Berbahasa ibu, bagi saya adalah bagian kehidupan yang paling berkesan. Beberapa waktu lalu, tepatnya 21 Februari, ketika saya baru mengerti di hari itu adalah hari bahasa ibu internasional.. saya berkicau dalam bahasa ibu, menyampaikan rasa bahagia dan bangga saya menjadi bagian dari orang Jawa sekaligus bangsa Indonesia.
Mau tahu apa artinya?
Saya orang Jawa dan selalu bangga menjadi orang Indonesia *Peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional*
Bukan hanya lewat tulisan kebanggaan bisa diungkapkan. Satu di antara sekian banyak hal yang membuat saya bangga menjadi orang Jawa adalah berkesempatan terpilih menjadi salah satu penari dalam lakon wiracarita, โHarya Penangsang Gugurโ. Wiracarita ini baru satu-satunya pentas kolosal tari yang pernah saya ikuti. Lakon ini dipentaskan di lapangan Denggung, Sleman. Kalau saya tidak keliru ingat kami pentas dalam rangka HUT Kabupaten Sleman.
Kala itu tahun 1995/1996-an, saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Oleh sang sutradara, pak Samijo (yang rupanya teman simbah kakung di perkumpulan macapat), saya di-dhapuk sebagai salah satu wadya bala (bala tentara) Harya Penangsang. Yang dipentaskan kala itu adalah sekuel memuncaknya perseteruan antara Prabu Harya Penangsang dengan pihak yang ingin menggulingkannya hingga akhirnya sang Prabu gugur. Yang unik, semua tokohnya laki-laki, tetapi dilakonkan oleh penari perempuan. Jadi? Ya, kami semua saat itu menjelma menjadi prajurit berkumis nan gagah.
Sayangnya, saya tidak ada dokumentasinya ๐ฅ
***
Malam pementasan pun tiba. Bermula dari babak pertama, seorang pekathik (juru rawat kuda) abdi dari Harya Penangsang sedang asyik merumput sembari nembang.
Yo, ayo lunga ngarit.. 2x
(Yo, ayo pergi merumput.. 2x)
Kanggo makani jaran, jarane Ndara Tuan 2x
(Untuk memberi makan kuda, kudanya Bendara Tuan)
Ketika ia sedang asyik, datanglah dua orang yang mengaku utusan Sultan Hadiwijaya, Sultan Pajang. Si pekathik di-perung (diiris) salah satu daun telinganya dan digantungi sebuah surat tantangan di daun telinga yang lain. Si pekathik yang tak tahu urusan perseteruan itu pun menangis menahan sakit dan lari pulang ke Kerajaan Jipang, mengadu kepada tuannya, Prabu Harya Penangsang.
***
Babak kedua dimulai ketika saya dan ketiga teman masuk melakukan penghormatan kepada Gusti Prabu Harya Penangsang. Kala itu kami menari sembari nembang,
Niyat ingsun sowan hangabekti.. 2x
(Niat saya datang untuk mengabdi) 2x
Yo, ayo.. gatekna dhawuhing gusti.. 2x
(Yo, ayo.. perhatikan perintah tuan) 2x
Usai salam penghormatan kami diterima, percakapan antara Prabu Harya Penangsang dengan Patih Metahun pun bergulir. Semua percakapan dilagukan, ya kami menari sembari nembang. Bolehlah dikatakan semacam operet versi Jawa.
Di tengah pembicaraan serius tentang rencana menggelar pesta tayuban setelah sebelumnya Prabu Harya Penangsang melalui prosesi tapa pendhem (bertapa sambil dipendam dalam tanah) karena ia kehilangan kesaktian akibat menduduki dhampar (kursi kehormatan) yang sebenarnya ditujukan untuk menjebak Sultan Hadiwijaya, si pekathik yang menangis kesakitan pun menghadap. Dengan terbata, ia menyampaikan hal yang baru saja ia alami lalu mengangsurkan sebuah surat.
Hei, Penangsang! Yen nyata sira wong lanang, majua ingsun enteni.
(Hei, Penangsang! Jika kau pria sejati, majulah aku tunggu)
Ning Bengawan tanding perang lawan ing wang..
(Di Bengawan berperang dengan orang-orangku..)
Begitulah bunyi surat tantangan perang itu. Surat itu sontak membuat sang Prabu marah besar. Lalu katanya,
Nora patut, Sultan Pajang kumalungkung!
(Tidak patut, Sultan Pajang berlebihan!)
Ngendelke digdaya.. wani nantang awak mami
(Mengandalkan kedigdayaan.. berani menantangku)
Lah den enggal, prenekna si Gagak Rimang!
(Segeralah, kemarikan si Gagak Rimang!)
