Lapangan Denggung

Bicara soal ruang publik, salah satu ruang publik di Sleman berada di tepi Jalan Magelang km 9 (sekitar kompleks Pemerintah Kabupaten Sleman). Ya, inilah Lapangan Denggung. Beberapa warga Sleman menyebutnya dengan ‘alun-alun’, atau ada juga yang mengistilahkan dengan ‘taman kota’. Menurut saya, penyebutan ini tidak ada yang keliru; toh istilah ini mengacu pada tempat yang sama.

Jika ditilik dari fungsinya, Lapangan Denggung merupakan salah satu tempat paling serbaguna di Sleman. Acara-acara berskala besar sering digelar di sini. Entah itu senam massal, pameran pembangunan daerah, beragam festival, pasar malam, pentas seni, upacara/apel, sholat Id, hingga beraneka perlombaan.

Berdasar pengalaman pribadi, saya pernah sekali pentas gabungan bersama teman-teman sanggar dari Turgo Gede, Pakem di bawah asuhan Pak Samijo. Kala itu kami melakonkan wiracarita ‘Harya Penangsang Gugur’ dalam rangka memeriahkan hari ulang tahun Kabupaten Sleman. Saya tidak begitu ingat ulang tahun yang ke berapa, mungkin sekira tahun 1996/1997. Meski demikian, pengalaman pentas tersebut sangatlah berkesan. Tentu saja, karena itulah pentas pertama kami diiringi oleh live musik gamelan.

Yang menarik, saat ini Lapangan Denggung telah dilengkapi juga dengan arena bermain anak-anak dan wahana skateboard. Bisa jadi itulah yang membuat beberapa orang menyebut tempat ini sebagai taman kota. Arena bermain ada di bagian selatan, mepet dengan pos polisi Denggung. Sementara itu, wahana skateboard ada di bagian utara lapangan, dekat dengan gedung perpustakaan daerah.

skateboarding_alun2 Denggung

arena bermain anak_alun2 Denggung

Di arena bermain anak, ada bermacam mainan mulai dari yang gratis pakai hingga yang berbayar. Tersedia juga bangku-bangku taman di bawah kanopi pepohonan … ah, nyaman nian bisa berlama-lama duduk di situ. Sewaktu saya berkunjung ke sini, saya melihat anak-anak yang hilir mudik memacu otopet. Sepertinya ada yang menyewakan juga otopet dan …. apa itu? Becak tandem? Wah, Sleman juga punya ternyata. Tak perlu jauh-jauh ke Alun-alun kidul Keraton Yogyakarta berarti, ya?! 😉

becak tandem_alun2 Denggung

O ya, di dekat arena bermain kita bisa menjumpai tiga ekor patung gajah: seekor induk dan dua ekor anaknya. Menurut sumber yang pernah saya baca, pemilihan patung gajah (dan bukan hewan lain) berkaitan dengan asal-usul nama Sleman. Ada yang percaya bahwa nama Sleman berasal dari kata Saliman, dan liman dalam bahasa Jawa berarti gajah.

patung gajah_alun2 Denggung

Selain itu, kita juga bisa menjumpai pedagang kaki lima di sebelah utara dan barat Lapangan Denggung. Mau jajan penganan untuk mengganjal perut sembari menemani anak-anak bermain? Atau mau berwisata kuliner murah meriah bersama keluarga ditemani kerindangan pepohonan? Boleh sekali! 😀

pedagang makanan_alun2 Denggung

Apa lagi yang menarik di sekitar Lapangan Denggung?

Coba berjalan ke sebelah utara. Di sana, dekat dengan tempat parkir yang rindang, kita bisa menemukan landmark bertulis ‘Kabupaten Sleman’ mengapit sebuah tugu penanda Sleman bebas tiga buta. Sayangnya, tulisan ini agak nyempil sehingga tidak begitu terlihat karena berada di sebelah utara lapangan (menghadap ke arah Pasar Denggung). Sampai sekarang saya masih bepikir, mengapa landmark tersebut tidak diposisikan di lokasi yang lebih mudah dilihat? Semisal, menghadap ke Jalan Magelang. begitu? Entahlah.

landmark Sleman dan bebas 3 buta

Hmm, overall, begitulah kisah ruang publik di Sleman, Lapangan Denggung, yang kian hari kian berbenah. Semoga kondisinya makin baik lagi di masa depan, terutama soal penanganan sampah dari para pengunjung ruang publik ini. Aamiin.

0 thoughts on “Lapangan Denggung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *