Akhir Pekan dan Surat Cinta

Akhir pekan akan menjadi saat yang menyenangkan jika ada sesuatu istimewa yang kita terima. Siapa juga yang tidak senang bila menerima surat cinta. Lhoo.. kemarin kan saya sudah menulis soal surat cintanya Kapten Bhirawa ya? Ya, itu dalam rangka berlatih menulis flash fiction, hehe. Yang saya maksud surat cinta kali ini benar-benar surat. Datangnya dari Bandung. Sabtu sore, 2 minggu lalu pak ketua RT-lah yang mampir mengantarnya ke rumah.

Saat saya mendengar ada orang mengantar sesuatu, saya pikir itu kurir JNE yang sering ke rumah. Ternyata bukan. Bukan buku antologi pusi “Tiga Perayaan” yang dijanjikan oleh sponsor acara #PuisiHore2, tetapi sepucuk surat berlogo “daksa”. Walau tadinya sedikit kecewa karena saya memang sudah menunggu kehadiran buku tersebut semenjak bulan lalu, namun agaknya membaca surat cinta dari Yayasan Daksa mampu membuat perhatian saya teralih. Memori pun berputar. Saya ingat! Mungkin inilah yang dimaksud di e-mail yang saya terima beberapa bulan lalu. Saat itu Yayasan Daksa masih bernama Yayasan BISA atau BISA Foundation.

surat cinta dari Bandung
surat cinta dari Bandung

Lalu apa isinya? Surat tersebut berisi profil anak asuh. Sedikit cerita, Yayasan Daksa (Daksa Foundation) adalah organisasi nirlaba yang berfokus pada upaya pemberdayaan para difabel dengan lingkup tunadaksa, tunanetra, dan tunarungu. Saya menjadi bagian dari program kemitraan orangtua/kakak asuh yang difasilitasi oleh yayasan ini. Saya tahu, penghasilan saya belum seberapa… tapi saya pikir, aji mumpung sebenarnya, mumpung saya masih diberi kesempatan. Jadi, mengapa tidak? Mampu saya baru menanggung seorang adik asuh usia SD, ya tidak apa-apa. Mudah-mudahan yang sedikit itu bermanfaat, insyaAllah, aamiin.

Kembali ke surat cinta. Setelah saya membaca bagian pengantar, berlanjut lagi ke halaman lampiran. Di situlah saya menemukan profil seorang gadis kecil. Entah, saya pikir ini bukan kebetulan. Ia lahir di bulan yang sama dengan saya, Maret, selisih empat hari saja. Hmm, menelusuri satu demi satu kalimat yang ada membuat perasaan di hati bercampur. Sedih, ketika mengetahui dulunya ia bukan penyandang tunanetra. Pendarahan retina yang dialaminya setahun lalu menjadi pemicu. Haru, ketika tahu ia tetap menjadi sosok gadis ceria dan lincah meski dalam keadaan seperti itu. Bangga, karena ia tetap belajar dengan penuh semangat sehingga nilai-nilai di rapornya pun lebih dari 75.

Ah, Dila. Saya berharap semoga kondisi penglihatannya saat ini masih bisa diusahakan untuk sembuh sehingga cita-citanya menjadi seorang perancang busana kelak dapat terwujud. Aamiin.

Hmm, sepertinya.. saya sudahi saja cerita saya kali ini. Sesuatu sudah menyesaki rongga dada dan kelopak mata, sudah saatnya meluncur ke kamar mandi lalu bersiap untuk tidur malam ini. Have a nice dream, Pals.. 🙂

0 thoughts on “Akhir Pekan dan Surat Cinta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *