Bembem I’m in Love

sungai Opak
sungai Opak di pagi hari

Malam temani sepiku beradu
Mengalun nada syahdu
Dari kekasih-kekasih tercinta-Mu

Adzan Isya’ ini berseru
Tegakkan kembali rapuh imanku
Sehabis Engkau luluhkan kotaku
Tempat bermukim saudaraku

Tuhan, kuyakin satu
Engkau tlah karuniakan yang terbaik
Untukku, untuk mereka
Untuk kami semua
Moga tiap hela nafas tersisa
Menjadi renungan tuk semua
Menjadi doa pembuka
Awal masa lebih bahagia

Bembem, 24 Juni 2006

Larik-larik puisi pembuka di atas sungguh membuatku merindunya. Ya, Bembem. Sebuah kampung yang terletak di Jl. Imogiri Timur. Tiada kusangka pada awalnya bahwa kampung ini yang menyematkan kenangan manis semasa KKN 5 tahun silam.

Semua bermula dari peristiwa gempa 5,9 SR pada Sabtu, 27 Mei 2006 yang memporandakan sebagian Jogja dan Jawa Tengah. Pagi itu tiada firasat apa pun. Pagi itu aku yang sedang asyik menambahkan tulisan di catatan harian di dalam kamar yang terkunci, kontan kaget.. GEMPA! Allaahu Akbar!!

Begitu getaran semakin membesar aku berusaha melarikan diri dari dalam rumah. Masya Allaah, sulitnya! Tubuhku terguncang, badanku limbung. Berlari pun terpeleset sana-sini. Rabb.. tolong hamba!! Setelah beberapa detik dalam kepanikan luar biasa, akhirnya pintu pun bisa kubuka. Aku berlari menyambar kerudung, terbirit keluar rumah, melompat ke halaman, dan duduk jongkok di bawah pohon rambutan depan rumah. Beberapa detik kemudian Ning berlari dari kamar mandi keluar. Kami berpelukan. Dua lagi yang lain? Ibu? Di? Oh, syukurlah sudah menyelamatkan diri juga. Bumi berguncang sekitar 1 menit. Allaahu Akbar..!! Semua orang berlarian ke arah jalan, menjauhi bangunan rumah yang bisa saja ambruk oleh dahsyatnya kekuatan gempa.

Setelah gempa berhenti, kami semua berdiri menghadap ke utara. Terlihat dari kejauhan Merapi mengepulkan asap solfatara. Tak kentara, tapi.. apa benar ini gempa vulkanik? Sepanjang usiaku, inilah yang terbesar dan terlama. Menurutku gempa vulkanik Merapi tidak sebesar itu. Lalu? Segala aktivitas berlanjut kembali. Kedua adikku tetap berangkat sekolah. Sementara Sabtu pagi itu, aku kebetulan sekali libur. Praktikum lapangan Pengelolaan Hama dan Penyakit Tumbuhan yang biasanya dilaksanakan pada Sabtu pagi di lahan pasir Pantai Bugel, Kulon Progo telah selesai seminggu sebelumnya. Alhamdulillaah.. Hmm, listrik padam. Tapi, aku masih bisa menghubungi beberapa teman via telepon rumah. Teman-teman berpikir ada apa-apa denganku, dengan lereng Merapi tapi Alhamdulillaah aku dan keluarga, semua baik saja.
***

27 Mei 2006 sekitar pk 08.00

Gempa susulan terjadi. Isu tsunami beredar sangat cepat dan meresahkan. Orang-orang berbondong melajukan kendaraannya ke utara. Kutenangkan ibu, beliau terlihat sangat panik melihat kedua adikku belum jua pulang. Allaahu Rabb.. Kupaksakan diri menjemput adik ragilku, Di. Kala itu ia masih duduk di bangku SMPN 2 Ngaglik kelas 2. Kulajukan Ezy sekencang mungkin. Setibanya di tepian Jl Kaliurang, aku SHOCK!!! Lalu lintas begitu padat. Semua mengarah ke utara. Orang-orang berteriakan karena panik. Yaa Allah, aku ingin menyeberangi arus menjemput adikku, tapi kenapa tak bisa? Aku terbawa, kalut melihat orang-orang. Apakah ini akhir dunia ya Allah? Waktu yang Engkau janjikan kepada kami semua? Saat di mana Engkau guncangkan bumi dan membuat kami terhalau kian kemari?

Aku masih berpikir di sela gumaman doaku ketika…

Arep neng ndi? Balik Dik.. BALIK.. Banyune wis tekan Dayu.. Cepet ndang balik, MUNGGAAH..!!”

Seseorang meneriakiku. Mas Ian, tetangga beda RW. Kedua bola matanya merah karena menangis. Rabb, benarkah? Adikku? Bagaimana dengan mereka? Sementara Mas Ian melajukan mobilnya ke utara. Aku menentang arus. Nekat, kulajukan Ezy sembari menahan tangis dan badanku yang gemetaran. Astaghfirullaahal’aadziim.. Beri hamba kekuatan ya Rabb..

Lima belas menit kemudian..
Rupanya cukup sulit menerobos jalanan yang padat. But, finally.. aku pun tiba di depan gerbang sekolah adikku. Di sana sama saja, anak-anak berkerumun, panik. Berpuluh motor orang tua siswa hilir mudik. Kuedarkan pandangan mencari Di. Ah, itu dia! Ia berlari ke arahku.

“Ayo, Mbak.. mulih!” katanya sembari menyambar helm yang kuangsurkan dan bergegas naik ke boncengan.

Sesampainya di rumah.. Astaga, rumah kosong? Ke mana ibu dan Ning? Kulongokkan kepalaku ke hampir tiap ruang. NIHIL, tidak satu pun dari mereka kutemui. Sembari berlari keluar rumah, aku berteriak memanggil ibu. Rupanya beliau ada di depan rumah seorang tetangga sekitar 50 m dari rumah kami. Beliau terlihat berbincang serius dengan beberapa orang. Suasana kampung mendadak sepi. Sepertinya memang hampir semua berlari ke utara, menghindari tsunami seperti yang dilakukan Mas Ian. Padahal semua itu sekadar isu. Kalau air bisa mencapai tempat kami, pastilah Bantul dan kota Jogja tenggelam.. Astaghfirullaah.. Kenyataannya, semua baik-baik saja, kecuali listrik yang masih saja padam hingga malam tiba.

Seharian kami tidak berani masuk rumah terlalu lama. Menghabiskan waktuku di teras, ya satu-satunya tempat paling nyaman menurutku. Hingga saat malam tiba, untuk tidur pun terpaksa menggelar tikar dan kasur di teras. Berteman langit temaram nan kelabu, kami menghabiskan waktu mengobrol. Mata ini seolah enggan terpejam, terjaga karena was-was terjadi gempa susulan. Ya, hingga sepekan usia gempa, kami masih tidur di teras. Tidur beramai, mirip seperti ikan pindang.

***

Usai gempa dahsyat itu semua tersihir. Di mana-mana posko bantuan dibuka. Penggalangan dana digelar. Dapur-dapur umum didirikan, termasuk di Fakultas Pertanian UGM. Rasa trenyuh menggiring kami semua yang masih jauh lebih baik untuk memberi yang terbaik bagi saudara kami di Bantul dan sebagian kota Jogja. Rasa yang sama tersadap dalam benak saat kusempatkan menyambangi sahabatku Nanik Utami di Sewon.

Rumah simbah putri-nya (simbah putri= nenek, red.) tempat ia tinggal selama ini ambruk, rata dengan tanah. Sementara itu, ia masih harus merawat simbah putrinya yang terluka karena tertimpa kayu rumah. Rabb, mohon sabarkan dan istiqomahkan sahabatku ini. Aamiin.. Hmm.. Apa yang Nan, sahabat juga saudaraku yang lain alami dan rasakan; mungkin itulah yang akhirnya menggiringku keluar dari ruang pembekalan KKN antar semester di Fakultas Filsafat beberapa waktu lepas kukunjungi Nan. Bersama beberapa teman sejurusan, aku berlalu pergi dari Fakultas Filsafat. Kami berbondong menuju gedung rektorat, tepatnya ruang LPPM. Ya, program KKN PPM Peduli Gempa DIY-Jateng dibuka.

Ah, aku tidak bisa menunggu terlalu lama. Tak mungkin mendustai batin lalu tersiksa sendiri saat orang lain bergerak membantu sementara aku hanya bisa diam. TIDAK! Kuputuskan untuk bergabung menjadi mahasiswa relawan, sekalipun ini kali pertamanya. Entah hendak di-plot-kan di posko mana, terserah. Aku ingin, itu saja niatku.

***

Awal Juni 2006

Tim KKN relawan pun dibentuk, siap di-plot. Kelompokku beranggotakan 26 orang ditempatkan di Dusun Bembem, Kelurahan Trimulyo, Kecamatan Jetis, Bantul. Anggota sudah siap, tapi sayangnya belum ada dosen yang membimbing kami. Akhirnya, Edo (teman satu posko) berinisiatif meminta seorang dosen dari Fakultas Teknik Pertanian untuk mendampingi kami. Ya, Pak Supriyanto. Rumah beliau di kawasan Bantul kota juga rusak. Namun rupanya, saat survei 5 Juni 2006.. baru kutahu bahwa sesar Opak sangat parah mengalami kerusakan kala itu. Beginilah gambaran Bembem kala kami tiba untuk kali pertama di sebuah dusun yang terletak di pinggir Jl. Imogiri Timur dan terpisahkan oleh aliran kali Opak.

tim Bembem
tim Bembem
jalan tengah kampung Bembem
jalan tengah kampung Bembem
puing bangunan yang tersisa
puing bangunan yang tersisa

***

6 Juni 2006

Bagaimana mungkin sebuah tim KKN berangkat tanpa persiapan matang? Itu yang benar-benar terjadi pada tim Bembem A, tim kami! Tidak ada rumah apalagi bangunan tuk sekadar membuat tidur kami nyenyak. Bermodal beberapa tikar lipat dan terpal, juga peralatan “darurat”, kami pun berangkat dari pelataran utara Gedung Rektorat UGM menuju ke Bembem, tempat tim kami memulai tugas sebagai mahasiswa relawan.

Posko utama kami berdiri di bawah rindangnya pohon sawo. Dapur posko sangat darurat. Mandi? Sebuah kamar mandi dengan dinding nyaris roboh di sebuah rumah tepat di sebelah barat tenda yang ditinggalkan oleh pemiliknya mengungsi menjadi tempat kami mengantri mandi.

Fasilitas ibadah? Sebuah masjid yang dinilai oleh tim teknik sipil sudah tidak layak huni, Baitul Makmur, menjadi tempat kami anggota tim muslim untuk sholat. Bangunan masjid inilah satu-satunya tempat berkumpul warga. Mulai dari sholat berjamaah, kegiatan TPA, kegiatan tim Bembem (Festifal Anak Sholeh-FAS, Trauma Center, pertemuan untuk persiapan pengajian, nonton bareng, hingga persiapan outbond untuk anak-anak Bembem)..

Hmm, betapa kami semua di-wajib-‘ain-kan untuk ekstra bersabar. Terima kasih, Rabb. Apa pun yang telah Engkau limpahkan kepada kami tentu ada hikmah di sebaliknya.

aktivitas dapur posko
aktivitas dapur posko
evaluasi program kerja
suasana evaluasi program kerja
bersama dosen pembimbing lapangan
bersama dosen pembimbing lapangan
usai festival anak sholeh
usai festival anak sholeh
acara pamitan
acara pamitan

***

sesetan gantung
sesetan gantung

Ah, Bembem.. kapan lagi aku bisa singgah kembali di sana?
Sejenak menikmati tenangnya aliran Opak dari sebentuk sesetan gantung (sesetan = jembatan, red.).
Memandangi segerombol itik riang berenang.
Menikmati sinar mentari di antara pagi berkabut.
Menikmati perbincangan dengan Nur, Fathul, Faisal, Weni, Nining, Lilik.. dan anak-anak Bembem lain. Sudah sebesar apa sekarang kalian?
Hmm.. Bembem, you will always make me in love. Semoga suatu hari nanti aku diberikan kesempatan baik itu, insyaAllah.. Aamiin ya Rabb.

14 thoughts on “Bembem I’m in Love

  1. wah… search bem-bem eh ktmu ini blog. tentang gempa jogja lagi, dan background fto yg dimasjid ada 2 lemari itu rumah saya dan itu lemari keluarga saya..haha… sekarang semua sudah pulih mbak..silahkan kl mw berkunjung lagi.. saya sendiri pun jarang pulang .. lam kenal

    1. moment itu sungguh-sungguh menyedihkan, Mimi..tapi tentu meninggalkan bekas mendalam di hati.
      Bembem berbenah, sama juga dengan wilayah Jogja yang kala itu poranda. Sekarang setelah 6 tahun, tentu semakin baik kondisinya, Mi.. itu juga berkat doa Mimi & seluruh penduduk Indonesia yang bersimpati pada Jogja. Terima kasih banyak 🙂

        1. Hai, Nita 🙂
          Ini postingan lawas, sebuah kenanngan. Ya semoga bisa mengabadikan kebersamaan kami dengan Nita dan teman-teman di Bembem 🙂

  2. Di Bem-bem saya dilahirkan, sudah 14 Tahun aku meninggalkannya, Tapi saat gempa itu aku datang kembali ke desa kelahiran. Dan saya salah satu yang ada di FAS di Masjid Baitul Makmur bersama Pak Dukuh (Nur Safi’i Abror) yang ada di foto.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *