Project Jernih? Apa itu? Sebelum memulai perkenalan, ada baiknya kita simak dulu video berikut ini.
Apa yang bisa Sahabat tangkap dari video di atas? Ngeri? Sadis? Pertama kali saya menontonnya, iya … kesan itu begitu lekat dan membuat saya bergidik dibuatnya. Tega nian si ibu melakukan itu. Namun, sebenarnya itu hanya digunakan sebagai pembanding terhadap apa yang dilakukan oleh si ayah. Inilah fenomena di sekitar kita yang sekian lama dianggap sangat biasa. Kebiasaan buruk yang semestinya tidak ditularkan kepada anak-anak, merokok!
Kalau saya lemparkan sebuah pertanyaan,
“Sadarkah kita sebagai orang yang lebih dewasa bahwa anak-anak tidak memiliki posisi tawar?”
kira-kira apa yang ada di benak Sahabat sekalian?
Pertanyaan itu bukan saja untuk dijawab, tetapi juga direnungkan baik-baik. Seberapa tinggikah kesadaran manusia dewasa di Indonesia ini? Hmm … saya sendiri masih sering mengamati fakta di luar sana terkait dengan rendahnya kesadaran akan bahaya merokok di sekitar anak-anak. Misalnya, ini dia saya candid beberapa waktu lalu saat menghadiri resepsi pernikahan saudara.

Pada foto di atas terlihat si ayah asyik merokok, sementara gadis kecilnya duduk santai. Si kecil ini tak memprotes yang dilakukan oleh si ayah. Menolak didekati pun tidak. Ia tetap saja asyik makan sambil bermain; tetap menghirup udara yang telah tercemar oleh asap rokok si ayah. Ini yang saya maksud dengan ‘tidak memiliki posisi tawar’.
Hal semacam inilah yang disorot oleh Project Jernih, sebuah proyek untuk masa depan anak-anak Indonesia. Project Jernih membidik tema bahaya asap rokok bagi anak-anak. Bukan asal saja gerakan ini dibentuk, Project Jernih memiliki visi dan misi ke depan yang cukup jelas, antara lain:
- Membangun kesadaran orang dewasa agar tidak merokok di sekitar anak-anak sebagai bentuk teladan hidup sehat.
- Mengkampanyekan bahwa anak-anak berhak menghirup udara jernih seperti halnya orang dewasa.
- Mengedukasi masyarakat agar lebih peduli dan berani melayangkan teguran terhadap orang yang merokok di dekat anak-anak, tidak terkecuali laki-laki ataupun perempuan.
Lepas dari ada atau tidaknya larangan merokok kelak, dengan adanya Project Jernih ini diharapkan orang dewasa perokok sadar untuk tidak meneruskan kebiasaannya (atau setidaknya memilih waktu dan tempat yang pas untuk merokok).
Ya, anak-anak bukan asbak. Karena itulah sudah sepatutnya sikap orang dewasa perokok pun dijaga. Mereka, anak-anak, semestinya dihargai untuk terus tumbuh dalam lingkungan yang sehat. Bukankah yang kita inginkan adalah generasi penerus yang lebih baik lagi di masa depan? Kalau bukan kita sebagai orang dewasa yang mau membenahi diri sejak sekarang, lalu siapa lagi?
Mari, kita sama-sama mendukung Project Jernih demi masa depan anak-anak Indonesia yang lebih sehat. 🙂

begitulah … buatku anak adalah nyawa … dan membesarkan anak di Jakarta juga merupakan tantangan tersendiri, lain halnya jika anak dibesarkan dalam lingkungan kampung (Candi Karang misalnya_red). di jogja mungkin masih jauh dari polusi…di Jakarta, selain polusi asap rokok (pdhl udah ada perdanya), juga polusi asap kendaraan, blm lagi kemacetan, dan pencemaran lainnya…anak korban juga, stress dan kadang bisa tantrum…apa yg bisa kita lakukan. kita orang tua harus menjadi teladan anak, setidaknya tidak merokok di ruang publik dan memberikan edukasi yang cukup tentang bahaya rokok ke anak. walupun itu tidak cukup mengatasi kita sebagai perokok pasif, paling tidak role model dan model mental yang baik bisa kita contohkan ke anak…nice article mbak …
kalau sayang anak, jangan merokok dekat anak ya
nah, itu pesannya, Mbak. lebih bagus lagi kalau tidak merokok sama sekali. sehat, hemat, dan bebas polusi! 😀