Oleh-Oleh CJI Talk – Dompet Dhuafa

CJI Talk Dompet Dhuafa

Jumat, 12 Juni 2015 lalu, saya berkesempatan hadir di acara diskusi jurnalisme yang digelar oleh Dompet Dhuafa (DD). Bertempat di Ruang Teatrikal Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, acara ini menghadirkan beberapa pembicara, di antaranya Drs. Octo Lampito M.Pd. (Ketua Dewan Jurnalistik Jogja, pimpinan redaksi Kedaulatan Rakyat) dan Indah Julianti (blogger senior, co-founder Kumpulan Emak Blogger). Semestinya, ada seorang pembicara lagi yang diharapkan datang mewakili Net TV. Namun, rupanya pihak Net TV membatalkan kehadiran di detik-detik akhir, begitu panitia memberi penjelasan.

Meski hanya menampilkan dua pembicara, acara yang berdurasi kurang lebih dua jam ini mampu memperkaya pengetahuan saya sebagai peserta tentang jurnalisme warga, kaitannya dengan tema yang diusung oleh DD: Bergerak untuk Berdaya

Seperti disampaikan oleh pimpinan cabang DD Jogja, Ajeng Indraswari, adalah agar dari CJI Talk ini muncul relawan DD dalam bidang citizen jurnalism sesuai visi-misi Dompet Dhuafa, yaitu orang-orang yang peduli terhadap persoalan sosial dan kemanusiaan di sekitarnya, tergugah untuk menyampaikannya secara tertulis sehingga menginspirasi orang lain untuk bergerak membantu sesama. Karena saat ini menulis dan menyampaikan pemikiran semakin mudah seiring majunya teknologi, maka DD pun mengundang beberapa jurnalis untuk berbagi ilmu dengan para peserta CJI Talk.

CJI Talk Dompet Dhuafa
pemateri CJI Talk (kanan ke kiri: moderator, Drs. Octo Lampito, Mbak Indah Juli)

Sesi pertama diisi oleh Mbak Indah Julianti. Blogger yang menggeluti dunia ngeblog sejak 2007 ini menyampaikan beberapa informasi penting. Di antaranya info yang dilansir dari Marketer Magazine (2014) bahwa menurut studi tahun 2013, blog mampu memengaruhi keputusan pembelian konsumen lebih tinggi daripada facebook dan twitter. Peluang blog sebesar 31%, retail site sebesar 56%, dan brand website sebesar 34%.

Dengan meraih 1/3 bagian dari peluang yang ada, blogging menjadi cara termudah menyampaikan informasi detail. Mengapa begitu? Karena menulis di blog paling gampang, tidak ada seleksi layaknya menjadi wartawan. Seluruh tanggung jawab terhadap isi (content) maupun penyuntingan (editing) menjadi tanggung jawab si empu blog. Meski demikian, sudah semestinya si empu blog mengetahui batasan dan norma yang berlaku di dunia jurnalisme.

Pemateri kedua, Bapak Octo, pun menyambung dengan menyampaikan apa-apa saja norma yang berlaku berdasar aturan Dewan Press tahun 2012, di antaranya:

– bila membuat konten harus melalui verifikasi, berimbang, dan akurat;

– berita tidak bisa dicampur dengan opini;

– tidak membuat fitnah/berita bohong, sadis, dan cabul;

– dilarang membuat tulisan tentang SARA yang menjelek-jelekkan satu sama lain;

– tidak menganjurkan tindak kekerasan, tidak diskriminatif/merendahkan;

– bila tulisan bersifat iklan, maka sebutkan sebagai advertorial;

– wajib menghormati hak cipta orang lain;

– jika ada berita yang perlu diralat, ditautkan dengan berita yang sebelumnya telah terbit.

(norma di atas juga berlaku untuk publikasi berupa video)

Jadi, meski pembaca saat ini cenderung mau tahu info secepatnya, yang faktual (berdasar bukti dan fakta); penting untuk memerhatikan konten dan manfaatnya. Bukan asal terkenal atau asal meraih kunjungan yang banyak.

Sebagai penutup, pemateri CJI Talk menyampaikan untuk membiasakan diri menulis. Hal ini sebagai bentuk pembiasaan otak agar selalu aktif sekaligus peka terhadap lingkungan sekitar.

0 thoughts on “Oleh-Oleh CJI Talk – Dompet Dhuafa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *