Untuk Bapak & Sebuah Impian

Kalau ditanya kapan merasa menjadi hero, saya akan menjawab setiap saat. Bagi saya pribadi, tiap detail moment kehidupan adalah ajang untuk berlatih menjadi hero; setidaknya belajar menjadi sesosok manusia yang lebih life ready utamanya untuk diri sendiri. Meski ada kalanya saya merasa down karena satu dan lain hal, tapi saya yakin Gusti Allah tak pernah bermaksud menjerumuskan hamba-Nya ke jurang keterpurukan.

Bercermin dari pengalaman masa lalu, ada sebuah moment berharga yang tak pernah sedikitpun saya lupakan. Saat melangkah hendak mewujudkan sebuah impian. Susah susah gampang untuk meraih semua itu. Perjalanan berkelok benar-benar saya rasakan setelah kepergian bapak untuk selamanya tahun 2000. Kala itu saya duduk di bangku SMU kelas 1. Bayangan akan pesan beliau agar saya melanjutkan kuliah selalu berkelebat. Padahal beliau menyampaikan pesan itu sudah jauh-jauh hari sebelumnya. Saya ingat, waktu itu saya masih duduk di bangku kelas lima sekolah dasar.

“Bapak pengen mbak Jatu besok bisa kuliah di sini..”

Kalimat pendek itu bergulir begitu saja ketika bapak menjemput saya dari rumah kerabat. Kami melewati gedung rektorat UGM sore itu. Apa bisa ya? Mulai saat itu saya berjanji untuk berusaha sebaik mungkin sembari memupuk harapan.

Sekian tahun kemudian, ketika beliau benar-benar pergi, saya terpuruk; seolah kehilangan amunisi dan semangat belajar. Tentu saja, bapak adalah motivator ulung bagi kami anak-anaknya. Selalu punya cara mendorong saya dan adik-adik untuk terus berjuang menjadi juara. Lalu, kalau sumber nafkah utama keluarga kami hilang dan beliau tak diberikan tunjangan apapun dari kantor.. ah, ini tentu bukan kemauan kami. Mungkin sudah nasib, bila telah diperjuangkan tetapi tetap tak mendapat perhatian lebih. Saya bisa saja memberontak, tapi tanpa mengerti sebab musabab suatu hal, berontakan anak usia sekolah menengah umum kelas satu boleh jadi hanya akan berujung pada masalah lain. Maka, ibu yang mengurus semua. Beliau pikir kewajiban kami anak-anak adalah belajar, sementara urusan orang tua adalah berikhtiar, termasuk berhadapan dengan personalia kantor tempat bapak bekerja. Beliau berusaha, tetapi.. direksi menggelengkan kepala, tidak ada tunjangan pendidikan bagi anak-anak Herdjito Hadiwardoyo sekalipun beliau meninggal sebelum waktu pensiun tiba.  Sekalipun beliau pernah diberikan penghargaan 25 tahun mengabdi?

Ya sudahlah.. begitu kata ibu ketika mengetahui beliau kalah telak. Namun, satu hal yang selalu saya ingat adalah kalimat ini,

“Gusti Allah iku ora nate sare kok.., Mbak. Ben sing menehi piwales sing Maha Kuwasa..”

(Gusti Allah itu tidak pernah tidur kok.., Mbak. Biar yang memberi balasan Yang Maha Kuasa..)

Kalimat sederhana itu menggelitik nurani saya sebagai anak sulung. Saya mengerti tanggung jawab ibu sangat berat sepeninggal bapak. Kalau saya nantinya tidak pernah bisa mewujudkan impian bapak, lalu bagaimana dengan janji saya itu? Janji yang kelak tentunya akan saya pertanggungjawabkan di hadapan Gusti Allah. Bagaimana? Sepanjang tahun pelajaran di sekolah menengah, dalam hati selalu terbersit keinginan agar saya bisa bekerja sambilan untuk membantu ibu. Di sisi lain, saya sudah tidak bisa berkutik ketika pulang sekolah dan hari sudah beranjak petang. Ya, beberapa ekstrakurikuler yang saya ikuti memang menyita waktu. Harus bagaimana? Saya memutar otak. Satu-satunya cara adalah dengan lebih rajin belajar. Mengejar posisi saya yang telanjur anjlok di kelas dua. Padahal di kelas satu saya bisa masuk tiga besar. Ah, bapak.. saya baru mengerti mengapa Sheila On 7 bernyanyi,

♫ Kau takkan pernah tahu apa yang kau miliki hingga nanti kau kehilangan.. ♫

Menyesali kepergian bapak saja tidak cukup. Saya sadar, saya tidak boleh menyerah. Namun, sungguh tak dapat dipungkiri, kehilangan motivator seperti beliau, bukan barang bagus untuk anak seusia saya, yang bisa saja kabur dari rumah dan melakukan banyak hal tak penting di luar sana. Hanya, sesuatu menghalangi saya melakukan itu. Tepat di masa liburan kenaikan kelas (belum ada 40 hari meninggalnya bapak), saya dikabari pihak sekolah bahwa pengajuan beasiswa Supersemar saat saya kelas satu sudah bisa diambil. Alhamdulillah, Gusti Allah memang tidak pernah sare. Setidaknya beban ibu bisa sedikit terkurangi. Sungguh saya sangat bersyukur kala itu. Betapa tidak, pertolongan ini tiba begitu tepat waktu.

Di kelas dua itu pula, saya mulai dipercaya untuk membawa motor bapak (kini saya panggil dia Ezy, red.). Ya, saya mengerti. Ibu akan sangat kerepotan membayar ongkos transport pergi-pulang mengingat jauhnya jarak rumah-sekolah. Sekali perjalanan waktu itu seingat saya Rp1.000,00 hingga Rp1.500,00. Maksimal sehari PP Rp3000,00. Belum lagi nanti bila saya ada kegiatan ekstrakurikuler, uang saku Rp1000,00 bisa beli apa? Paling-paling soto tanpa minum di kantin mbak Mariyah. Setidaknya sehari ibu harus mempunyai Rp5000,00 untuk saya sendiri. Lhaa, adik-adik saya? Mereka kan juga sekolah, butuh biaya. Sementara ibu tak punya kesibukan lain kecuali mengurus kebun dan beberapa kamar kost milik saudara. Kalau bisa menghemat biaya, mengapa tidak? Rp5000,00 untuk membeli bensin si Ezy itu cukup untuk mondar-mandir rumah-sekolah selama seminggu. Saya terima tantangan ibu. Mulai detik itu tidak ada lagi rajukan yang dulunya sering saya lontarkan kepada bapak. Semua pahit ini ditanggung bersama, jadi kalau memang tak penting, saya jarang menyampaikan keluhan kepada ibu. Seperti juga keinginan saya untuk tidak lagi menangis di depan ibu, padahal sejak saat itu saya berubah; jauh lebih cengeng dari sebelumnya, tapi saya pendam sendiri. Tidak ingin membuat ibu lebih terbebani.

Hari-hari berlalu bersama kerasnya upaya. Di tahun ketiga saya berhasil masuk penjurusan IPA. Kelas IPA 2 yang sarat kenangan. Ketika saya mulai sok-sok’an lihai mengendara dan beberapa kali tersungkur di jalanan. Mungkin jiwa pemberontak saya mulai menemukan jalurnya. Beberapa kali saya membuat ibu geleng kepala. Tidak, saya bukan anak nakal. Saya hanya sedikit keras kepala. Apalagi ketika berdebat soal membagi rumah dan mengizinkan sebuah keluarga dari Balikpapan untuk menyewa separuh dari rumah kami yang lumayan luas. Demi tambahan biaya untuk kami anak-anaknya, saya pun mengalahkan kerasnya keinginan mempertahankan kamar hadiah kelulusan sekolah menengah pertama dari alm. bapak. Saya harus menyingkir pergi dari kamar mungil nan nyaman, kamar yang berhasil menyembunyikan isak tangis saya dari pendengaran ibu sejauh itu.

Ah, kadang saya benci harus mewek seperti itu. Sudahlah, saya pasti bisa menaklukkan sifat perasa ini dan lulus dari SMU 9 Yogyakarta, lalu mewujudkan impian bapak.

***

Agustus 2002

Saya lulus SPMB di pilihan kedua (HPT UGM), tetapi yang membuat niat saya surut adalah mahalnya biaya registrasi. Bagaimana tidak, mulai tahun itu diberlakukan aturan dan kurikulum baru. Mulai angkatan 2002 diberlakukan biaya tambahan selain SPP dan Askes, berupa biaya operasional  pendidikan (BOP), nominalnya Rp750.000,00 untuk jurusan eksak dan Rp500.000,00 untuk non-eksak. Padahal angkatan sebelum 2002 hanya dikenai SPP dan Askes, totalnya sekitar Rp500.000,00 sekian. Meningkat tajamnya total biaya per tahun ajaran 2002/2003 itu membuat calon mahasiswa kelabakan, termasuk saya. Ibu dapat uang sekian dari mana?

Bingung.. Saya ngendhon saja di rumah hingga beberapa hari. Tidak sedikitpun merespons mereka yang memberi selamat, kecuali dengan segurat senyum tipis.. Saya tahu kapasitas ibu. Mungkin, ya mungkin saya memang harus mengikhlaskan saja impian bapak , membiarkannya menguap pergi, dan melupakannya perlahan. Maafkan Jatu, Pak.. Ah, lagi-lagi saya benci harus mewek dan bersembunyi di dalam kamar mandi hanya agar beban ibu tak jauh lebih menggelayut. Sayangnya, saya tak berhasil menyembunyikan gusar dalam diam.

“Mbak Jatu ndak ngurus registrasi?” tanya beliau.

Saya menggeleng pelan.

Pagi itu hari terakhir heregistrasi mahasiswa baru tahun 2002. Saya tahu lokasinya, Jl. Kinanthi, Barek.. tapi, apa pantas saya meminta uang sebesar itu pada ibu?

“Kan masih bisa daftar lagi tahun depan, Bu..” jawab saya beralasan.

“Memangnya kita bisa pastikan tahun depan Mbak Jatu lolos saringan? Belum tentu ta? Pergi sana.. Ibu udah nggadaikan kalung. Ini buat bayar.. cukup ta? ”

Ah, ibu.. Muka saya mendadak panas. Saya mengangguk lalu bergegas pergi. Saya tak pernah segembira itu. Lega rasanya ketika sebuah jalan dibukakan. Pengorbanan beliau, ah.. sungguh tak sebanding dengan apa yang telah saya lakukan. Maka, selama perjalanan masa kuliah, saya tak duduk diam. Bersyukur sekali di tahun kedua ada dua lembaga bimbingan belajar yang merekrut saya sebagai tutor privat. Jatah ibu membayar biaya semesteran saja, tidak lebih. Itu janji saya.

Untuk menutup biaya harian, fotocopy, uang saku, uang bensin, hingga biaya penelitian saya peroleh dari beasiswa. Yayasan Indonesia Belajar Mandiri (Ijari), Keluarga Muslim Fakultas Pertanian, Bank Rakyat Indonesia.. ketiga sumber dana ini pernah membantu saya menguatkan langkah dalam rangka menuntut ilmu di Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian UGM. Alhamdulillah, pada akhirnya.. 20 November 2007, saya resmi dinyatakan lulus sarjana. Sungguh, ini berkat pertolongan Gusti Allah lewat bantuan orang-orang yang mau peduli pada saya, terutama ibu. Terima kasih semua.. Semoga Allah SWT memudahkan segala urusan dunia-akhirat mereka yang telah membantu saya mewujudkan impian bapak. Aamiin ya Rabb..

untuk bapak dan sebuah impian
Untuk Bapak & Sebuah Impian

-kaki Merapi, 12 Oktober 2012-

*Tulisan ini diikutsertakan pada Lovely Little Garden’s First Give Away

0 thoughts on “Untuk Bapak & Sebuah Impian

  1. tahun-tahun itu saya sedang menjadi pengangguran setelah lulus SMA dan tidak tahu harus berbuat apa.. akhirnya jadi kuli… mantap bener mbak jatu… baru tahu aku panggilannga mbak jatu

    1. yah, beginilah… setiap orang pasti menemui moment “terpuruk” atau “down”, Mas Huda. tinggal bagaimana kita mau menyikapinya. sembari berdoa, semoga Gusti Allah paring jalan keluar terbaik. 🙂

      hm, soal nama panggilan “Jatu” itu hanya saat saya di rumah. panggilan saya sebenarnya ada beberapa, lebih suka menjadi Phie saja di dunia maya :mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *