Jika kita bicara tentang kebutuhan primer manusia, setidaknya ingatan kita akan tertuju kepada tiga hal utama: pangan, sandang, dan papan. Tidak dapat dipungkiri, dengan meningkatnya populasi manusia di bumi, kebutuhan pokok pun meningkat demikian pesat. Selama ini isu krisis pangan seolah mendominasi pokok pembicaraan, padahal kebutuhan akan papan pun menemui kendala yang hampir serupa. Permasalahan utama penyediaan papan adalah melonjaknya populasi manusia, sementara ketersediaan ruang untuk permukiman terbatas. Hal ini terjadi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
Lalu, bagaimana pemerintah kita menyikapi hal ini?
Saya pikir, pemerintah kita tidak begitu saja tinggal diam. Sekalipun ada sentimen yang terlontar sana-sini terkait dengan kinerja pemerintah, saya secara pribadi memiliki pendapat lain. Bagaimanapun saya masih percaya bahwa ada pihak-pihak yang mau peduli dan selalu berpikir bagaimana cara mengusahakan yang terbaik bagi rakyat Indonesia. Masih ada putra-putri bangsa yang mendedikasikan diri untuk melakukan riset berkelanjutan terkait dengan masalah ini.
Keterbatasan lahan yang tersedia untuk permukiman membuka peluang melakukan inovasi. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan ruang vertikal sebagai tempat hunian massal; atau yang lebih kita kenal dengan istilah rumah susun (rusun). Tentu saja, konsep penyediaan hunian massal ini telah melalui beberapa tahap pengkajian. Rusun tidak bisa dibangun asal jadi mengingat aspek keamanan dan kenyamanan para penghuninya, serta dampak terhadap lingkungan sekitarnya kelak. Hal inilah yang mendorong Ir. Sutadji Yuwasdiki, Dipl.E.Eng—seorang peneliti di Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman (Puskim), Balitbang Kementerian Pekerjaan Umum—melakukan riset. Dari hasil riset inilah, lahir teknologi konstruksi bangunan yang diberi nama sistem struktur C-Plus.
Apa itu sistem struktur C-Plus? Yaitu sistem konstruksi bangunan bertingkat dengan kolom berbentuk Plus (+), sambungan balok kolomnya menggunakan sambungan khusus/ spesifik yang merupakan sambungan mekanis berupa pelat baja dengan mur dan baut, dicor insitu dengan semen tidak susut.

Menurut hasil pengujian di Laboratorium Balai Struktur dan Konstruksi Bangunan Puskim Kementerian PU pada tahun 2002, sistem C-Plus andal diaplikasikan untuk bangunan gedung bertingkat sesuai SNI 03-1726-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Bangunan Gedung. Namun demikian, ada baiknya kita mengetahui beberapa keunggulan dan kelemahan sistem ini.
Keunggulan sistem C-Plus antara lain terdapat pada tingkat keandalan strukturnya yang cukup baik dengan sambungan struktur maupun kolom yang relatif stabil. Nilai efisiensi pelaksanaan kontruksinya termasuk tinggi, dilihat dari waktu pelaksanaan, biaya, dan keramahan lingkungan. Bentuknya simetris sehingga kapasitas kolom dari kedua arah seimbang. Selain itu, sistem ini memakai volume beton lebih sedikit, efisien ruang, dan terjamin kualitasnya. Sayangnya, kelemahan sistem C-Plus terdapat pada persiapan yang harus dilakukan cukup rumit karena keseluruhan panjang, jumlah tulangan yang akan digunakan sesuai tipe kolom dan balok harus dibuat alurnya terlebih dahulu.
Keunggulan yang jauh lebih banyak dibanding kelemahan tersebut mendorong tindak lanjut pengaplikasian sistem konstruksi C-Plus. Pada tahun 2006, sistem ini telah berhasil diaplikasikan pada pembangunan rusun sederhana sewa (rusunawa) percontohan di daerah Cigugur Tengah, Kota Cimahi, Jawa Barat. Selain rusun, sistem ini dapat diaplikasikan pula untuk konstruksi rumah sakit, kantor, dan bangunan bertingkat lainnya.

Terlepas dari permasalahan permukiman yang sedang dan akan kita hadapi esok, inilah salah satu bukti bahwa Indonesia masih memiliki harapan masa depan cerah. Dengan adanya pengembangan teknologi dan riset berkelanjutan, baik dari Balitbang Kementerian PU maupun elemen lain, kita tentu masih bisa terus memajukan Indonesia lebih baik lagi ke depan. Semoga.
Sumber referensi:
http://litbang.pu.go.id/c-plus-sistem-struktur-pracetak.balitbang.pu.go.id
http://litbang.pu.go.id/rusuna-rumah-susun-sederhana-cigugur-cimahi.balitbang.pu.go.id
setau saya C+ itu bahasa pemrograman komputer 😀 (gak nyambung)
aku juga taunya C+ bahasa pemrograman 🙂 tapi setelah baca postingan ini jadi tahu c plus pada rumah susun
bangunannya keliatannya bakal lebih kuat ya…
bisa bayangin sih jika plus2 itu disambungin …semoga terbukti tangguh
Solusi untuk pembangunan gedung berorientasi vertikal.
Temuan tepat untuk atasi masalah pemukiman di daerah urban … Pastinya perlu juga ditambahkan pengelolaan lingungannya pasca pengembangan, agar saat menempatinya, penghuni jg ada kesadaran untuk menjaga kebersihan lingk …
iya mba, masih ada harapan untuk indonesia