Akhir pekan dan hujan. Dua hal yang tak semestinya digabungkan. Ah, itu bisa-bisanya saya saja membuat perumpamaan. Akhir pekan ini saya memang tidak ada rencana pergi ke luar rumah. Rencana satu-satunya yang gagal hari ini adalah jogging *duuh! 🙁
Alhasil, saya ngendhon di kamar mencari-cari hal berguna di dunia maya. Saya sedang tertarik menulis resensi, terutama buku-buku anak. Ya ya, saya tidak akan bisa jauh dari dunia anak-anak. Terserahlah kalau ada yang mengatakan saya ini kekanakan. 😛 *abaikan!
Saya pun meluncur ke beberapa laman hasil pencarian mbah Google dan terdampar beberapa waktu di sebuah situs, Indonesia Buku. Berhasil ngider sana-sini mencari referensi bacaan dan bekal untuk pemula, itu benar-benar menyenangkan, sungguh! 😀 Hanyaaa… saat mata saya beradu dengan sebuah tulisan teraktual tentang kasus kertas Indonesia dan sebuah penerbit di luar negeri bernama HarperCollins, hmm.. kok rasanya jadi mendadak trenyuh ya. 😥

Dua perusahaan yang disebut oleh HarperCollins adalah Asia Pulp & Paper (APP) dan Asia Pacific Resources International (APRIL). Produk dari kedua perusahaan ini tidak memenuhi standar kertas ramah lingkungan. Seperti diinformasikan oleh Rainforest Action Network (RAN), dengan bergabungnya HarperCollins ini, genap sudah 10 penerbit Amerika yang menolak produk kertas dari APP dan APRIL. Ckckckck..
Selama ini kasus hutan hujan tropis Indonesia memang demikian kontroversial. Betapa tidak, mulai dari illegal logging/pembalakan liar, perburuan satwa liar, alih fungsi hutan menjadi lahan perkebunan, pembakaran hutan dan ladang berpindah, dan sekarang disusul dengan kasus pengadaan kertas. Selama ini kita mungkin tidak banyak yang (mau) tahu dari mana sumber kertas yang dibeli untuk segala keperluan sekolah dan kantor itu berasal. Yang kita tahu, beli buku buat anak/keponakan/kantor karena membutuhkannya.
Tidak bisa dipungkiri, dunia buku tidak akan pernah bisa lepas dari kertas. Sama saja, saya, kami, dan redaksi manapun akan tetap terhubung erat dengan kertas. Kertas untuk banyak keperluan: administrasi, surat-menyurat, mencetak artikel untuk ditelaah, fotocopy, mencetak draft jurnal.. Boros sekali kertas!
Sadar, kalau kami juga menjadi bagian pengguna kertas itu. Ah, kadang merasa serba salah juga *anggap saja ini bagian dari #CurhatRedaksi versi blog*. Yang bisa kami lakukan adalah menghemat, nge-print bolak-balik, menyimpan kertas-kertas (semoga suatu ketika dewan redaksi mengizinkan kami untuk menjualnya untuk didaur ulang), dan setelah ini mencari produk kertas yang ramah lingkungan. Lhaa, dari mana? APP adalah perusahaan raksasa dan produknya bermacam-macam. *mulai bingung lagi 😳
Nah, kalau sekarang “kertas bermasalah” dari Indonesia ditolak oleh beberapa penerbit luar negeri karena mereka telah melihat bukti tentang bermasalahnya proses produksi kertas, lalu apa yang bisa kita lakukan? Berkaitan dengan isu Go Green, banyak pihak telah membuka mata. Bagaimana dengan kita? Sebagai bangsa Indonesia, kita toh tidak akan lepas dari semangat nasionalisme, salah satunya bangga menggunakan produk dalam negeri. Akan tetapi, bila pihak luar negeri telah melakukan penolakan seperti itu, sesungguhnya itu sebuah tamparan keras bagi industri kertas Indonesia. Pertanyaan yang tersimpan dalam pikiran saya,
Kalau kertas produksi dalam negeri tidak dipercaya, tidak ramah lingkungan.. lalu kita mau menulis dengan apa?
Kertas, oh, kertas.. Sebuah PR besar untuk kita semua. Dilema, tapi inilah kenyataannya, Indonesia yang penuh warna.
Catatan:
Repost dengan tanggal yang sama dari Catatan Phie. Link Indonesia Buku tidak dapat diakses, informasi tentang berita ‘kertas bermasalah’ dapat diakses di Mongabay Indonesia.