Saya ingat, hari itu adalah awal mula musim kemarau. Udara pagi di kaki Merapi jauh lebih dingin dari biasanya. Dulu, Simbah Uti sering mengatakan saat-saat seperti itu dengan bedhidhing.
Bukan cuma soal udara dingin, ada kenangan lain yang tidak akan pernah saya lupa. Ya, kemarau juga berarti waktunya bunga-bunga kopi di kebun Simbah bermekaran. Wangi khas bunga kopi (kami menyebutnya blanggreng), berpadu dengan udara dingin dan kabut yang turun sesekali … ah, betapa kemarau punya cara membuat saya terkenang-kenang pada Simbah Uti.
Tidak jarang kenangan itu begitu mudah muncul jika saya menemukan beberapa ‘kode’. Satu di antaranya sebuah foto blanggreng yang diunggah oleh mbak Ifeb, kakak angkatan saya jaman kuliah dulu. Ini dia tersangka foto yang ia unggah ke Instagram (sekaligus nyambung ke Facebook) tersebut.

Oh, NO 😯 … betapa rindunya saya pada SImbah Uti; rindu mencium wangi bunga kopi; rindu diajak berkeliling kebun memanen biji-biji kopi yang telah masak, lalu membawanya menuju lumpang; rindu suara alu-lumpang yang berbenturan memecah biji kopi; …. Hmm, ternyata ada banyak rindu di sebalik bunga kopi; bahkan hanya dengan melihat fotonya saja 😀
Catatan: Sahabat yang penasaran, bisa membaca kisah selengkapnya di Aroma Secangkir Kopi