STOP Pembunuhan Karakter & Kekerasan pada Anak!

inspired by Metro TV news

Memrotes Pembagian Buku, Siswa SD Dipukul Guru

Metro Siang / Nusantara / Minggu, 17 Juli 2011 12:46 WIB

Metrotvnews.com, Tegal: Kekerasan dalam sekolah kembali terjadi. Kali ini terjadi di Sekolah Dasar Negeri Panggung 9 Kota Tegal, Jawa Tengah. Seorang siswa, FS, berusia 7 tahun, stres dan mogok sekolah setelah dipukul dan diusir dari sekolah oleh gurunya. Ironisnya, pemukulan guru terhadap siswa itu dilakukan setelah siswa kelas satu itu memrotes pembagian buku yang dinilai tidak adil.

FS anak dari Sudiarto, warga Jalan Flores, Tegal, itu, mengaku dipukul oleh ibu gurunya di bagian muka dua kali. Pemicunya, ia memrotes pembagian buku karena dirinya dan beberapa siswa tidak memperoleh buku bacaan pelajaran bahasa Indonesia ketika sedang berlangsung proses belajar mengajar di kelas.

Setelah dipukul, korban menangis. Parahnya lagi, ia diusir dari kelas oleh guru tersebut. Pihak keluarga  sangat menyesalkan dengan sikap guru tersebut, dan meminta pihak sekolah menegur guru yang bersangkutan.

Saat dikonfirmasi Metro TV, Kepala SDN Panggung 9 Bambang Sugiarto membenarkan peristiwa tersebut. Ia berjanji akan menyelesaikan persoalan tersebut secara kekeluargaan.

Sementara itu, pihak Dinas Pendidikan Kota Tegal belum bisa memberi keterangan secara rinci terkait peritiwa tersebut.(DSY)

sumber dari sini

Karang, 18 Juli 2011

Siang kemarin saat saya nyantai di rumah bersama ibu dan adik, sebuah tayangan berita siang dari Metro TV membuat saya terheran-heran. Ada seorang anak berusia 7 tahun (perkiraan saya kelas 1 atau 2 SD) di Tegal, Jawa Tengah yang ngambeg tidak mau berangkat sekolah lantaran sehari sebelumnya ia mengalami kekerasan di sekolah. Yang membuat saya tidak habis pikir adalah si pelakunya. Bayangkan saja, si anak dipukul oleh guru kelasnya sendiri! Astaghfirullah hal’adhiim.. Alasannya sepele, si anak menilai gurunya kurang adil dalam pembagian buku pelajaran, makanya si kecil ini protes. Sebaliknya, bukan ditanggapi baik-baik, si guru malah memukul wajah si anak dengan buku. Mengapa harus dengan cara kekerasan??
***

Hmm, itu seperti menguak kembali kisah kelam masa kecil saya. Saya juga pernah mengalami kekerasan oleh guru kelas saat saya duduk di bangku kelas 2 SD. Siang itu saya ingat benar, jadwal kami belajar Bahasa Indonesia. Saya boleh dibilang termasuk murid yang lumayan pandai, meski saat itu saya belum lancar membaca. Ketika guru kelas saya itu (sebut saja Bu Darmi, red.) meminta salah satu di antara kami untuk membaca di depan kelas, saya terima tantangan beliau dengan sangat antusias.

“Siapa yang berani membaca di depan kelas?” tanya beliau.

“Saya, Bu!” sahut saya.

“Ya, Ayo, Jatu.. maju sini!”

Tanpa banyak bicara saya pun melangkah menghampiri meja beliau. Setengah berbisik saya beranikan bicara,

“Saya belum lancar baca, Bu.”

“Oh, ndak apa-apa. Tidak Ibu hukum.”

Dengan rasa percaya diri saya melangkah ke depan, yang saya tahu saya belajar, tidak ada hukuman bagi anak yang mau berusaha belajar. Saya beranikan diri untuk mengatakan yang sejujurnya kepada beliau karena saya dengar dari kakak kelas kalau Bu Darmi orangnya galak. Sebuah kecelakaan lalu lintas pernah membuat beliau gegar otak dan semenjak itu, saya tidak pernah tahu yang sebenarnya, tapi kata mereka, karakter beliau berubah.

“Budi akan ikut wid…ya wisata bersama rombo…ngan SD Sukama..ju..”

Dengan terbata saya membaca sebuah teks di halaman buku Aku Cinta Bahasa Indonesia berwarna hijau.

Beberapa waktu kemudian, beliau mulai menghampiri saya. Awalnya beliau membantu saya, tetapi lama kelamaan beliau semakin dekat dan tiba-tiba saja tangan kanan beliau mendarat di punggung saya.

Buukk!

Sebuah pukulan membuat tubuh mungil saya terguncang. Mungkin karena merasa sedikit kesal dengan saya (entah, saya juga tidak tahu pasti).

“Gitu saja ndak bisa!” komentar beliau.

Seantero kelas hening, tapi saya yakin teman-teman saya pun merasakan kengerian. Saya hanya mampu terdiam. Menunduk, lalu setelah saya diminta mundur, saya pun kembali ke bangku dengan sedih. Saya percaya pada apa yang beliau katakan, bahwa saya tidak akan dihukum hanya karena belum lancar membaca. Namun, apa yang saya peroleh kemudian?? Apa saya tidak boleh mempercayai ucapan guru kelas saya?
***

Sepulang sekolah saya tidak berani menceritakan kejadian itu kepada ibu atau pun bapak. Di balik kebungkaman saya, ada rasa aneh yang perlahan muncul. Rasa yang menguat tiap kali akan pergi ke sekolah. Rasa yang bercampur aduk dan membuat saya enggan berpisah dengan ibu. Takut, sedih, kesal bercampur. Saya selalu tidak tenang jika melihat bu guru. Pelajaran Matematika seperti membedakan tanda lebih dari “>” dan kurang dari “<” pun menjadi teramat rumit bagi Phie kecil. Makin saya tahan rasa itu, makin memuncak. Saya ngambeg. Saya kehilangan semangat. Apa yang telah saya alami seolah mematikan keceriaan saya. Tidak ada lagi Phie kecil yang suka bernyanyi tiap pagi. Saya kasihan pada ibu, beliau terlihat kalang kabut menghadapi anak sulungnya ini. Maunya apa ta? Tapi ketakutan saya meraja, saya trauma..dan itu saya simpan sendiri. Ibu berusaha membujuk saya, bahkan rela mengantar-jemput saya dengan sepeda jengki hingga gerbang sekolah. Namun, lagi-lagi beliau bertambah bingung melihat saya tidak mau turun dari goncengan dan mendadak mewek karena beliau memaksa saya masuk sekolah. Hal itu berlanjut hingga 2 minggu-an.

Meski saya tidak pernah tahu apa yang beliau lakukan untuk menenangkan saya, tapi saya yakin ibu mencari tahu sebab musabab hingga saya seperti itu…hingga, suatu hari akhirnya beliau mendapat informasi dari nenek teman sepermainan saya, Sulis.

“Ulis ki cerita yen kapan kae Mbak Jatu digebug karo bu guru ne, Bu Heni..” kata mbah Priyo menerangkan.

(terjemahan: “Ulis tempo hari cerita kalau Mbak Jatu dipukul oleh bu guru-nya, Bu Heni..”)

Kontan beliau kaget. Keesokan harinya, tanpa sepengetahuan saya beliau melapor pada kepala sekolah, Ibu Suharti. Protes. Hal itu saya ketahui malam harinya ketika beliau ngobrol dengan bapak, tanpa sengaja saya mendengar sebuah kalimat terlontar dari ibu,

“Saya menyekolahkan anak saya di sini bukan untuk dihajar..”

Ingatan saya pun melayang kepada kejadian siang harinya. Saat kami ada jadwal Pendidikan Agama Islam saya dipanggil maju oleh Bu Supriati.

“Kemarin Jatu dipukul sama Bu Darmi ya?” tanya beliau.

Saya mengangguk.

“Sebelah mana yang dipukul?” tanya beliau lagi.

“Sini, Bu” jawab saya sambil berusaha mengulurkan tangan kanan saya ke punggung.
***

Sungguh, saya tidak pernah tahu apa yang dilakukan ibu hingga beberapa waktu setelahnya dilakukan split kelas, 2A dan 2B, padahal seingat saya belum ada 1 caturwulan berjalan. Saya sendiri masuk ke 2B dibimbing oleh guru yang berbeda, Bu Sri Dalsih (almarhumah). Saya disodori atmosfir baru dengan guru yang energik dan penuh perhatian. Sejak itu, sikap bu darmi pada saya pun sedikit berubah. Ya, bisa jadi karena teguran ibu. Prestasi saya urung merosot, meski saya harus mengejar ketertinggalan selama saya mengalami trauma, setidaknya ibu menyelamatkan sepenggal kesempatan emas putri sulungnya. Terima kasih, Ibu.
***

stop violenceApa yang telah saya dan siswa-siswi lain alami dengan kasus serupa tak sama ini selayaknya dipikirkan bersama. Sebagai bagian dari kehidupan anak-anak, saya merasa trenyuh. Tidak hanya sekali dua kali, saya mencatat pula perlakuan guru yang lain di sini. Pertanyaannya, “Sampai kapan hal semacam ini harus terus menerus terjadi?” Sudah cukup kita berlaku “tak ramah” kepada si kecil.

Bagi saya pribadi, menjadi orang yang jauh lebih senior dalam hal umur bukan berarti melegalkan kita untuk bertindak semau gue. kan gue bosnya. OK, kita memang perlu menunjukkan siapa bos-nya, tetapi dengan cara yang baik dan tepat. Kita memang perlu tegas dan membuat mereka berlaku tertib setiap hari, tetapi tidak dengan cara membunuh karakter semacam itu, bukan? Mengutip apa yang telah diutarakan oleh partner diskusi kamar saya, Bu Ning,

Anak-anak bukan manusia dewasa berukuran mini..

Mereka anak-anak yang belum genap benar cara berpikir dan bertindaknya. Masih banyak hal yang harus mereka lalui sehingga mereka kelak dewasa. Mereka butuh bimbingan dari orang dewasa di sekitarnya, mereka peniru yang sangat baik dari karakter ayah-bunda serta bapak-ibu gurunya. Kalau kita sebagai manusia yang (seharusnya bisa dianggap) dewasa saja bertindak semacam itu; bagaimana mereka menghargai kita kelak? Bagaimana mereka akan menghargai generasi selanjutnya? Mereka penerus kita, alangkah menyedihkan melihat mereka menjadi brutal karena salah asuhan dan hanyut dalam lingkungan tak sehat (lain waktu saya ingin berbagi tentang hal ini, insya Allah, semoga diberi kesempatan). Hmm, itulah, maka jangan heran bila beberapa tahun terakhir ini sekumpulan pemerhati anak bergabung membentuk sekolah berbasis pendidikan karakter. Ya, kita tidak bisa berdiam diri melihat fakta. Kini saatnya mulai berbenah.. selama kita mau berupaya dan belajar, insya Allah akan ada jalan terbuka untuk setiap niat baik. Aamiin.

STOP pembunuhan karakter dan kekerasan pada anak!

-sebuah pemikiran sederhana, ditulis dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional, 23 Juli 2011-

8 thoughts on “STOP Pembunuhan Karakter & Kekerasan pada Anak!

  1. ak yo pernah mb..klas 2 SMP… sbnernya hnya salah faham seh..
    pas pelajaran Geografi, gurune emg terkenal killer..mpe2 pernah kita demo krn kejamnya..
    “sing Ubrek depanku,tp sing jd sasaran ak ma teman sebangkuku..”
    Punggung kita lumayan kaku se mbk..lha piye? digebuk pke penggaris kayu sing kukuran 1meter kae, mending ping pisan, iki ping enem..

  2. tapi kenapa orangtua kita diperlakukan dengan keras tidak protes malah banyak yg jadi orang? kalo anak2 jaman sekarang terlalu lembek kata gue sih

  3. kalau saya dulu pernah lihat teman-teman saya di pukul kepalanya oleh guru bahasa Indonesia kami, hanya karena mereka telat masuk kelas.. ckckckckckck, miris sekali memang.. tapi anehnya, kenapa kok semuanya guru bahasa Indonesia yaa??

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *