Aku masih di sini
menekuri batas cakrawala
ketika suhu ruangan tlah makin menurun
Tiada lagi yang bisa melukiskan biru langit-MU
Yang ada hanya
senandung merdu yang kini sedang KAU curahkan
Tumpah
Memandu gendang telingaku
tuk lagi-lagi mengakrabinya
Hujan
Dari sebalik jendela ruang kerja
kuhanya bisa menghirup dalam nafas
“Hmm..” gumamku terdengar “Rabb, aku ingin pulang..”
Namun, deru merdu langit yang KAU pinta tuk berkejapan
sungguh tak hendak memberiku jalan pulang.
“Aah.. Baiklah, biarkan aku menunggu waktu yang ENGKAU siapkan itu” batinku.
Waktu merambat melenakan
Siang berganti petang
dan tlah lebih lima jam kumenanti
Nyanyian itu masih saja sendu terdengar
di luar sana
Hujan
Setengah mengantuk kupaksakan mata
memandangi langit
Hamparan mendung kelabu-putih itu
juga suara nyanyian petang
mengingatkanku pada orkes perabotan
yang dikatakan adik perempuanku
Ah, seperti menilik kembali dapur Simbah Uti
Dahulu kala
di sebuah rumah berdinding batu kali berlantaikan tanah
Di sana sering aku berdiang di depan dhingkel
Menikmati deras hujan
Duduk senyaman mungkin dalam pangkuan beliau
sembari mendengarkan beliau mengajariku menabuh gamelan mungil
Gamelan? Ya
Namanya peking tapi bolehlah juga disebut saron penerus
Uti membelinya di Pakem
bersama oleh-oleh jenang sumsum, dhawet, dan jenang parem
Suaranya nyaring dan tinggi
cukuplah menghibur si kecil Phie
Dengan sabar, beliau mengajariku menabuh ketujuh bilahnya
Mengangkat pelan tabuhnya
yang serupa palu
lalu memukulkannya bergantian
ke arah peking-ku
“...Ro ji ro nem ro ji nem ma nem ma.. ro ji lu ro ji nem.. ro lu ro ji nem ma nem ma..”
Sesaat kemudian, Kakung pun mendekat
Terdengar olehku beliau bersenandung lirih
Phie kecil tahu itu apa
Tembang macapat, Mijil namanya
“Ndhuk, Mijil iku miturut basa Jawa artine lair..” begitu terang beliau kepadaku
Tak lama Kakung pun pergi
menghampiri gambang kesayangan
lalu terpekur sendiri
Bersila
Diam sejenak
lalu meraih kedua bilah tabuhnya
Mulai menembangkan Mijil
Ah, Uti.. Kakung..
Sepeninggal beliau berdua
yang tersisa hanya nyanyian sendu hujan, Mijil
yang menemani Phie kecil menabuh saron penerus-nya
juga petang yang perlahan berangsur gelap
oleh mendung dan hujan
-Bulaksumur, 8 September 2010, ketika Phie teringat pada Uti & Kakung di sebuah petang-
Puisi ini diikutsertakan pada Kuis “Poetry Hujan” yang diselenggarakan oleh Bang Aswi dan Puteri Amirillis
cool 🙂 awesome.. Ada salah satu dari tembang mocopat… Setiap tembang dari mocopat adalah filosofi kehidupan manusia.. adalah filosofi kehidupan manusia..
kereeen..
hujannya jadi makin asyikk
hujaaaaaannnn
numpang neduh
terimakasih atas partisipsi sahabat dalam kuis Poetry Hujan….^^
*kenangan indah bersama eyang kung dan uti tak mudah terlupa ya..doakanlah sepanjang kau bisa…
puisinya bagus….
Semoga sukses dalam kontestnya.
Salam
Ejawantah’s Blog
hujan lagi…..bagus mb, saya jadi inget dulu pernah ikut lomba tembang macapat Kinanthi mangu…tp sekarang udah lupa
Pertama, saya sampaikan jempol dan terima kasih untuk Mas Mabrur & Mas Indra..:mrgreen:
@Mas Adi & Mas Mabrur: Iya, mari melestarikan budaya sendiri..
@Mbak Hani: hohoho.. iyaa, silakan menepi di sini sambil menikmati syahdu nyanyian hujan 🙂
@Mbak Puteri: kembali kasih. tentu, saya selalu mendoakan beliau.. agar jiwa beliau tetap hidup bersama saya.
@Mas Pri: terima kasih 🙂
@Puch: terima kasih
ayo, kapan-kapan nembang lagi. yang masih ingat cengkoknya Dhandhanggula, Gambuh, & Pocung.. Mijil saja sedikit lupa hehe 😀
keren ih kolaborasi tembang mocopat dengan narasinya 😀 good luck
salam kenal 🙂
Terima kasih. Salam kenal dari kaki Merapi, Mbak Putri 🙂
puisiprosa relijius akan sebuah memori.
saya suka. semoga berhasil…
Terima kasih tlah singgah di SPP, Mas Usup 🙂
Aamiin..
Puisi bercerita yang sangat sangat sangat indah Phie. Semoga menang 😉