deSista – PRAS

Liburan lebaran kemarin rasanya makin lengkap ketika bisa kembali bersamanya, walau hanya hitungan jam. Tidak terbayangkan bisa bertemu kembali setelah setelah hampir satu tahun berpisah dengannya. Dia? Sista, demikian kami biasa saling sapa. Siapa sangka persahabatan yang bermula sedari bangku sekolah menengah umum berlanjut hingga detik ini. Itu berarti telah 13 tahun kami menjalaninya, sama sekali tidak terasa.

Betapa bahagia oh…
Diriku bersamamu
Mutiara dunia
Dalam kasih dan harapan

Sepertinya kami baru saja bertemu, berkenalan di muka gerbang SMUN 9 Yogyakarta karena mengagumi rambut lurus nan panjangnya, lalu bersepakat menjadi teman sebangku. Rasanya baru kemarin menjalani masa orientasi sekolah dan secara tidak sengaja menjadi tim penyanyi keliling karena lupa tidak mengerjakan tugas dari kakak kelas. Rasanya baru kemarin kami sama-sama berkisah tentang keluarga masing-masing. Sista Rini (@diangrini) adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kehidupan kami sederhana, mungkin itulah yang membuat kami klik, nyambung ngobrol banyak hal.

Dua tahun kebersamaan kami di kelas yang sama kian berwarna bersama dua orang karib kami, Karni dan Ami. Berempat kami jalan bersama, sekadar bersahabat saja, bukan nge-geng seperti yang dijulukkan teman-teman kepada kami, Geng PRAS. PRAS? Palupi-Rini-Aminah-Sukarni. Itu kata mereka. Bagi saya persahabatan kami jauh lebih berharga ketimbang geng manapun. Mungkin bagi kebanyakan orang itu hal sederhana, tetapi bagi kami sungguh bermakna.

Dari mulai berbagi hal-hal sederhana seperti makan bakso sama-sama di sebelah Kopma UGM dan menikmatinya sambil ngobrol tentang Sheila On 7,  band yang kala itu tengah naik daun. Berkisah tentang berapa kali kami bermimpi tentang mas-mas yang dua di antaranya kuliah di UGM, juga berapa banyak foto, poster, bahkan kliping yang dibuat demi melampiaskan kekaguman. Ah, menyenangkan sungguh memiliki sahabat seperti mereka.

Meski pada tahun terakhir SMU kami harus terpisah oleh minat, mereka IPS dan saya satu-satunya dari PRAS yang memilih ke IPA, itu bukan penghalang berarti. Hingga akhirnya kami lulus dan melanjutkan ke empat jurusan berbeda tanpa harus kehilangan kontak satu sama lain, itu juga sebuah kebahagiaan tersendiri.. pada awalnya.

Di pertengahan jalan kami terpaksa “melepas” Ami. Ia memilih lingkungan pergaulannya sendiri bersama orang-orang bercadar. Andai boleh mengajukan protes padanya… Sedih, tak perlu ditanya lagi. Tanpa Ami kami takkan menjadi PRAS, hanya sederet huruf yang dieja Pe-eR-eS, apa bagusnya? Hm, tapi ya sudah. Tiap orang berhak memilih apapun yang jadi keyakinannya.

Alhasil, kami pun jalan bertiga. Meski tidak selalu bisa bertemu sebulan sekali, saat puasa Ramadhan kami berusaha untuk berkumpul sekadar berbuka bersama dan berbagi banyak hal lain. Hm, salah satunya untuk sedikit melupakan kalimat yang sering mereka tanyakan kepada kami,

“Kapan nikahnya, Mbak?”

Di antara PRAS, baru Ami yang (kami dengar) telah berkeluarga. Alhamdulillah, walau tanpa ada seorang pun dari kami bertiga yang datang (karena memang tidak diundang), tetap saja kami berbahagia mendengar kabar itu.

Waktu berlalu, banyak peristiwa datang dan pergi menguji. Setahun terakhir ini banyak yang berubah. Ramadhan tanpa berbuka bersama; lalu masing-masing sibuk dengan urusannya. Mulai dari Sista Rini yang memutuskan pergi dari Jogja untuk mengadu nasib ke Banjarmasin. Semua bermula dari kehilangan ibundanya juga sebuah masalah internal. Ah, ya kadang menghindar itu cara yang baik, tapi cukup untuk sementara saja. Aku berharap di tempat yang baru Sista menemukan harapan baru untuk yang kemarin telah pergi. Karni pindah bekerja di Klaten, tidak lagi mengajar Bahasa Indonesia di MAN III Yogya. Entah, tapi memang bertahan hidup hanya dengan mengandalkan honor mengajar sementara kebutuhan meningkat.. itu juga bukan pilihan mudah. Ah, lagi-lagi saya harus berpikir positif dan memang harus berusaha begitu. Toh, seberapa jauh pun mereka hendak pergi.. deSista tetap ada di sini, di dalam hati seorang Phie.

Berbagi semua kisah
Canda tawa serta ceria
Air mata dalam duka
Kita masih bersama

Rajut mimpi-mimpi indah
Menghias dunia kita
Berjanji di dalam cita
Sahabat yang setia

(Sahabat Setia – Andien)

0 thoughts on “deSista – PRAS

  1. suka..hiks3..semoga persahabatan n persaudaraan kita ini kekal abadi ya sist…sumpah, salut aku dengan setiap moment kita dulu yang bahkan sudah hampir kulupakan…

    1. saya juga suka, Sista.. dan tentu kangen dengan tiap detailnya 🙂
      aamiin ya Rabb.. semoga kita menjadi saudara & sahabat dunia-akhirat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *