Bicara soal puisi, saya tentu bukan satu-satunya orang yang gemar dan masih terus belajar menulis puisi. Rasanya masih teramat panjang jalan yang harus saya tempuh agar karya-karya saya masuk dalam jajaran karya yang apik dan berbobot. Proses panjang ini tak urung meninggalkan jejak-jejak tersendiri. Kadang sedih, tapi lebih banyak senangnya; lebih banyak bahagianya.
Bagi saya pribadi, ada banyak jejak kebahagiaan yang secara tak sengaja saya peroleh selama proses pematangan diri. Sekalipun sederhana, tak urung membuat proses belajar menulis tersebut semakin terasa indah, semakin bahagia. Satu di antaranya ketika saya menulis sebuah puisi untuk Pak Guru, Sapardi Djoko Damono. Sahabat tentu masih ingat dengan kisah saya mengikuti #PuisiHore3 beberapa bulan lalu, bukan? Nah, tema tantangan terakhir adalah menulis persembahan puisi untuk penyair favorit. Tanpa banyak berbasa-basi, jemari saya seolah didorong untuk menulis serangkai kalimat sederhana untuk beliau yang telah saya anggap sebagai Pak Guru. Maklumlah, puisi berirama karya Pak Guru-lah yang selama ini saya adopsi untuk hampir semua karya puisi saya.
Setelah bait-bait puisi berjudul “Menjadi Gadis Kecilmu” itu rampung, disusul dengan berakhirnya event #PuisiHore3, dan (alhamdulillah) masuknya pulsa 25K ke ponsel … mengapa masih ada yang kurang, ya? Entah, saya sendiri tak tahu apa yang sebenarnya saya rasa kurang kala itu. Baru ketika beberapa minggu lalu saya kembali mengutak-atik akun SoundCloud, menemukan cara menggabungkan musik pengiring dengan rekaman suara, … saya pikir saya telah menemukan di mana letak kekurangan tersebut. Maka, jadilah awal bulan ini, tepatnya 14 hari lalu saya mengunggah rekaman puisi tersebut di akun SoundCloud saya.
Saya tahu, hasil karya tersebut masih jauh dari baik, tapi saya belum ingin berhenti. Setelah sebelumnya membingkiskan rekaman puisi ini untuk Mak Irma Senja (salah satu makmin Kumpulan Emak Blogger yang juga penikmat puisi), saya pun memberanikan diri membingkiskan kado kecil tersebut kepada beliau, Pak Guru Sapardi Djoko Damono lewat twitter tertanggal 22 Agustus 2014. Saya hanya ingin membingkiskan buah pena sederhana tersebut untuk Pak Guru, sosok yang juga saya hormati sebagai seorang guru besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia; sekaligus pioneer puisi liris di Indonesia. Sekadarnya, itu saja.
Have you heard ‘Menjadi Gadis Kecilmu’- sebuah persembahan utk Pak Guru @SapardiDD by bubuphie on #SoundCloud? https://t.co/kU0SW7W12c — Bubu Phie (@phijatuasri) August 22, 2014
Saya tidak pernah berpikir sedikitpun soal reaksi beliau, seperti halnya jika saya membingkiskan kado kepada orang-orang yang saya sayangi. Yang saya tahu, begitulah cara saya mengungkapkan terima kasih. Dua jam kemudian, ketika saya mengintip TL tweetdeck di komputer kerja … betapa saya terkejut, antara senang, haru, dan tak percaya membaca pesan beliau lewat DM.
Sebenarnya saya speechless, sama sekali tak tahu mesti menulis apa untuk menanggapi apresiasi Pak Guru. Hanya dengan kalimat itu saya menjawabnya, mengungkapkan rasa terima kasih. Berkat inspirasi dalam tiap puisi beliau-lah, saya setia bertahan belajar menulis puisi hingga saat ini.
Terima kasih banyak, Pak Guru. Saya mengerti, untuk menjadi baik butuh waktu dan pengorbanan amat panjang. Hanya yang tekun menempa diri, kelak akan menerima hasil dari kerja kerasnya. Sekali lagi, terima kasih, Pak Guru. Semoga apresiasi tersebut membuat saya makin giat berlatih dan berkarya. Aamiin.

0 thoughts on “Tentang Kado Kecil untuk Pak Guru”