
Daaan.. sepertinya itulah kalimat terakhir yang terngiang di benak saya. Bunda harus segera melanjutkan perjalanan hunting tas kulit-batik di Beringharjo, jadi sampai di situlah kopdar kilat kami. Hujan masih menitik ketika beliau sekeluarga undur diri. Tangan kami saling melambai tanda salam perpisahan. Tinggallah saya bersama payung merah besar yang harus segera dikembalikan ke loby gedung A1. Ya, semoga lain waktu Allah SWT masih memberi kesempatan kami bertemu, insyaAllah, aamiin.
Bunda Yati is the best. Phie juga.
saya juga ada buku antologi yang sudah 1 tahun mangkir. Yo wes, kalo ada takdir jadi penulis, kelak juga punya buku dengan nickname Nie Susindra. xixi
hehehe semangat terus, Mbak Susi. Yang penting berusaha teruus.. yang mangkir biarlah berlalu 😀
Kayak cucunya ya nduk
Saya juga sudah pernahy kopdar dengan bunda Yati lho di Jakarta
Kapa ke Surabaya duk ?
Salam hangat dari kota Pahlawan
Pakdhe, mohon maaf.. komentarnya diajak mojok sama si Aki Ismet.
Main catur sukanya memang hehe.
Iya, Pakdhe.. 🙂 Ke Surabaya? Kapan nggih, Dhe? Semoga suatu ketika saya diberi kesempatan dolan ke kota Pahlawan, lalu membayar kopdar yang batal dulu itu. Aamiin 🙂
Phie sayang, tulisannya bikin bunda terbayang semua tuh moments perjalananan dari Maageleng ke Jogja dan di Jogja tgl. 21 Desember malam udah bikin planning ketemu Phie, qqqqq……….mau ngajak makan bareng keluarga bunda critanya gak taunya Allah belum mengizinkan karena dikucurkanNya hujan dari langit yang luas. Alhasil ketemuan kilat pun terjadi. Phie3x, si bunda keknya sombong banget ya pake bilang begitu – itu lho kalimat yang ini nih: “Bunda sekarang pengen menulis itu dihargai, bukan malah bayar ongkos terbit..!”
Apa iya Phie, pasti bundanya kesleo lidah tuh, karena si bunda juga gak ngerti tuh apa maksudnya, hahahahaha…..jadiketawa ngakak nih bunda. Phieeee………kapan ke Jakarta alias ke Pamulang?
Hehehe Bunda terbawa suasana mungkin ya? Sebenarnya itu juga bikin saya ingat sama redaksi. Karena di redaksi jurnal ilmiah modelnya mirip begitu. Si penulis ga dapat royalti, tapi malah bayar biaya publikasi. 😆
Menurut Phie itu bukan sombong, Bunda, tapi pede. Kadang kita butuh menggebrak diri sendiri supaya bangkit & berjuang lebih keras lagi. Siapa tahu dalam waktu dekat impian Bunda bisa terwujud. Aamiin.. 🙂
Kapan ya mampir ke Pamulang? Mohon doanya ya, Bun.. semoga diberi kesempatan sama Allah SWT. Aamiin.