Belajar dari Sesame Street (2)

Hi, Everybody! Apa kabar Jogja hari ini? Hari Jumat yang cerah. Akan semakin cerah bila kita lanjutkan kembali bincang-bincang kita. Masih menyambung tulisan Phie yang sudah lalu, dan itu seperti yang tempo hari telah Phie janjikan, maka… inilah saatnya untuk 3 tokoh Sesame Street lagi! Goooo!!!

Elmo gives a flower

Untuk bagian kedua ini, kita akan mulai dari Zoe. Elmo dan Zoe bersahabat. :mrgreen: ya seperti yang kita lihat di gambar. Tampak akrab sekali memang. *ah, namanya juga anak-anak! 🙂

Zoe adalah monster yang suka menari balet. Monster berbulu jingga dengan pita dan baret di kepalanya ini dilahirkan pada tanggal 10 Maret. Ia memiliki piaraan, mau tahu apa? Sebuah batu yang ia panggil, “Rocco”. Hei, ini soal berimajinasi. Piaraan kan tidak selamanya berupa makhluk hidup.

Poin penting yang kita catat dari Zoe adalah TIDAK membatasi anak-anak dengan dunia imajinasi mereka. Biarkan saja berkembang. Yang perlu kita lakukan adalah membimbing dan mengarahkan ke mana imajinasi itu bergerak. Tidak perlu terburu-buru memvonis mereka anak NAKAL atau ANEH hanya karena mereka suka mengkhayal. Ingat, mereka sedang belajar menggunakan akalnya. Just let it flow.. :).

Hmm, bicara tentang Zoe.. Monster berusia 3 tahun ini memiliki karakter lembut tetapi kuat. Di Sesame Street, ia satu-satunya gadis kecil enerjik dengan imajinasi “liar”. Bahkan selain Rocco, Zoe juga suka berkeliling Sesame Street dengan “Zoemobile”nya, sebuah mobil yang terbuat dari kotak sabun, ya karena ia sangat menyukai pawai 🙂

Stop press: Penambahan Zoe sebagai karakter monster di Sesame Street sebenarnya memiliki sebuah misi. Pada awalnya, karakter Sesame Street dipenuhi dengan karakter laki-laki, padahal anak-anak pun perlu tahu bahwa dalam kehidupan ini ada celah gender yang mesti mereka pahami; ada laki-laki dan perempuan. Hal inilah yang kemudian mendorong dimunculkannya Zoe sebagai role model anak perempuan -lembut, kuat, berkarakter, dan tidak takut berlompatan atau membuat pakaian mereka kotor!- :mrgreen:

Count von Count

NEXT..!! Si drakula vegetarian yang lahir 9 Oktober ini suka memainkan piano bersuara angkernya sambil berhitung. Siapa dia? Count von Count tentu! Itulah mengapa namanya “count” yang dalam bahasa Indonesia berarti von Count yang suka berhitung :mrgreen:. Ya, miriplah dengan tokoh guru Matematika. Sebenarnya Count ramah. Ia memiliki kastil dan setiap kali ada tamu yang tanpa sengaja tersesat hingga ke kastilnya akan ia sambut dengan segelas minuman berwarna merah: jus tomat! :mrgreen:

Count, saudara jauh Count Dracula, tokoh drakula yang sangat terobsesi dengan angka dan sangat senang menghitung satu per satu angka dengan penuh semangat. Seperti apa von Count? Lihat saja gambarnya! Berwarna kulit ungu-lavender, bentuk telinganya seperti kelelawar (tentu, Count kan memang sebangsa kelelawar :mrgreen:), rambut tipis nan klimis, lidahnya merah menyerupai sekop, memakai pakaian formal, dan memiliki karakter suara beraksen Eropa ala Bela Lugosi’s Count Dracula.

Nah, mengingat kesukaannya berhitung, drakula Transylvanian yang konon katanya berusia 1.832.652 tahun ini (OMG..!!! 😯 ) SELALU menghitung APA pun yang melewatinya. Tak peduli itu kucing hitam, sarang laba-laba, kelelawar, atau pun suara lonceng; ia akan menghitungnya. Walau kelihatannya sangat SERAM, kehadiran von Count di keramaian BUKAN dan TIDAK untuk menakuti atau membahayakan orang-orang.. ia hanya tertarik untuk MENGHITUNG.

Di kastilnya, Count selalu menemukan hal-hal mengasyikkan untuk dihitung. Berhitung sambil bernyanyi, oh.. itu dia salah satu kesukaannya! Oya, ada satu hal lagi yang khas dari von Count. Apa itu? Suara gelegar petir dan kilat selalu mengiringi saat-saat ia berhitung, dan tentunya diakhiri dengan kalimat khasnya dan suara tertawanya : This is one clever count™. Ah-ah-ah!!

Catatan: Tokoh Count mengingatkan Phie pada satu hal, BERHITUNG adalah satu di antara 3 hal yang harus dimiliki anak dan menjadi kemampuan dasarnya untuk menuntut ilmu. Itulah sebabnya sekarang ini banyak sekali les calistung (baca-tulis-hitung) bagi anak-anak. Sekedar share, soal les calistung.. Ning pernah membawa tema ini dalam diskusi kamar kami. Bahwa sebenarnya untuk anak PAUD semua bagian dan cara penyampaiannya adalah dengan bermain. Dunia anak adalah dunia bermain dan semestinya para pendidik, utamanya orang tua harus benar mengerti tentang ini. Bukan malah memaksa anak-anak untuk mengikuti les baca-tulis-hitung sebelum waktunya benar-benar tepat. Sekedar share.. :mrgreen:

Big Bird waves hello

Yang selanjutnya.. Voila..! Tingginya 8 kaki 2 inci.. hmm, hampir 2,5 m; seekor burung besar berbulu kuning. Tokoh ini menggambarkan seorang anak berusia 6 tahun yang suka bertanya ini dan itu.

Ahaa.. Big Bird! Seperti apa karakternya? Hmm, si burung besar yang lahir pada 20 Maret ini lugu dan rasa ingin tahunya tinggi. Sebagai satu di antara tokoh pioneer Sesame Street, ia suka menjelajah dunia dengan mata besar nan sendu-nya serta mengajukan pertanyaan tiap kali ada hal yang kurang ia mengerti. Ya, satu poin penting, “Bertanyalah bila ada yang tidak kau tahu..”

Satu hal lagi, Big Bird juga melakukan kekeliruan, seperti halnya kita, dan dia akan merasa sedih bila tiap hal yang kita rencanakan tidak berjalan seperti yang diharapkan. Namun, satu hal penting perlu dicatat bahwa tokoh Sesame Street  yang satu ini selalu berusaha untuk mencoba lagi dan lagi terus menerus hingga akhirnya ia bisa menemukan solusi atas masalahnya. Kegigihan dan ketekunan Big Bird inilah yang patut dijadikan inspirasi bagi pencinta Sesame Street, terutama anak-anak. Mereka patut memahami bahwa banyak hal yang nantinya harus mereka hadapi saat mereka mendewasa.

Lewat pengalamannya, baik suka maupun duka,  pecinta roller skate ini membantu anak-anak bagaimana mengerti segala macam perasaan. Sedih saat kehilangan sahabat untuk selamanya. Seperti saat Big Bird kehilangan Mr Hooper, Big Bird menunjukkan bagaimana seharusnya jika mengalami kehilangan. Meski bersedih, ia suka menghibur teman-temannya. Atau juga saat ia senang menikmati milkshake. Big Bird menunjukkan pada anak-anak bahwa hidup ini penuh dengan kenikmatan sederhana.

That’s all! Belajar tentu tidak selamanya dari buku mahal, dari penulis terkenal; kita bisa memetik pelajaran dari hal-hal sederhana di sekitar kita; belajar dari polos dan lucunya dunia anak-anak, dan banyak hal sederhana di luar sana. Ya, sementara sampai di sini dahulu ya tulisan Phie.. *capek! :mrgreen:, insyaAllah di bagian berikutnya akan ada kupasan yang tidak kalah serunya. Tunggu.. yang sabar ya. See you..! :mrgreen:

Pustaka: www.sesamestreet.org, sumber foto dari sini

9 thoughts on “Belajar dari Sesame Street (2)

    1. hehe, iya Sop.. rencananya Cookie Monster akan tayang di bagian 3. hm, cuma kapan pastinya itu saya yang belum tahu hehe :mrgreen:

      btw, nge-fans ya sama monster biru itu? 😆

          1. Lucu aja gitu, saya dulu waktu masih kecil udah mikir, “itu ‘kan boneka, emang bisa makan ya? Emang dia punya tenggorokan? Biskuitnya biskuit beneran? Biskuitnya habis dia gigit pergi lewat mana?”

            :mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *