
Teruntuk Di,
Apa kabar, Adhi Lanangku? Dua bulan awal di tahun 2012 ini terasa begitu sepi tanpa engkau. Rumah lengang kala tak ada kau. Biasanya kalau kau di rumah, Mbak akan mudah menemukanmu di kamar tertidur pulas dengan gaya tengkurapmu yang khas. Atau di depan televisi, asyik memelototi film kartun Sponge Bob sambil sesekali tertawa ngakak. Atau.. nangkring di kursi biru sambil menyangga sepiring mie goreng plus telur rebus buatanmu sendiri. Biasanya Mbak akan sangat sibuk mengganggumu agar membagi beberapa suap.
Di, tahukah kau? Ada yang kurang kalau kau tidak ada di rumah.. Sesekali saat Mbak ndak ada jadwal les, Mbak suka masuk ke kamarmu. Tenang saja, Mbak tahu kau tak pernah mau terlalu diganggu. Bukan. Mbak hanya menyapu, membersihkan debu yang melekat di meja, dan menata beberapa portofoliomu semasa sekolah. Kadang, tanpa sadar Mbak terpaku melihat coretan di dinding kamarmu. Terdiam, Mbak mencoba membaca apa yang sedang kaurasakan dari goresan abstrak itu. Entah benar atau tidak, ada kesan ganjil dan ketakutan yang dalam di sana. Hmm, semoga itu hanya perasaan Mbak. Kau memang sedang ada di luar sana. Entah kapan lagi kau akan pulang. Dua bulan kemarin SMS dan telepon Mbak tak ada yang kau jawab.
Tahukah apa yang Mbak lakukan bila Mbak tak menemukan sedikit pun kabarmu? Mbak menyambangi facebook, menuliskan message kepadamu sekadar bertanya kabar. Kau tentu tahu siapa yang sangat mengkhawatirkan keadaanmu. Ibu. Sesekali beliau bertanya pada Mbak, “Adhimu piye, Mbak? Disenggol belum?” Maafkan Mbak kalau kadang tak sempat menyenggolmu karena sibuk kesana kemari mengejar setoran. Pagi-sore di redaksi, pulang dari redaksi langsung berangkat les. Kau tentu tahu bagaimana keluarga kita selepas bapak pergi. Hei, itu bukan untuk kita ratapi, Le.. Oya, jangan khawatir.. Mbak ndak ingin tinggalkan ibu. Ingat kan, kita tinggal punya beliau? Mbak sudah cukup kebal mendengar omongan mereka. Mereka yang (sok) tahu bagaimana semestinya melakoni hidup. Gusti Allah itu tidak pernah tidur, Le.. Selama kita mau berusaha, di mana pun kita berada, insyaAllah pintu rejeki itu selalu terbuka.
Le, banyak hal yang terlewat kala kau tumbuh mendewasa. Kehilangan figur bapak sungguh bukan hal mudah, Mbak mengerti. Namun, ingatlah Gusti Allah telah menuliskan semua lakon hidup tiap makhluk-Nya. Sepatutnya kita melakoni dengan sepenuh hati; meski nyeri, bersimbah peluh dan air mata, mari kita sama-sama belajar ikhlas. Biarkan bapak tenang di sana. Mendewasalah dengan cara dan jalanmu. Mbak percaya engkau mampu. Betapapun mereka menilaimu, bagi Mbak, engkau tetap istimewa.
Salam kangen,
Mbak-mu
Tulisan ini diikutkan pada GIVEAWAY: Aku Sayang Saudaraku yang diselenggarakan oleh Susindra.

wah itu komik buatan adiknya ya mbak? keren. 😯
iya, dia hobi nggambar 😀
speechless bacanya. ku hanya bisa berharap kalian bertiga baik-baik saja.
Alhamdulillah, kami baik, Pak Riz 🙂
Hanya kadang terputus komunikasi. Kemarin 2 bulan itu ia pergi tanpa membawa charger ponselnya, ya sudah sama sekali ndak bisa dihubungi 🙂
moga menang… 🙂
Terima kasih, Mbak Yisha 🙂
terharu… T_T
hiks.. 😥
sudah, Puch.. ndak apa-apa. nothing to worry about me 🙂
Moga Di bae2 aje dan selalu dalam lindunganNya, aamiin.. 🙂 semangat ya mba..
Aamiin ya Rabb.. makasih doanya, Nay. Semangat selalu! 🙂
jatuk, emang adikmu kemana??
dia kerja, jarang pulang.. begitu, Jeng 🙂
salam kenal buat Di….pasti kangen ya phi ??? skrg Di nya dimana ?
Di belum lama ini pulang, Mi.. tapi hanya sebentar.
kangen banget, dia adik laki-laki Phie satu-satunya
loh dodi emang kenapa mbak jatu ? kerja dimana skrg ?wah dah gede ya …inget waktu jaman dulu kalo aku maen ke rumah, digodain sm dodi …yang saat itu msh kecil ….
yah, begitulah.. namanya sedang mencari jati diri, mendewasakan diri tentunya, Mbak 🙂
Gambar Dodi bagus, nih.
Saya yakin tak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan dari gambar itu. Aku tahu seseorang yang juga melakukannya, dan karena suka dengan figur ini, serta pandai menggambar.
Semoga Dodi segera menemukan jati dirinya ya. Dan segera pulang.
Salam manis dari Jepara,
Susindra
Terima kasih atas doanya, Mbak Susi. Aamiin.. Begitulah yang selalu kami panjatkan kepada Tuhan. 😥