Pagi ini akhir pekan pertama di bulan ketiga. Saya baru saja membuka mata, Alhamdulillahilladzi ahyana ba’dama amatanaa wailaihinnusyur. Hujan, itu yang membuat tidur saya nyenyak semalaman. Tentu saja pagi di kaki Merapi menjadi lebih dingin dari biasanya. Hmm.. #mulet. Segera saya beranjak dari dipan, saya pun menuju meja kerja. Meraih ponsel yang memang saya bikin silent mode on semalaman. Saya tidur lebih awal setelah izin tidak berangkat mengajar. Rasa ampeg di dada akibat batuk beberapa waktu terakhirlah penyebabnya. Hei.. sebuah pemberitahuan SMS nangkring dengan sangat manis di layar ponsel. Saya buka. 19:23:38 itu waktu yang tertera, yes saya sukses tidur tanpa terganggu suara ponsel. Nyengir sejadinya begitu membaca isi SMS dari kawan.
Menurut anda lebih menyedihkan mana? Ditinggalkan orang yang anda cintai atau ditinggalkan orang yang mencintai anda?
Dengan sisa nyengir, saya pun bergegas menuju kamar mandi: cuci muka. Sedang tidak ada kewajiban sholat, jadi setelah merapikan rambut yang bak singa
dan melipat selimut, saya colokkan si kabel laptop (milik dosen yang dipinjamkan kepada) saya. Sedianya saya akan ke dokter bersama ibu, eh ndak tahunya pagi-pagi malah hujan. Keburu berangkat dinas tuh bu dokternya. Ya, daripada manyun berkelanjutan, mending saya tulis saja tentang cinta. Thanks to my friend ya atas ide yang mampir via SMS. Lucky I am
so, lets start!
***
Mencintai
Pada awalnya saya tidak pernah tahu seperti apa rasanya sebelum akhirnya saya bertemu dengan seseorang, sebut saja Jingga. Cinta monyet jaman saya SD kelas 5 yang berlanjut hingga era senandung masa puber. Lebih pada tertarik karena sikapnya terhadap saya, juga karena saya pikir dia orang yang pas saya ajak belajar. Kami berteman baik, itu saja. Tidak pernah ada obrolan yang menyinggung tentang pacaran. Mungkin karena sikap orang-orang sekitar (baca: tukang kompor), saya jadi makin suka. Mereka pun menganggap kami pacaran. Aneh! Meski tidak ada puisi, tapi cerita tentang Jingga hampir selalu menghiasi lembar-lembar catatan harian saya. Jingga yang baik, yang perhatian kepada hampir semua teman-temannya, yang berprestasi, dan yang (katanya) banyak diuber-uber oleh teman perempuannya. Whuuuaaaa.. saingan saya banyak nih! π Pernah suatu hari saya beranikan diri menembaknya. DOORR!! Sebuah surat kaleng beramplop putih berisi kertas bertepi bunga-bunga melayang ke ruang kelasnya dengan bantuan seorang tukang pos dadakan. [Helloo..! Saya baru sadar kalau ternyata saya norak sekali!] Namun, bukan jawaban surat kaleng yang saya terima, justru saya jadi merasa dimata-matai oleh seorang guru. Sepertinya beliau kenal dengan tulisan si pengirim. Help!! Okey, fine.. silakan saja pak guru mengintai dan si doi bungkam seperti itu. Saya hanya perlu bicara, hanya perlu menyampaikan, hanya ingin ia tahu.. thatβs all. Saya toh cukup senang melihatnya tersenyum dari kejauhan. Begitulah, biasa sekali, tapi kesannya bertahan sangat lama bahkan hingga hampir satu dasawarsa. Wuiih! π―
Lain cerita saat akhirnya cinta jaman anak monyet itu kembali bersemi setelah beberapa tahun kemudian kami berjumpa. Hm, bukan terpaksa, keadaan yang membuat begitu. Saya toh tidak pernah bisa mengelak. Who knows? Berjalan melewati waktu bersama, seperti menyemikan sekian banyak hal di masa lalu. CLBK, begitu kata orang. Banyak nian puisi yang terlahir ketika ia ada menghiasi hari-hari. Saya pun terbiasa meracau, menggalau kalau istilah nge-trendnya sekarang. Sayangnya setelah beberapa waktu berjalan, saya menyadari.. yang ia tuju bukan saya. Bukan orang yang kala itu sering berbagi dan berdiskusi dengannya tentang banyak hal. Bukan pula gadis yang kala itu pernah ia hibur karena tidak bisa menjenguk makam di enam tahun kepergian ayahnya dengan sebuah kalimat,
βHis soul n spirit will be with you always.. boleh teringat & beranjak berdoa. Jangan lagi bersedih.β
Lalu? Saya kesakitan, itu sudah pasti. Saya manusia biasa, bukan wonder woman. Benar kata sohib saya, Desi cokelat, yang suka berceloteh di sini,
βKita tidak akan menikah dengan orang yang kita cintai. Kita menikah dengan orang yang mencintai kita.β
Saya ingat benar perkataan itu, hingga suatu malam di bulan Ramadhan, sekitar 3 tahun lalu. Via SMS saya sampaikan kepadanya sekali lagi tentang satu hal yang sama. Dari jawabannya, sekalipun tersirat, saya mengerti memang bukan saya, bukan orang yang mencintainya. Ada orang lain yang ia harapkan menjadi pelengkap separuh kehidupannya di seberang sana. Maka dengan luapan tangis, saya sampaikan padanya protes beruntun. Sayang, lagi-lagi ia diam seribu bahasa. Tidak pula meminta maaf. Fine, tidak mengapa, ini bukan kesalahannya. Mungkin saya yang salah mencintainya. Hm, kejadian itu membuat saya belajar lebih banyak. Oke, saya memang menyayangkan sikapnya, tapi pada akhirnya saya belajar memahami, memaafkannya. Bisa jadi ia tak tega menyakiti sahabatnya sendiri. Lebih baik saya biarkan ia, orang yang kala itu saya cintai, melenggang menemukan jalan kebahagiaannya. Hm, ini seperti mendendangkani lagunya Kahitna, Aku Cinta Sendiri
Biar aku yang pergi bukan lelah menanti
Namun apalah artinya cinta pada bayangan
Perih aku rasakan
Kenyataannya cinta tak harus slalu miliki
Jadilah, saya mengalah pergi #ngenes, tanpa harus membawa-bawa kebencian di hati. Seperti janji yang tiga tahun lalu saya sampaikan padanya,
βTolong pegang kata-kataku, sampai kapan pun aku takkan membencimu..β
Β ***
Dicintai
Selepas kau pergi tinggallah di sini kusendiri
Kumerasakan sesuatu yang tlah hilang di dalam hidupku
by Laluna
Sulit. Itu kata pertama yang menghantui saya ketika melangkah meninggalkan Jingga. Hmm.. Setidaknya saya belajar menghampakan hati. Tidak baik menangisi seseorang yang telah menemukan kebahagiaan. Sampai beberapa waktu kemudian, Biru datang sekonyong-konyong tanpa arah tujuan. Mendekat tapi kadang juga menjauh. Sulit mengutarakan mungkin bila ia telanjur saya anggap sebagai teman saja. Berusahalah menerima, begitu yang saya katakan dalam hati. Berusaha dan bisa. Menjalani sesuatu yang mungkin saja boleh itu disebut sebuah awal mula dari cinta. Sayangnya, entah dengan alasan yang sama sekali tidak membuat saya mudheng, Biru pun pergi. Berlalu seperti angin, seolah hanya mampir. Ya sudah, sekian dan terima kasih.
Sudahlah aku pergiβ¦
Sudahlah aku pergiβ¦
by Padi
Semua mendatar dan terus-menerus begitu.. nyaris mati rasa dan saya menikmati setiap detiknya selama hampir 2 tahun. Pandangan saya lurus, saya hanya ingin bersiap menjadi sebenar-benarnya perempuan yang bisa dicintai karena mudah mencintai sesama. I have been doing my best ketika seseorang yang saya panggil Captain Cartenz merapat dari jarak yang sangat jauh. Menemukan gadis yang bermukim di kaki gunung, bagaimana bisa? Nyatanya bisa! Nothing impossible.. entahlah bagaimana, tapi dengannya saya merasa nyaman dan dicintai. Teringat pada perkataan Desi, saya pun bersungguh-sungguh kepadanya. Hmm, baru kali ini saya merasakan bertemu orang yang nyaris sejiwa walaupun jaraknya teramat jauh untuk dijangkau. Ia datang kepada saya dengan caranya, dengan kesungguhannya, dan saya berharap bisa menjadi bagian dari hidupnya, mencintai dengan sederhana sembari berpasrah kepada-Nya. Semoga inilah yang terbaik. Aamiin ya Rabb..
Lalu, jawaban dari SMS yang di atas bagaimana?
Bagi saya pribadi, dari dua hal itu tidak ada yang lebih sakit daripada yang lain. Berani terlibat dalam hubungan cinta [dalam artian hubungan sempit laki-laki dan perempuan], berarti berani menanggung risiko sakit hati. Bukankah setiap hal memiliki risiko? KalauΒ kita sudah berniat untuk sepenuh hati, semestinya risiko itu kita jadikan tantangan untuk tetap tulus memberi yang terbaik dan menjaga hubungan agar tetap baik. Mengacu pada kasus mencintai bayangan. Saya pikir itu yang paling ngenes. Cinta adalah hubungan timbal balik. Mencintai tanpa dicintai itu bukan hubungan yang seimbang. Jadi hengkang dari lingkaran yang memusingkan itu adalah sebuah keputusan baik, sekali lagi ini dalam konteks kasus saya. Semua ada hikmahnya, sekalipun saya kesakitan..tapi bagi saya itu hal yang harus saya lalui. Cinta itu membebaskan, bukan membelenggu. Kalau memang perpisahan adalah jalan terbaik, kita tidak mungkin memaksakan kehendak karena tidak akan baik bagi kedua pihak.
-dicelotehkan di kaki Merapi, Sabtu, 3 Maret 2012-
gambar diambil dari sini
ihirrrrrr!!!! ;-p
uhuuuy.. sepertinya kau tahu, Jeng siapa yang kuceritakan, jadi malu π³
wah.. berawal dari SMS akhirnya menjadi postingan nan panjang begini..
jawaban yang bagus Phie π dan semoga kau dan captainmu memang berjodoh dunia akhirat.. Aamiin π
hehe, kadang saya suka begitu ‘Ne
idenya sih mungkin sedikit, tapi karena ada pengalaman.. jadi…. begitulah π
fiuhh,, dalem…
aduh bingung nih mbak mau comment apa,
terlalu banyak yang ingin kutuliskan
tapi nanti malah jadi postingan di kolom komentar
jadi, cukup sekian dan terima kasih saja π
*ingin membuat postingan semacam ini juga, tapi gak pede karena aku tau orang yang bakalan kuceritakan pasti membacanya π
eh eh eh.. sepertinya ada yang memiliki pengalaman serupa denganku
hmm, ini bukan soal ga pede, Puch. kalau tidak ada SMS itu sebenarnya lebih suka dak simpan dalam diary. tapi karena ini kupikir bisa dijadikan pembelajaran, I decided to share it.
semoga bermanfaat π
*ditunggu kisah “mirip”nya hihihi π
T.T…..
paham btul rasanya…..
semoga dipermudah….
Terima kasih sudah mampir, Surya.
Just okey, hampir tiap orang mengalaminya, tinggal minta sama IA agar diberi kuat & tegar saja, insyaAllah bisa menjalani semua. π
hiks… “sad but true” yah (Metallica).
cuman pingin ngomentari ini : βKita tidak akan menikah dengan orang yang kita cintai. Kita menikah dengan orang yang mencintai kita.β
gak setuju blas ah. why should? love is not just giving, it’s taking as well, in balance manner. π
tiru aja gimana caranya Katie Holmes bisa dapetin Tom Cruise…
hmm, ya begitulah liku hidup, Pak Riz.
bagaimana pun itu skenario Tuhan, kita sebagai makhluk-Nya tinggal menjalani.
pedih.. ya sudahlah, semua ada hikmah di sebaliknya & saya yakin itu
oya, soal quotation itu? silakan Bapak tanya yang bersangkutan deh, hehehe dia kadang suka menasihati saya, duluuu.. jaman kami masih awal-awal kuliah.
Huaduh, ini beraaaaat sungguh beraaaat! π
Saya gak mau mikir yang sulit2. Pokoknya nikmati aja proses dalam hidup ini. π Cinta itu indah, Jenderal!
huaadduuuh.. kalau berat jangan dipikul, Sop.. didorong saja pakai trolley

yup, hidup memang untuk dinikmati & diisi dengan sebaik-baik hal.
sakit, kecewa boleh, itu manusiawi.. tapi sekadarnya sajalah. buat apa kita menyimpan benci?
iya ta?
duh gustiiiii….meni kasep pisan ending nya
apapun itu lbh baik saling mencinta dan dicinta ya toh…sMg langgeng dg sang CAPTAIN π
Mimi.. hiks… π₯
Kisah hidup ini belum berakhir. Mohon doanya ya, Mi.
Semoga Rabb tunjukkan jalan terbaik bagi kami. Aamiin ya Rabb..
Bingung mo komen apa. Lha wong yang terjadi sama saya tu saling mencintai… π
turut berbahagia, Pak Alam.. π
saya selalu suka melihat pasangan yang rukun sampai kakek-nenek, jalan reruntungan begitu.
itulah cita-cita saya. berharap langgeng. aamiin
Mbak jatu … seru juga cerita cintanya….hehewww …. (pingin ketawa skaligus penasaran_red)…. apalgi yg jaman SD … hehe … kalau buatku, cinta itu tidak bisa dilihat, tapi bisa dirasakan …yang penting itu ‘saling’…ya saling mencintai dan dicintai, saling pengertian, saling memberi dan menerima, saling semuanya ….
ihihihihi.. jadi malu sama temen SD π³
OK, Mbak Erlita.. saya sepakat π
saya setuju dg mbk erlita,,,saling memberi dan menerima,,,saling belajar tentang banyak hal,,,,,,,,
sepakat, Mbak Fitri π
pada kenyataannya, toh manusia tidak ada yg sempurna. harus ada timbal balik, saling mengisi dan mengerti kekurangan masing-masing.
terima kasih tlah singgah di SPP π