***
Babak ketiga menggambarkan persiapan perang di pihak Sutawijaya. Rupanya utusan yang mengaku-aku dari pihak Sultan Hadiwijaya adalah pihak Ki Ageng Pemanahan dan anaknya, Sutawijaya. Mereka tergiur oleh iming-iming hadiah tanah yang akan diberikan Sultan Hadiwijaya kepada siapa saja yang bisa membunuh Prabu Harya Penangsang. Konon, kisah inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya kerajaan Mataram Islam.
Di tengah persiapan โpengeroyokanโ, percakapan antara Ki Ageng Pemanahan dan Sutawijaya pun bergulir,
Ki Ageng Pemanahan: Sutawijaya, Nak ingsun. (Sutawijaya, anakku..)
Sutawijaya: E nuwun, Pukulun. Kula sampun samekta sadayanipun anengga Penangsang tekane. (Ya, Paduka. Kami sudah siap sedia menanti kedatangan Penangsang)
***
Babak keempat sekaligus klimaks dari wiracarita ini menggambarkan perang antara kedua pihak. Kala itu Prabu Harya Penangsang bersama pasukannya yang terjebak tipu muslihat Sutawijaya, bergegas menuju tepi Bengawan Solo. Menunggangi Gagak Rimang, kuda kesayangannya, ia yang sedang marah kian marah ketika pasukan Sutawijaya mengolok-olok dengan bersorak-sorai,
Arya Jipang nunggang jaran, Gagak Rimang
(Arya Jipang naik kuda, Gagak Rimang)
Dak surak a surak hore!
(Sorak sorak hore!)
Perwatakan Harya Penangsang yang mudah tersulut amarah membuat peperangan berlangsung sengit. Saya sebagai bagian dari pasukanย bersenjatakan pedang pun melakukan perang tanding dengan seorang teman bernama Sulis, teman saya di sanggar Pareanom. Badan kami sama-sama kecil, kalau kejadian benar saya tidak akan kalah melawan Sulis. #eh ๐ Sayangnya, dalam kisah tersebut pihak Harya Penangsang kalah. Selain karena pihak Sutawijaya melengkapi pasukannya dengan tombak, perang ini diakhiri dengan terbunuhnya sang Prabu oleh karena tebasan tombak Sutawijaya di bagian perutnya. Ia pun jatuh dari kuda dengan kondisi usus terburai.
Haduh.. Haduh.. Kedrawasan.. ย Kaya pedhot lambung mami..
(Aduh.. Aduh.. Celaka.. Seperti putus perutku..)
Duhai, sedihnya kisah ini. Gugurlah sang Prabu malam itu di tengah sorak sorai penonton yang menyesaki lapangan Denggung. Usailah sudah pentas kolosal kami malam itu. Sukses! Entah, kapan lagi bisa berkolaborasi dengan teman di beberapa sanggar. Kalau bukan karena ide pak Samijo, mungkin saya tidak akan bertemu dengan mbak Keshi (pemeran Harya Penangsang), Warih (pemeran Sutawijaya), juga teman-teman di Turgo Gede, Pakem.
Sekali lagi, bagi saya pribadi, mencintai bahasa ibu bisa diwujudkan dengan banyak sekali hal, salah satunya ya yang sudah saya ceritakan di atas. Tentu saja, bahasa Jawa itu banyak ragamnya. Untuk keperluan pemakaian sehari-hari tentu berbeda dengan bahasa pementasan. Di sinilah saya belajar mengerti lebih banyak. Bagaimana bisa mencintai bila tak mau berusaha mengenal lebih dekat, bukankah begitu? ๐
“Postingan ini diikutsertakan di Aku Cinta Bahasa Daerah Giveaway“


Mbak Phie… PR nya udah aku buat ya…
http://niken-bundalahfy.blogspot.com/2013/03/very-inspiring-blog-award.html
Semoga berjaya di GA Niar…
Terima kasih, Bunda ๐
Sukses juga untuk Bunda Niken ๐
keren banget deh mbak, walaupun ikutan pas perang2an sama mbak sulis tetep keren yaa mbak bisa ikutan ๐
Matur suwun sampun nderek, dicatet PESERTA ๐
hehehehe.. bisa sukses dan bagus juga karena latihan rutin, Niar. ๐
sami-sami, senang bisa berpartisipasi, Be
wah, mb Phie ini multitalented ya… nari juga bisa rupanya
multitalenta, Puch? hahaha bisaaa saja ๐ณ
ayooo lawan aku mbak, hihi… dari kecil aku gak pernah main peran wayang… ๐
ayooo, sini kalau beraniiii!
*Petualangan Sherina mode on*
๐
belum pernah nyoba, Ri? terus kapan mau nyobain? ๐
tau bahasa kalbu gak sist, ajarin donk ๐
bahasa kalbu? hm, gimana ya? eh, coba tanya sama Titi DJ aja yaa ๐