Senja tlah merapat malam. Tatapanku masih saja lekat ke arah langit, ada semburat merah jambu berpendar di antara pucatnya rembulan yang hangat direngkuh segerombol awan. Aku masih merenungi diri. Di pangkuanku sebuah buku karya Armijn Pane tergeletak nyaman. Habis Gelap Terbitlah Terang, engkau pasti tahu siapa yang jadi tema pembicaraan. Ya, sesosok perempuan tangguh dari masa lalu. Aku mengaguminya. Dialah R.A. Kartini.
Tentang R.A. Kartini

Raden Ajeng Kartini adalah sesosok perempuan priyayi (bangsawan Jawa). Terlahir sebagai putri Raden Mas Sosroningrat (kala itu masih menjadi wedana di Mayong, Jepara). Ibundanya, M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara adalah istri pertama, tetapi bukan istri utama. Kala itu poligami adalah suatu hal yang biasa. Peraturan Kolonial waktu itu memang mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukan bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Ajeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo. Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua.
Hingga usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sekolah ini, Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena dipingit. Ya, perempuan Jawa masa lalu identik dengan pingitan ketika beranjak remaja. Setelah dipingit, apa lagi kalau bukan menikah.
Sebenarnya hati kecil Kartini memberontak, keinginannya untuk bebas terbelenggu oleh tebalnya dinding kediaman orang tuanya. Namun, ia berusaha menghibur diri. Raganya memang tidak dapat terbang melayang layaknya burung, tetapi ia punya cara agar pikirannya tetap liar berkelana, agar semangatnya tetap membara.
Kartini mampu berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda, otodidak tentunya. Salah satu sahabat penanya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya.
Kartini banyak membaca. Apa pun ia baca demi mengobati kegundahan dalam kalbunya. Beberapa buku yang ia baca sebelum berumur 20 tahun di antaranya Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek,dan Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata), sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner. Buku-buku, koran, dan majalah Eropa yang dilahapnya menginspirasi dan menggelitik batinnya. Timbullah niatnya untuk memajukan perempuan pribumi yang kala itu dinilai berstatus sosial rendah.
“Raga Kartini memang tidak dapat terbang melayang layaknya burung, tetapi ia punya cara agar pikirannya tetap liar berkelana..”
Dari hasil membaca, Kartini mulai mengutip beberapa kalimat hingga akhirnya ia mengirimkan buah pemikirannya ke beberapa majalah berbahasa Belanda, di antaranya De Hollandsche Lelie.
Lepas dari pingitan, Kartini diminta oleh orang tuanya untuk menikah dengan Bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sebelumnya telah menikah dan memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini sehingga ia diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang.
Dari pernikahannya dengan bupati Rembang, Kartini dikaruniai seorang putra pertama sekaligus terakhirnya, RM Soesalit, lahir pada tanggal 13 September 1904. Empat hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.
***
Semangat Kartini yang Menginspirasi
Semangat Kartini menginspirasi keluarga Van Deventer untuk mendirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, disusul di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah “Sekolah Kartini”.
Pemerintah Indonesia orde lama di bawah pimpinan Presiden Soekarno pun mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.
***
Surat-Surat Kartini

Bermacam hal ia tuliskan dalam surat-surat kepada sahabat di Belanda. Kartini banyak berpikir. Tentang kondisi sosial saat itu, utamanya perempuan pribumi. Ia seperti sedang menggugat budaya Jawa yang ia pandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Perempuan hanyalah makhluk kelas dua, kanca wingking, yang lagi-lagi hanya berhak mengatakan “sendika dhawuh” atau “inggih”. Perempuan Jawa tidak boleh memiliki pemikiran dan menuntut ilmu setinggi pria. Ide dan cita-cita Kartini seperti tertulis: Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid serta Solidariteit atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air).
Surat-surat Kartini juga berisi harapannya untuk memperoleh pertolongan dari sahabat-sahabatnya di luar sana. Seperti pada perkenalannya dengan Estelle “Stella” Zeehandelaar, Kartini mengungkapkan keinginannya agar kaumnya di Indonesia pun bisa menjadi seperti kaum muda Eropa. Dengan gamblang, ia mengisahkan betapa lengkap penderitaan perempuan Jawa akibat belenggu adat. Tidak bisa bebas bersekolah, harus bersedia dipingit, dinikahkan dengan pria yang tak dikenal, dan harus mau dimadu. Ia pun mengungkapkan pandangannya terhadap Islam. Tentang wajibnya menghafal bagian per bagian Qur’an, tetapi tidak diwajibkan untuk dipahami untuk selanjutnya dimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan ia sempat menganggap perbedaan agama hanya menjadi sumber pertikaian, seperti yang ia ungkapkan,
“…Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu…”
Ya.. Semua “curhatan” Kartini dalam surat-suratnya akhirnya dibukukan dangan nama Habis Gelap, Terbitlah Terang. Hmm, ya demikianlah cara RA Kartini memahami sebentuk kehidupan perempuan perintis jalan. Meretas jalan tentu bukanlah peran yang gampang. Sebagai perempuan masa kini semestinya kita bersyukur. Saat ini, apa pun latar belakang kita, selayaknya kita melanjutkan semangat Kartini karena sejatinya tiap manusia memiliki “belenggu diri” yang harus ditaklukkan agar layak mendapatkan derajat lebih baik dari waktu ke waktu. Bersemangat dan terus bersinarlah Perempuan Indonesia!
-ditulis di Karang, diselesaikan di Bulaksumur, 21 April 2011-
kasih ibu kepada beta tak terhingga
bagai sang surya menyinari dunia
begitulah ungkapan cinta kasih seorang ibu, Pak 🙂
saya kepengen baca buku itu; dimana ya bs memperolehny,dulu sepertinya pas jaman sekolah ga inget apakah bu guru mendunjukkan buku itu apa enggak
saya beli itu di Social Agency Baru Jl. Kaliurang, Mas. coba saja ke sana, siapa tahu masih ada.