Cerita ABG: Warna-warni Cerita Anak Bimbingan Gue

Apa yang ada di benak kita jika mendengar istilah ABG (baca: a-be-ge, alias anak baru gede)? Bisa jadi beberapa di antara kita akan teringat pada kasus video mesum, tawuran, emosi labil, dan hal-hal tak mengenakkan lainnya yang beredar di media elektronik nasional belum lama ini. Sebagai seorang freelance tutoress, saya ikut trenyuh melihat berita dan cerita ABG tak lepas hari hal negatif semacam itu. Padahal dari ABG (Anak Bimbingan Gue), yang secara individu saya kenal baik, cerita ABG tak pernah seburuk itu. Maka, untuk turut serta dalam upaya melengserkan konten negatif yang menjadi fokus Gerakan PKK Warung Blogger, tulisan ini saya bagikan kepada Sahabat semua. 😉

Menjadi pencinta anak-anak itu anugerah buat saya. Tanpa modal cinta, tidak mungkin saya bertahan sejak 2003 mendedikasikan diri untuk terjun ke dunia mengajar, meski hanya kecil-kecilan. Namun, justru dengan bentuknya yang hanya les privat kecil-kecilan, saya dapat dengan mudah akrab dan membaur dengan mereka. Kisaran usia mereka rata-rata 6 hingga 15 tahun (SD s.d. SMP). Malah saat ini saya juga membimbing anak usia 5 tahun dan ia tercatat sebagai siswa termuda selama saya mengajar les. Mau kenalan dengan beberapa Anak Bimbingan Gue? Yuuk, mari! 😀

Sus, si Pencinta Seni

cerita ABG_Susilo DP. si dalangcredit

Coba baca baik-baik status tersebut! Hmm, saya saja bingung hehe. Ya, hanya orang Jawa yang benar mendalami seni, terutama dunia wayang yang tahu apa arti kalimat yang ditulis oleh Susilo (panggil saja ia, Sus). Siapa dia? Ia adalah siswa pertama saya saat mulai menjadi tutor di bawah LBB @vicena Learning Center (@lce) tahun 2003. Si pendiam ini dulu lemah di pelajaran Matematika. Untuk mengejar standar ujian nasional SD, sejak kelas V orangtuanya mempercayakan les Matematika kepada saya, tutor yang ditunjuk oleh @lce. Tiga bulan kemudian, ibundanya mengatakan bahwa nilai Matematika Sus mulai ada peningkatan. Tidak ada lain di hati saya, kecuali syukur alhamdulillah.

Total lima tahun saya membimbing Sus, sampai ia mencapai kelas IX. Sayang, saya gagal mengantarkannya menembus standar kelulusan tahun 2008. Sedih, tapi saya berusaha berpikir positif, bahwa lulus atau tidak hanya sebuah standar yang digunakan manusia. Sejatinya setiap anak pasti memiliki bakat tersendiri, dan … sepuluh tahun kemudian, saya bisa membaca status di atas. Ia adalah Sus; mengikuti jejak sang ayah, ia kini seorang mahasiswa seni semester V yang menyukai dunia lukis dan wayang. Benar, semua terjawab! Bagaimanapun, hidup bukanlah soal bicara tentang kekurangan dan ABG ini menjawabnya untuk saya. Hmm, suatu ketika saya ingin juga melihat Sus mendalang. Kapan ya? 😉

***

Dhea, si Super Sibuk

Dhea, si ABG super sibuk
Dhea, si super sibuk

credit

ABG yang satu ini, beda lagi ceritanya. Panggil saja ia, Dhea. Sebelum saya membimbingnya di usia SMP, dulu saat ia duduk di kelas 3 SD sempat saya bimbing. Ada hal konyol yang pernah saya alami bersama Dhea. Dikursuskan sempoa membuat ia berhitung lebih cepat dari saya! 😯 Waduh, saya melongo mode on ketika saya kalah balapan mengerjakan soal Matematika! 😆

Sekitar 6 tahun kemudian, tepatnya Oktober 2009, cerita seru kami kembali dimulai. Siswa kelas VIII ini mengalami kesulitan memahami beberapa hal dalam Matematika. Hei, bagaimana bisa jagoan hitung cepat bisa susah belajar Matematika?! Rupanya, ini berkaitan dengan pemahaman konsep. Hitung cepat dan pemahaman konsep adalah hal yang berbeda. Maka, jadilah selama Oktober s.d. Juni 2010, saya membimbing Dhea.

Banyak hal yang saya rasakan berubah. Ya, namanya juga anak bertumbuh menjadi remaja. Kehilangan ayah di usia kecil pernah membuat ia merasa kurang. Saya hanya berupaya membantu dengan membagi cerita—sebagai sesama anak gadis yang tak lagi berayah—bahwa hal semacam itu bukan lantas harus membuat minder. Justru karena kami berbeda dengan anak-anak lain, maka harus lebih bisa membawa diri. Bisa membuktikan bahwa tanpa ayah di sisi, tetap bisa mandiri.

Well, saya tidak tahu pasti apa yang saya katakan itu benar mengena di hati Dhea; tapi yang jelas, ia memang jadi super sibuk. Hari ini ikut Pramuka, hari lain ikut latihan peleton inti; kadang juga cerita soal keinginannya menjadi penulis. Wow! ABG ini keren sekali! Dua jempol deh buat Dhea! 😀

Kelas IX, ia tidak lagi saya bimbing, tapi sesekali masih berkirim SMS, sampai akhirnya sama sekali hilang kabarnya. (Biasanya anak bimbingan suka begitu sama gurunya! 😛 ) Setahun kemudian (tahun 2011), saya di-SMS oleh sebuah nomor asing. Ia menuliskan kegembiraannya di situ,

“Mbak Jatu, aku sekarang di SMA 9 lhoo!! Hehehe, makasih ya, Mbak :)”

Duuh, siapa coba yang mengirim SMS ini? Penasaran, saya membalasnya. Aah, ya … Dhea! :mrgreen: Dengan sumringah, saya pun menanggapi,

“Teruskan perjuangan kami ya!”

Hahaha, kami sekarang satu almamater, saya juga dulu bersekolah di SMA 9 Yogya. Sekolah yang mengantarkan saya menjadi seperti saat ini. Saat ini Dhea duduk di bangku kelas XI.  Hmm, ya … saya berharap ia tetap menjadi ABG sibuk yang bermanfaat. Tetap istiqomah dan berprestasi. Aamiin.

***

Aji Fajar, si Jagoan Bola

Yang ini ABG edisi sporty! :mrgreen: Di rumah ia biasa disapa Aji, tapi nama punggungnya di lapangan adalah Fajar.

Aji Fajar, si jagoan bola
Aji Fajar, si jagoan bola

credit

Hmm, yang ia keluhkan di pelajaran hampir mirip dengan cerita dua ABG sebelumnya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa sistem pendidikan di Indonesia memang begitu, standar nilai terkadang menjadi mimpi buruk bagi para siswa; ditambah lagi ke-parno-an orangtua … lengkap sudah! Itu juga yang dialami oleh Aji dan kedua orangtuanya. Saya bisa mengerti, tapi, kehadiran saya bukan penjamin seorang siswa bakal lulus. Maaf, saya tak punya itu. Saya bersedia membimbing, tapi bagaimanapun saya selalu menekankan kepada orangtua bahwa di balik segala kekurangan si anak, pasti ada sesuatu yang bisa dibanggakan. Aji, ABG yang jago main sepakbola ini misalnya. Ia pernah terpilih menjadi salah satu perwakilan Jogja untuk tim Garuda Muda U-14 tahun 2010 lalu. Hebat kan?!

cerita ABG_Aji Fajar.karantina
Aji (berkaos merah, menyandang tas selempang hitam)

Membimbing atlet satu ini gampang-gampang-susah karena kadang ia begitu pendiam. Namun seiring waktu, sedari November 2009 s.d April 2011, saya menemui perubahan sikap. Ia lebih mudah diajak tertawa dan ngobrol. Itu kunci bagi saya untuk mengerti di mana ia merasa kesulitan. Usahanya membuahkan hasil. Gawang kelulusan SMP tahun 2011, berhasil ia bobol. Saat ini ia tercatat sebagai siswa SMA N 1 Ngaglik kelas XI.

Waktu bergulir, sampai saat ini Aji masih terus berlatih sepakbola. Saya berharap ia bisa menjadi satu dari sekian banyak generasi muda yang nantinya mengibarkan kembali panji kejayaan sepakbola di Indonesia. Semoga! 😀

***

Nah, itu tadi cerita beberapa Anak Bimbingan Gue. Berprestasi tidak harus selalu dengan nilai Matematika yang tinggi. Tiap diri punya warna, punya potensi berupa bakat dan kelebihan yang bila terus dibina akan menjadi sebentuk kebanggaan … ABG ini telah membuktikannya. Ini cerita ABG versi saya, bagaimana dengan cerita ABG Sahabat?

“Artikel ini turut mendukung gerakan PKK Warung Blogger”


0 thoughts on “Cerita ABG: Warna-warni Cerita Anak Bimbingan Gue

  1. Kapan ya ada kelanjutan Program PKK kembali… Setelah Cerita ABG, Prediksi Jitu, kira2 Apalagi yach ?? Ada saran nggak mbak ?? 🙂 Ntar kalo tebakannya tepat bakal dapat Suprise dari Ane.. hehehe 😀

    *SaHaTaGo [Salam Hangat Tanpa Gosong] Pojok Bumi Kalibayem – Yogyakarta
    Si Blogger yang Doyan Nongkrong di Tempat Karaoke he 😀

    1. Hahaha pasti ini Mas Mf Abdullah ya? 😆
      Hm, gimana kalau cerita tentang karaoke atau salon? Tempat macam begitu kan kadang disalahgunakan, Mas? :mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *