Bersama Menanam Cinta di Bukit Menoreh

*Sebuah catatan sebelum waktu bergulir terlalu jauh dari bulan Februari.

Februari. Bulan kedua ini bagi orang-orang identik dengan bulan cinta. Mungkin ya, mungkin juga tidak. Saya termasuk yang tidak merayakan hari Valentine. Namun, bagi saya sah-sah saja mempergunakan event ini sebagai salah satu pengingat kembali bahwa manusia takkan bisa hidup tanpa alam sekitar. Mumpung akhir pekan tak ada agenda lain, maka jadilah saya ikut serta.ย  Nama acaranya โ€œMenanam Cinta di Bukit Menorehโ€ (#MCBM). Sekali mendengar nama kegiatan ini, senyum di bibir saya mengembang penuh. Bukan, ini bukan sekuel ceritaย  karya SH Mintardja, Api di Bukit Menoreh; tapi lebih dari itu. :mrgreen:

Acara yang digagas oleh Walhi Jogja dan Sahabat Lingkungan ini mengambil lokasi di salah satu desa binaan Walhi Jogja; tepatnya di dusun Selorejo, desa Ngargoretno, kecamatan Salaman, Magelang. Waktunya? Sesuai e-poster, kegiatan dilaksanakan pada hari Ahad, 17 Februari 2013.

e-poster #MCBM
e-poster #MCBM, dok. Sahabat Lingkungan

Sehari sebelumnya dilaksanakan technical meeting (TM) di basecamp Walhi Jogja, Jl. Nyi Pembayun 14A Kotagede. Sebelum-sebelumnya saya sering mendengar kabar tentang Walhi mengenai permasalahan lingkungan dan upaya advokasi terhadap warga di sekitarnya. Tapi untuk berkenalan lebih dekat belum pernah, bahkan Sabtu, 16 Februari lalu adalah kali pertamanya saya datang ke Walhi Jogja. Setelah perjalanan panjang dari kaki Merapi menembus hujan, akhirnya pk. 16.00 pas saya tiba di TKP. Kesan pertama hijau, sejuk :mrgreen: dan juga … sepi!

Hei, bukankah acara TM semestinya dimulai pk. 16.00, mengapa masih sepi?

Maka, usai menguluk salam di depan pintu utama kantor, saya disambut oleh seorang panitia, Rendy namanya. Beberapa saat kemudian seorang dara manis pun keluar turut menyambut, Muli. Saya pikir yang bernama Muli itu laki-laki, eh ternyata … ini dia, Mulia, koordinator utama Sahabat Lingkungan. ๐Ÿ˜‰

Singkat cerita, dalam TM sederhana berteman teh hangat sore itu, kami diberi penjelasan mengenai teknis acara keesokan harinya. Terutama soal keberangkatan karena lokasi cukup jauh, sekitar 2 jam perjalanan motor. Saya sendiri termasuk yang menggonceng. Ezy tidak mungkin saya ajak ngebut bareng ke Magelang. Track record-nya dalam penjelajahan boleh jadi lumayan untuk hitungan motor tua; tapi TIDAK untuk ke Menoreh. Jadilah, โ€œnebengโ€™ersโ€ adalah tema saya di tanggal 17 Februari hehe ๐Ÿ˜€

***

Ahad, 17 Februari. Saya termasuk di antara sekian orang yang berkumpul di sudut lapangan Denggung, Sleman. Setelah menitipkan Ezy di sebuah penitipan motor di pojok traffic light, saya bergabung dengan teman-teman yang telah stand by di sana, menunggu teman-teman lain yang berangkat dari basecamp Walhi Kotagede.

Setelah menanti beberapa puluh menit, kami akhirnya pun berangkat. Bersama seorang teman baru dari Sahabat Lingkungan, Ersa, saya melaju menuju Menoreh. Benar-benar mendapat partner yang pas, wuuussh… saya dibawa ngebut oleh gadis berkacamata ini. Betapa pengalaman tak terlupa merasakan desir adrenalin terpompa naik turun. :mrgreen:

Lebih kurang dua jam kemudian, kami pun tiba di lokasi. Di sebuah rumah milik salah seorang petani kelompok tani (kelomtan) Angon Tani, kami semua baik panitia maupun peserta berkumpul. Sebelum acara inti dilaksanakan, pembukaan dilakukan secara sederhana dengan beberapa kata sambutan dari Walhi Jogja, Sahabat Lingkungan, Kelomtan Angon Tani, disusul dengan penyerahan bibit secara simbolik dari pak Bambang (penyedia bibit) kepada Sahabat Lingkungan dan dari peserta kepada kelomtan Angon Tani. Ada beberapa jenis bibit yang ditanam dalam acara ini, di antaranya kluwih, alpukat, beringin.

serah terima bibit, dok: @aryandf
serah terima bibit, dok: @aryandf
bibit tanaman yang akan ditanam di acara #MCBM
bibit tanaman yang akan ditanam di acara #MCBM, dok. pribadi

Usai acara pembukaan, para peserta dibantu oleh bapak-bapak dari kelomtan Angon Tani pun melaksanakan penanaman bibit. Lima sampai tujuh orang peserta didampingi oleh dua orang petani. Setiap peserta membawa satu buah bibit dalam polibag. Saya sendiri mengambil bibit kluwih. Dengan penuh semangat, saya dan beberapa orang peserta lain membawa bibit untuk ditanam. Rupanya butuh perjuangan keras untuk mencapai lokasi penanaman. Itu karena kontur tanahย  Menoreh yang naik turun. Hosh hosh hossh.. baru berjalan melewati turunan dan kelokan, saya sudah mulai terengah-engah. Sepertinya saya butuh merutinkan jogging kembali untuk mempertahankan kondisi tubuh hehehe ๐Ÿ˜†

Selama perjalanan ke lokasi penanaman, kami menikmati hijaunya Menoreh dan melihat lebih dekat bukit yang ditambang. Bukit berbatu tersebut tepat berada di seberang rumah tempat kami berkumpul membuka acara. Konon kabarnya areal bukit tersebut telah dibeli oleh sebuah perusahaan milik warga negara asing. Saya tak sengaja mendengar selentingan sembari kami berjalan, itu kontan membuat saya mengernyitkan dahi keheranan. Well, total areal tambang sekitar 20 ha dibeli bersama sebuah mata air di dalamnya? Hm, itu namanya โ€œmembeliโ€ hajat hidup orang banyak. Pantas saja Walhi sigap melakukan upaya advokasi di daerah sekitarnya.

bukit "batu pualam" terlihat dari kejauhan
bukit “batu pualam” terlihat dari kejauhan

Setelah berjalan kaki melalui dua buah sungai kecil (yang tentunya membuat sebagian celana saya basah ๐Ÿ˜› ) juga beberapa kali berhenti karena kepayahan membawa polibag, akhirnya kami pun tiba di lokasi. Duuh.. payahnya saya! Saya baru sadar kalau ukuran polibag yang saya bawa adalah yang paling besar di antara teman-teman. Pantas saja kalau kedua lengan saya setengah tremor dibuatnya, untung tak sampai pingsan. :mrgreen:

kami dibantu oleh dua anggota kelomtan Angon Tani
kami dibantu oleh dua anggota kelomtan Angon Tani, dok. pribadi
tumbuh dan bersemilah cinta kami di Menoreh
tumbuh dan bersemilah cinta kami di Menoreh, dok. pribadi

Segera setelah kami sampai, dua orang anggota kelomtan dan seorang peserta laki-laki pun membantu menyiapkan lubang tanam, begitu seterusnya hingga ketujuh polibag yang kami bawa ditanam semua. Ya, inilah bukti cinta kami kepada Menoreh. Mungkin baru sedikit, tapi semoga semua itu bisa bermanfaat. Aamiin..

Usai menanam, kami beristirahat sebentar. Saya minum beberapa teguk. Setelahnya bergabung kembali dengan rombongan dan berjalan pulang ke tempat berkumpul. Saya termasuk peserta yang rada bandel karena sebentar-sebentar berhenti mengambil dokumentasi. Saya belum pernah ke Menoreh sebelumnya, maka jangan heran bila si gadis kepo ini buru-buru berhenti karena merasa perlu mengabadikan perjalanan *berdalih! ๐Ÿ˜›

Tapi benar kok, saya penasaran dengan batu-batu sungai yang berwarna kemerahan, tidak seperti batu-batu dari Merapi yang rata-rata berwarna abu-abu hitam. Belum lagi air sungai yang warnanya seperti leri (= air cucian beras); juga tambang marmer. Saya pikir ada korelasi antara kesemuanya. Bisa jadi daerah Menoreh memang daerah berkapur, saya ingat benar pelajaran IPA tentang jenis batuan, โ€œbahwa batu pualam alias marmer terbentuk karena lapisan kapur yang terjebak oleh tekanan dalam waktu lama.โ€ Belum sempat googling sih untuk membuktikan hal itu memang ada di Menoreh, kapan-kapan ah! *lhoo kok malah nyanyi? โ“ ๐Ÿ˜†

penasaran dengan batu kali dan airnya
penasaran dengan batu kali dan airnya
berfoto dengan latar belakang bukit yang ditambang, dok. pribadi
berfoto dengan latar belakang bukit “batu pualam”, dok. pribadi

Setelah berjalan pulang penuh perjuangan (ini akibat jalan yang menanjak ditambah cuaca siang nan terik hehe), kami pun tiba. Segera saja mengantri cuci tangan-kaki. Acara selanjutnya rehat makan siang dan sholat Dzuhur disusul acara games, ramah tamah, dan diskusi. Kian lengkap istirahat kami siang itu ditemani butiran hujan yang turun. Tak terlalu lama, cukuplah membuat rasa kantuk kian menggelayut di kedua kelopak mata. Saya lelah, tetapi itu terbayar dengan apa yang saya dapat. Persahabatan baru, wawasan baru, pemandangan baru, inspirasi baru. Seperti inilah semestinya hidup. Ada kalanya harus bekerja untuk diri sendiri, ada saatnya juga untuk peduli dan berbagi.

sebelum pulang, mari bergambar, dok. Sahabat Lingkungan
sebelum pulang, mari bergambar! ๐Ÿ˜€ dok. Sahabat Lingkungan

O ya, saya tidak menuliskan kesan terlalu banyak di kolom kesan/pesan daftar hadir selain rasa lelah dan senang yang bercampur di akhir pekan itu. Namun, lewat tulisan ini saya ingin menyampaikan terima kasih karena Sahabat Lingkungan dan Walhi Jogja telah menulari kami dengan inspirasi positif; dengan semangat berbagi sehingga cinta kami tertanam pula di bukit Menoreh. Semoga lain kesempatan saya bisa bergabung kembali dengan teman-teman Sahabat Lingkungan untuk berbagi kasih sayang kepada alam sekitar. Salam adil dan lestari!

-kaki Merapi, awal Maret 2013-

15 thoughts on “Bersama Menanam Cinta di Bukit Menoreh

    1. Aamiin.. terima kasih doa dan dukungannya, Om Misbach ๐Ÿ™‚
      Semoga kegiatan ini akan menginspirasi lebih banyak manusia Indonesia untuk lebih peduli.

    1. Hehe biasa saja kok ๐Ÿ˜€ Waktu itu dapat info dari twitter, ya mumpung akhir pekan kosong, nyari kesempatan untuk refreshing saja.
      Banyak yang ikut dan saya pikir mereka semua hebat, dua jempol pokoknya.. Kapan-kapan ikutlah acara seperti ini ๐Ÿ˜‰

    1. Hehe, Pak Azzet berminat? Follow saja @ShalinkersJogja dan @WALHI_Jogja. Saya dapat info kegiatan ini juga dari mereka. ๐Ÿ˜€

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *