Mengunjungi Sleman, tidak akan lengkap jika belum singgah di Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM).Taman nasional yang terletak di bagian ujung utara Kabupaten Sleman ini, menyimpan banyak kisah. Mulai dari udara yang sejuk, air dingin nan jernih, hutan yang hijau, keriangan burung-burung dan satwa liarnya, hingga kisah pilu saat Merapi mengalami erupsi. Sisa-sisa erupsi besar tahun 2010 bahkan masih bisa dilihat hingga sekarang, lima tahun setelahnya.
Sebelum saya ajak Sahabat masuk menjelajah ke TNGM, ada baiknya kita mundur ke belakang sejenak, menjenguk sejarah terbentuknya TNGM.
Menurut informasi yang saya dapat dari website TNGM, sebelum ditetapkan sebagai taman nasional (TN) pada tahun 2004, hutan di sekitar Merapi mengalami beberapa perubahan status. Pada mulanya (sekitar tahun 1931), hutan di sekitar Merapi ditetapkan oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai hutan lindung. Status hutan lindung ini berlanjut hingga tahun 1975. Berikutnya, pada periode 1975 hingga 1984, sebagian dari kelompok hutan lindung Merapi diubah statusnya oleh Menteri Pertanian RI menjadi Cagar Alam Plawangan Turgo di bawah pengelolaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pada periode 1984 hingga 1989, atas keputusan Menteri Kehutanan, sebagian hutan lindung yang berada di Yogyakarta diubah statusnya menjadi Taman Wisata Alam Plawangan Turgo di bawah pengelolaan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Daerah Istimewa Yogyakarta. Setelahnya, pada periode 1989 s.d. 2004, Menteri Kehutanan RI menunjuk wilayah hutan yang termasuk Cagar Alam dan Taman Wisata Alam Plawangan Turgo adalah yang terletak di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Setelah bolak-balik mengalami perubahan status, akhirnya, berdasar Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 134/Menhut-II/2004, areal TNGM pun diperjelas. Dalam SK Menteri tentang perubahan Fungsi Kawasan Hutan Lindung, Cagar Alam dan Taman Wisata Alam pada Kelompok Hutan Gunung Merapi tersebut dijelaskan bahwa areal TNGM adalah seluas ± 6.410 hektare, yang terletak di Kabupaten Magelang, Boyolali dan Klaten Provinsi Jawa Tengah; serta Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Memiliki daerah yang berstatus taman nasional tentu saja menjadi amanah yang tidak mudah bagi para pemangkunya. Saya pikir, bukan hanya Departemen Kehutanan RI, BKSDA DIY, atau Pemerintah Kabupaten Sleman yang bertanggung jawab ‘memangku’ kelestarian TNGM. Sebagai pribumi, saya juga merasa terpanggil untuk turut serta; mengambil peran semampu saya. Setidaknya dengan datang menjelajah tanpa mengusik sedikitpun yang ada di TNGM, itu cukup sebagai permulaan. Jadi, Sahabat sudah siap saya ajak ke TNGM? Yuuk!! 😀

Untuk mencapai TNGM tidaklah sulit. Dari pusat kota Jogja, cukup mengikuti arah terus ke utara. Jalan Kaliurang adalah akses utama menuju TNGM. Sebelum masuk ke areal hutan, kita akan disambut oleh patung elang Jawa. Ya, elang Jawa merupakan salah satu satwa endemik hutan Merapi. Tidak hanya aneka satwa, menurut hasil survei BKSDA DIY, ada setidaknya 154 jenis tumbuhan yang ada di TNGM, salah satunya jenis anggrek endemik yang saat ini sudah langka, Vanda tricolor ‘Merapi’.
Untuk masuk ke hutan wisata Plawangan Turgo TNGM, kita perlu bersabar. Tidak bisa terlalu pagi. Setiap harinya gerbang dibuka pada pukul 08.00 dan tutup pada pukul 16.00. Saya dan dua orang karib pernah kepagian datang, lihat apa yang kami temukan? Gerbangnya masih tutup! Untungnya tidak lama.

Begitu gerbang dibuka, kita bisa masuk setelah membayar tiket masuk. Tahun 2014 lalu, harga tiket (hari libur) naik dari Rp2.500,00 menjadi Rp7.500,00 (sudah termasuk asuransi). Di dalam hutan ini, kita bisa menuju beberapa titik, di antaranya air terjun (yang akan lebih deras jika musim hujan tiba), tangga, atau langsung naik ke Pronojiwo. Dari ketiga titik tersebut, titik terakhir inilah yang paling saya favoritkan.
Ada apa di Pronojiwo? Kita akan tahu setelah menempuh lebih kurang 20 menit berjalan kaki. Pastikan Sahabat memakai sepatu outdoor atau sandal gunung juga boleh. Bukan apa-apa, ini mengingat medannya yang terjal. Selama perjalanan, kita harus siap mental kalau ada pengalaman baru, semisal bertemu sekawanan monyet yang sedang berseteru hingga berdarah-darah. Rupanya bukan hanya manusia yang doyan tawuran, ckckck. Saya pernah mengalaminya. Bagaimanapun diusahakan kalem, jantung tetap saja berdebar-debar. *duh!
Setelah sampai di atas bukit, kita bisa menikmati pemandangan dari atas gardu pandang. Jika beruntung, kita akan disambut oleh gagahnya Merapi, lalu berdecak kagum atas karunia Gusti Allah SWT. Beberapa kali saya ke spot ini, tidak pernah merasa bosan. Kadang, malah sengaja merencanakan sesuatu yang seru. Misalnya, membuka bekal dan sarapan di atas gardu pandang sambil menikmati hijau-birunya Merapi. Subhanallah, nikmat Tuhan yang manakah yang layak saya dustakan?


Sayang sekali, masih saja ada pengunjung yang kurang sadar lingkungan dengan sembarangan membuang bekas permen, botol air mineral, bungkus jajanan/snack, dsb. di sepanjang jalur menuju gardu pandang. Bukan itu saja, aksi vandalisme juga masih saya jumpai di sana-sini. Sedihnya … 😥
Saya lantas berandai. Andai tiap pengunjung mengerti pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, tentunya akan meringankan kerja para pemangku, juga membuat penghuni TNGM senang. Semoga satu hari nanti pihak pengelola TNGM menggalakkan kegiatan cinta hutan dengan mewajibkan para pengunjung untuk membawa turun sampah non-organik dari dalam hutan. Kalau hutan bersih dari sampah, fungsi hidrologis tentu akan berjalan optimal. Kalau hutan bebas dari vandalisme, betapa kian indah hutan kita.

wah aku belum sempat mampir ke sana Phie
mangga atuh, Teh, mampir ke TNGM 😀
indah banget mbak disana, jadi ingin mengunjungi kesana juga
naah, makanya mampir, Mas. 😀 #promo