Berkomunikasi itu ada seninya. Setidaknya begitulah yang saya rasa selama ini. Apa lagi kalau sudah berurusan dengan orang tua, dengan ibu dan bapak. Di zaman saya kecil saya anak yang manja. Apa-apa mau dituruti, kalau orang Jawa bilang sak dheg sak nyet, seketika itu pokoknya. Seiring dengan bertambahnya usia, pengalaman, dan kemampuan berpikir; ada yang berubah dalam diri gadis mungil ini. Ketika saya terbentur dengan banyak sekali hal, di situlah saya menemukan jalan untuk lebih bisa menempatkan diri. Dari yang awalnya keras kepala (untuk hampir setiap hal), perlahan berubah dan mau belajar menjadi lebih mau maklum dan mengerti, serta berempati kepada orang lain.
Mari sama-sama menengok ke belakang. Kadang saya geli mengingatnya, tetapi semoga ini bisa terus saya jadikan pengingat bahwa tiap manusia memiliki prosesnya masing-masing. Saya masih ingat kala duduk di bangku kelas satu SMU. Waktu itu ada pelajaran seni rupa di sekolah dan tiap anak diwajibkan membawa perlengkapan gambar terutama cat air. Materi minggu itu adalah pengenalan teknik pewarnaan mozaik dengan cat air. Karena saya ini bukan anak yang mandiri (waktu itu), saya meminta tolong bapak untuk membelikan cat air, kuas, dan paletnya.. Sayangnya, bapak melakukan kekeliruan kala itu, menurut saya, karena lupa pada janji beliau membelikan pesanan saya sepulang dari kantor. Lalu apa yang terjadi? Saya ngambek. Pergi ke kamar dan membanting pintu keras-keras lalu tidur menelungkup memeluk bantal atau guling. Setelah itu banjir lokal, bantal, guling, bahkan kasur basah. 🙂 Begitu cara saya menyampaikan protes kepada bapak. Saya tahu seperti apa watak bapak, jadi saya hampir tidak pernah berani mendebat beliau.., kecuali di suatu siang. Saya bertengkar dengan beliau karena masalah sepele. Beliau tidak mau mengalah memberikan sebungkus gathot (penganan yang terbuat dari singkong selain tiwul, red). Padahal beliau sudah makan, tinggal saya. Hm, apa yang terjadi? Mungkin maksud bapak hanya menggoda saya, tapi waktu itu saya benar-benar marah,
“Orang tua kok ndak mau ngalah sama anak?!” begitu pikir saya.
Langsung saya berlalu pergi ke kamar. Saya tidak tahu bapak mengekor hingga ke depan pintu kamar. Pintu saya banting sekerasnya sambil berteriak,
“Aku ga akan mati ga makan gathot sekali ini!!”
Beberapa waktu kemudian saya menyesal, menyesal karena telah berkata kasar; benar-benar menyesal karena kurang dari setahun kemudian beliau meninggalkan kami semua berpulang ke hadirat Allah SWT.
Penyesalan rupanya bisa membuat seseorang benar-benar terpukul, mundur selangkah, lalu berhenti sejenak untuk berbenah.. dan saya mengalami itu. Benturan-benturan yang kala itu menimpa, seolah membentuk saya menjadi pribadi yang lebih terkendali saat ini. Saya pun akhirnya mengerti, solusi kadang ada dalam diri sendiri, hanya saya mau menikmati prosesnya atau tidak.
Lalu, jika ada yang bertanya, “Pilih bertengkar atau diam?” Saya lebih suka tidak memihak dua-duanya. Bertengkar atau diam, semua ada konsekuensinya, ada waktunya. Bagaimana dengan berdebat? Berdebat? Saya bukan tipe orang yang suka berlama-lama terlibat perdebatan. Lebih sering malah menghindar, sembunyi di kamar mandi sambil cibar-cibur. Bukan apa-apa, itu artinya saya sedang asyik mengguyur muka. Tentu, bukan tanpa alasan. Saya hanya menangis. STOP biarkan saya sendiri, saya bisa mengendalikannya.. Terdengar menyedihkan, mungkin, tapi tidak selalu seperti itu.
Untuk hal-hal yang prinsip dan penting, saya cenderung bertahan. Sepanjang itu tidak keterlaluan, saya pikir tidak ada kelirunyan berdebat. Kalau sudah begini, saya perlu menggabungkan seni bicara dan mendengarkan. Ini terutama bila menghadapi ibu. Beradu argumen dengan beliau berarti beradu kesabaran. Yang sering adalah tentang kebiasaan zaman sekarang dengan kebiasaan zaman beliau muda dulu. Hm, tidak perlu diperdebatkan pun sebenarnya masing-masing tahu bahwa hidup di zaman sekolah dengan sabak, itu berbeda dengan eranya sekarang ini, saat anak-anak TK pun sudah akrab dengan sabak eker-eker (pinjam istilah Niar Ningrum, baca: iPad) 😆 Ya, tinggal bagaimana yang ingin berbicara mau saling mendengar dan menghargai.. sehingga tidak ada lagi dusta di antara kita. 😉 Yang jelas, mau mendengarkan dan meminta maaf itu hal yang penting dalam berkomunikasi dan menjaga hubungan baik. Tidak hanya terhadap kedua orang tua, tetapi juga orang-orang di sekitar kita. Salam damai. 🙂

ya mbak.. bertengkar atau diam pasti ada konsekuensinya. sebaiknya lihat kondisi dulu apakah harus berdebat atau justru lebih baik diam..
benar, pilih yang terbaik supaya tidak malah merusak keadaan 🙂
salam kenal, Mbak Raffika
salam kenal mbak , nie ade ge pngn bljar ngblog , ade memilih diam cz ade suka mengungkapkan perasaan melalui bhasa tulis 🙂
salam kenal kembali, Ade 🙂
pilih diam? bagus, diam di saat yang tepat. bertengkar/berdebat juga tidak apa, sesekali 😛
Mbak Phie , moga ttap trjalin ya , maafin ade , ru blajar ngblog nie soalnya hehe 🙂 , Ya mbak cz Diam tu emas jd kbnyakan diam xixixi
Ndak apa, Ade 🙂
Diam itu emas, benar.. dengan catatan: tepat waktunya 🙂
liat situasi dan kondisi dulu sist, baru memutuskan untuk pilih bertengkar atau diam
benar, Sist.. siip 🙂
ya mbak Phie , sesuai kedaan ygtlah tjd diam nya ade mbak hehe
Oh, ok kalau begitu 😉
Sepakat deh. Kuncinya: mau mendengarkan dan minta maaf 🙂
Makasih ya. DItunggu pengumumannya 🙂
Yah, pada akhirnya dua hal itu yang saya digunakan sebagai pelanggeng hubungan 🙂
Sami-sami, El. Siiaap, setia menanti pengumuman 🙂
Ada award nih sekaligus pengumuman Elfrize. Cek, ya, kawan-kawan 🙂
http://elfarizi.wordpress.com/2012/10/30/akhirnya-ini-dia-pemenangnya/
Sudah dipajang, El di Bingkisan Sahabat 🙂
Terima kasih banyak ya 😀