Teruntuk Bunda Nik di Tempat Terdamai

Dear, Bunda Nik

Ada yang kurang rasanya tahun ini, tanpa Bunda di sisi. Ada yang tetiba terasa hampa di hati ketika Tuhan menuliskan takdir kita berpisah tahun ini. Akhir bulan kelima lalu, kuingat benar. Siang terik sontak menjadi temaram, redup digelayuti mendung. Kesedihan itu datang membayang setelah kuterima telepon soal kabar berpulangnya engkau, untuk selamanya. Selamanya? Aku tak percaya, Bunda. Sungguh tak pernah percaya, bahkan sampai hari ini … hari semestinya Bunda merayakan ulang tahun ke 49.

Bunda, hari ini, perkenankan aku mengenang semua sedih-senang itu lagi.

Tanpa Bunda, tentu ….

Tiada lagi yang begitu setia mendengarkan keluh kesahku, soal apa pun. Tiada lagi yang begitu riang mendengar kisah panjang-berliku dari ponakan tersayangnya. Tiada lagi yang rela meluangkan waktu berjam-jam demi mendengar suaraku dari seberang telepon. Tiada lagi yang begitu bersemangat mendengar kisah-kisah dari blog-ku dibacakan. Tiada lagi yang sehebat Bunda menyutradarai drama iseng keluarga besar Tedjodisastro. Tiada lagi yang biasa menertawaiku dengan suara tertawa sepertimu.  Tiada lagi sosok Bunda yang memberiku inspirasi berupa ketegaran menghadapi apapun yang diberikan oleh Gusti Allah. Kini, tiada lagi ….

Namun, seberat apapun itu, aku berusaha mengerti, Bunda. Apapun yang telah tertulis, adalah ketentuan-NYA; ketentuan terbaik untuk hamba-NYA. Sakitmu selama beberapa tahun belakang telah menjalar hingga ke ginjal. Segala hal telah diupayakan demi kesembuhanmu, Bunda. Namun, apalah kita ini? Sungguh bukanlah makhluk berdaya, melainkan atas izin Gusti Allah semata.

Aku akan selalu ingat, Bunda, pada setiap hal yang dulu pernah kita lalui bersama. Pada kenangan seperangkat mainan dokter-dokteran, juga banyak bungkus cokelat Beng-Beng yang pernah kau beri untuk ponakan kecilmu ini. Pada kenangan manis saat kita menghabiskan waktu berenang di dinginnya air kolam Telaga Putri, Kaliurang dan mencicipi nyamannya berlama-lama berada di hutan wisata Taman Nasional Gunung Merapi. Pada berpuluh pucuk surat yang pernah kutulis untukmu. Surat yang berisikan begitu banyak hal: curhat, masalah, sedih, bahagia. Pada penghiburan yang kau beri ketika aku meradang karena patah hati, lalu nekat pergi meninggalkan rumah, sendiri dalam kalut ke ibukota. Ah, Bunda, betapa aku kehilanganmu … kehilangan juga ia yang kucintai di tahun yang sama. Adakah itu karena Gusti Allah hendak menunjukkan kebahagiaan lain untukku selepas kepedihan ini?

tuk Bunda Nik

Maafkan, tak ada maksudku tak mengikhlaskan kepergianmu, Bunda. Kupikir lagi, apapun yang diberi oleh Gusti Allah lalu kuterima seperti adanya, kelak akan menuntunku pada untaian hikmah berharga. Aku akan mendewasa dengan ini semua, insyaAllah. Berbahagialah di sana, Bunda. Gadis kecilmu ini akan tetap mengingat segala tentangmu dan membiarkan engkau abadi di dalam sanubari. Selamat berulang tahun, Bunda Nik. Terima kasih untuk setiap hal yang terlampau banyak jika harus kuhitung. Terimalah persembahan sederhana ini.

[soundcloud url=”https://api.soundcloud.com/tracks/164634135″ params=”auto_play=true&hide_related=false&show_comments=true&show_user=true&show_reposts=false&visual=true” width=”100%” height=”300″ iframe=”true” /]

 

25 Agustus 2014 hari ini tepatnya
Di pertambahan usiamu ke-49 semestinya
dalam remang sunyi, aku berdoa
Teruntuk satu, engkau, Bunda Nik tercinta
Adalah perpisahan itu terlalu pedih
Tapi alur hidup kita memang harus beralih
Dari masa ke masa,
Dari putaran satu ke alam lainnya
Sejatinya ini adalah kehendak Tuhan yang Maha Kuasa
atas jiwa-jiwa yang ditunjuk untuk berpulang kembali ke hadirat-Nya
Tiada sedikit pun kita bisa menolak,
atau sedikit pula mengelak
Kita adalah sejumlah pelaku sandiwara
dari sebuah pentas mahakarya
Ketika tiba pada saat kita,
kelak tiap jiwa akan dipanggil menghadap Sang Pencipta
Seperti jiwamu yang kini telah terpisah dari raga
Tapi, usah risau, Bunda
Segala kenangan indah kita
kan tetap abadi di sini, dalam alun cerita
-kaki Merapi, 25 Agustus 2014-

0 thoughts on “Teruntuk Bunda Nik di Tempat Terdamai

  1. terus berjuang dan panjatkan doa bagi orang tua kita, karena doa anak saleh/salehah selalu dikabulkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *