Antara Kalkulator Energi dan 20 Detik Terakhir

Sebagai pengendara sepeda motor jadul saya percaya bahwa saya pun memberi kontribusi polusi terhadap bumi. Sekalipun Ezy, motor saya (Honda Grand keluaran tahun 1997) itu, selalu saya servis rutin, ganti oli, perawatan dan sebagainya, masih saja saya sadar.. selama ini tentu tidak sedikit emisi yang telah dikeluarkannya demi mengantar saya beraktivitas di luar rumah.

Hidup di pinggiran kota kecil yang notabene bukan kota angkot seperti Jogja, membuat mengendarai motor sebagai pilihan paling fleksibel. Bagaimana tidak, dari kota hanya ada satu trayek bus Jogja-Kaliurang yang bisa menjangkau tempat saya tinggal. Bus lain, Baker, tiga tahun lalu sebelum erupsi Merapi 2010 masih beroperasi, entah saat ini. Dulu setiap 30 menit sekali bus ini turun dari kandangnya di Kaliurang menyusuri jalur ke arah selatan (Jl. Kaliurang) hingga ringroad dan membawa penumpang menyusuri pinggiran kota hingga Terminal Giwangan.

Bersyukur sekali saat ini jalanan di Yogyakarta telah dilengkapi lampu traffic lengkap dengan countdown timer-nya. Bagi saya pribadi penambahan penanda hitung mundur tersebut sangat membantu, kaitannya tentu dengan penghematan BBM. Saya terbiasa menggunakan timer tersebut sebagai pengingat berapa lama saya harus mematikan mesin Ezy saat harus menunggu lampu merah berubah hijau. Saya sempat memperhatikan, tidak tiap traffic light memiliki waktu tunggu yang sama. Untuk waktu-waktu sibuk seperti pk. 07.00 sampai dengan pk. 08.00 atau jam bubar kantor pk. 16.00 sampai dengan 17.00 di persimpangan ringroad utara misalnya, angka pada timer jelas berbeda. Bisa jadi memang disesuaikan dengan kepadatan pengguna jalan.

O ya, yang saya maksud menghemat BBM di sini ada kaitannya dengan emisi/zat buang kendaraan bermotor. Katakanlah bila timer bermula dari angka 100 sementara ada 10 motor atau mobil menyalakan mesinnya, bisa dibayangkan berapa jumlah karbondioksida dan zat lain yang menghambur keluar dari knalpot hanya dalam rentang waktu 100 detik?! Itu saja dalam posisi berhenti di traffic light. Bagaimana jika posisi kendaraan melaju? Saya pun mencoba menghitungnya dengan bantuan Kalkulator Energi yang disediakan oleh situs Hijauku.com. Mengambil jarak minimal tempuh seharinya (dari rumah ke kantor pergi-pulang), 16 km dengan motor 4 tak maka, seperti inilah perhitungannya:

kalkulator energi_Ezy.1kalkulator energi_Ezy.2kalkulator energi_Ezy.3credit: Kalkulator Energi-Hijauku.com

Dari Kalkulator Energi Hijauku.com, akhirnya saya tahu bahwa setidaknya saya menghabiskan 13632 BTU per harinya untuk menempuh jarak 16 km, menghabiskan setidaknya 0,41278 liter premium BBM Pertamina, dan mengemisikan 0,97003 kg CO2. Wow!! Itu hanya dari satu motor 4 tak dengan jarak tempuh paling minim. Padahal seharinya ditambah dengan aktivitas mengajar privat dari rumah ke rumah, saya bisa menempuh hingga 50 km/hari. Ah, betapa saya telah menghabiskan begitu banyak energi. Semoga saja semua itu bermanfaat.

Bagaimana dengan motor 2 tak? Emisinya jauh lebih besar. Belum lagi truk dan angkutan umum yang menggunakan BBM solar. Ah, sempat terpikir mengapa mereka tidak menggunakan biosolar saja? Emisinya lebih rendah ketimbang solar murni.

Dengan menilik Kalkulator Energi macam ini akan membantu saya untuk tetap sadar bahwa saya telah ikut andil dalam penghabisan sumber daya alam bumi. Maka, saya tentu tidak boleh menghamburkan energi yang sudah semestinya dihemat dan dilestarikan. Itulah mengapa saya kian mantap menggunakan bantuan countdown timer dan beristiqomah dengan β€œ20 detik terakhir” setiap kali saya tertahan oleh traffic jam.

Sayangnya, di beberapa wilayah di Indonesia, countdown timer ini justru disalahgunakan oleh pengguna jalan yang kurang bertanggung jawab. Akibatnya bukan selamat, tetapi justru celaka karena motivasi mereka adalah ngebut sekencang-kencangnya ketika angka mendekati 0. Hm, rasanya di belahan bumi manapun, tetap saja ada sebagian manusia yang belum bisa hidup lebih displin. Ya, semoga saja pihak yang berwenang segera melakukan pembenahan; dengan memodifikasi timer yang lebih ramah pengguna jalan, misalnya.

Bagaimanapun, Indonesia harus tetap kita jaga, supaya tetap lestari, tetap nyaman sebagai tempat tinggal tidak hanya untuk generasi sekarang saja, namun juga untuk anak turun kita kelak. Semoga. πŸ™‚

0 thoughts on “Antara Kalkulator Energi dan 20 Detik Terakhir

  1. saya juga nggak sadar itu πŸ™ secara kita bangsa Indonesia lebih suka menggunakan kendaraan pribadi, jadi dilematis
    salam

    1. toss dulu, Mbak, we’re lady rider πŸ˜€
      kalau Ezy hanya bisa dikasih premium, kata temen mesin jadul macam Honda Grand 97 kalau dikasih pertamax jadi mudah aus. makanya sampai sekarang ga berani ngisi pakai pertamax. belum tahu juga sebenarnya gimana. kalau Ezy, 15rb buat seminggu, irit juga hehe πŸ˜€

  2. aku selalu salut sama cewe2 yang berani bawa motor sendiri dan sumpah sejak tahun 2010 aku ga mau dan ga berani diboncengin motor sama cewe kecuali jarak bener2 dekat hahhahaa
    tapi memang nggak heran phie kalau satu motor aja udah mengeluarkan racun sebanyak itu meskipun rajin diservis karena bahan bakar yang bereaksi sudah secara alami akan mengeluarkan CO jadi yaa gitu dehh cemana pulak ya di jakarta inii -____-

    1. gak bisa dibayangkan berapa banyak racun di udara Jakarta yang macetnya bisaaa begitu deh… 😐

      hehehe kenapa dengan bawa motor sendiri, Kak? kalau saya sih karena memang sudah sejak lulus SD disuruh belajar naik motor, jadi ya sudah ikut saja saran ortu. πŸ˜€

  3. Saya sangat setuju dengan tulisan mbak. Mungkin memang kita tidak bisa benar benar “bebas” dari berbuat “kotor” menghasilkan polusi udara melalui emisi gas buang motor kita. Tapi selalu ada jalan untuk yang berniat baik.

    Sebagian orang mengatakan, kalo mesin dimatikan, akan lebih banyak membutuhkan bahan bakar saat dinyalakan kembali. Saya tidak paham akan hal ini, dan saya tidak memusingkan nya. Tapi di sini kita tidak hanya membahas mengenai penghematan BBM, tapi lebih ke “balas budi” ke mother earth dengan setidak nya berusaha mengurangi emisi gas buang.

    Salam, semoga selalu sehat πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *