Beberapa hari lalu saya menyusuri linimasa @infosastra. Bukan iseng sih, ada hal-hal yang ingin saya tahu lebih banyak soal sastra. Bukan juga karena saya nyastra. Saya tidak pernah merasa begitu. Kalau saya sering berpuisi ria itu murni karena saya suka, itu saja. Namun, kebanyakan orang di luar sana sering menganggap lebih. Sering saya dibilang tersesat di jurusan yang saya ambil pas jaman kuliah dulu.
“Mestinya kamu dulu kuliah di Sastra, Phie, bukan di Pertanian …”
Kalimat semacam itu sering terlontar dari teman atau saudara saat mereka membaca karya saya. Hehe memangnya apa yang salah dengan kegemaran saya yang satu ini? Lagipula saya sudah telanjur lulus kuliah; jadi saya anggap kalimat semacam itu adalah kalimat muspra (sia-sia, red.). Beda perkara jika mereka mengatakan hal tersebut dulu sekali, saat saya hendak memilih jurusan. 😛 Maka, daripada mereka menang di atas penderitaan saya 😆 , saya akan membela diri dengan kalimat semacam ini,
“Siapa bilang aku tersesat? Dari dulu jurusanku benar: Jogja—Kaliurang!”
Lalu, mereka pun ngakak.
Ya, kalau saja mereka bisa merasakan bagaimana menulis puisi telah membuat hidup saya makin hidup dan bermanfaat; kira-kira mereka akan bilang apa lagi ya? Entah, itu 100% urusan mereka. Cuma, kalau saya boleh berpendapat, saya sepakat dengan apa yang di-twitt-kan oleh Mustafa Ismail di akun twitter beliau, @musismail,
dik, hal sederhana yang bisa kau lakukan adalah menulis puisi, mengeluarkan energi kreatifmu. Tak perlu bernafsu utk menjadi penyair.
— Mustafa Ismail (@musismail) January 12, 2014
Ya, saya hanya ingin mengalir dan mengeluarkan energi kreatif. Dengan begitu, saya terus-menerus berlatih, tidak cepat puas, dan mau secara terbuka mengakui bahwa di atas langit masih ada langit. Lapisan langit yang lebih tinggi itulah tempat saya bisa bertanya, ngangsu kawruh, dan belajar lebih banyak lagi sehingga kelak karya saya bisa menjadi sebuah peninggalan berharga untuk anak turun. Itu sederhana, bukan? Lagipula ilmu sangat luas, demikian juga dengan sastra. Mengenal sastra adalah cara untuk melembutkan hati nurani, mengasah empati, melihat-mendengar-merasakan kehidupan, hingga akhirnya semua kembali kepada satu-satunya sumber: Gusti Allah, Tuhan semesta alam.
Jadi, boleh dong kalau saya masih suka ngider dan kepo sana-sini mencari jejak lomba menulis puisi dan proyek antologi semacamnya? 😉
kalau disuruh bikin puisi aku suka bingung 🙂
saya dulu juga, Mbak, tapi latihan terus jadi bisa 😀
Boleh bangeeeeetttt….. DAN HARUS!
siiiaaap, Mbak Susi 😀
Kita memang tak perlu berpretensi menjadi penyair. Terpenting menulis, menulis, menulis sambil terus belajar dan belajar. Kita tak perlu menjadi apa pun. Tugas kita hanya melakukan sungguh-sungguh apa yang kita mau dan suka. Biarkan orang lain menyebut kita apa — sesuai dengan karya kita yang mereka baca. Salam sastra.
Benar, Pak 🙂
Terima kasih untuk inspirasinya. 🙂