Di Balik #RI70: Balada Paduan Suara

Tahun ini boleh dibilang tahun nekat buat saya. Lha gimana enggak? Seingat saya, terakhir kali saya naik pentas sebagai dirigen paduan suara adalah tahun 2003; itupun menggantikan posisi Ning yang sakit pas hari H.

Selepas tahun 2003, saya hanya berani mengurusi anak-anak di belakang layar, terutama saat latihan. Sesekali memberi mereka kejutan dengan suara lantang adalah sebuah pengalaman tak terlupa. Termasuk menghadapi drama anak-anak yang rewel, usil, sampai yang susah diatur. Itu …. amazing, pakai banget! ๐Ÿ˜† Di hari H, tugas saya hanya sampai pada merapikan seragam, rambut, dan menyematkan pita merah putih di dada anak-anak. Tugas menjadi dirigen saya percayakan kepada orang lain.

Ya, itu 12 tahun lalu dan tahun-tahun berikutnya (yang kebanyakan bersamaan dengan Ramadhan sehingga tidak ada pentas 17-an). ๐Ÿ˜†

Tahun ini, tepat di #RI70, sesuatu terjadi. Seperti yang saya tulis di awal, tahun ini saya nekat. Setelah sekian tahun ย tidak maju sebagai dirigen, saya merasa harus maju. Terpaksa? Demi anak-anak… daripada gak ada yang mengurusi. Sebenarnya tidak ada niatan untuk naik pentas,ย cuma … apa mau dikata, personel Kadang Anem 09 yang bisa diandalkan untuk memandu paduan suara anak-anak sangat terbatas. Sementara waktu yang tersedia juga mepet: 20 hari; itu pun belum diselingi latihan menari. Jadilah, kami semua bagi-bagi tugas.

Seperti halnya pengalaman yang sudah-sudah, ada saja drama yang terjadi setiap kali latihan. Ada yang mengeluh sakit, capek, minta duduk, haus, lapar, …. tetapi, lagi-lagi semua berakhir pada, “Namanya juga anak-anak.” Saya yang semestinya bisa lebih sabar.

tim paduan suara cilik kami di #RI70: kalian hebat!
tim paduan suara cilik kami saat latihan di teras: kalian hebat! ๐Ÿ˜€

Saya berusaha memaklumi keadaan, apalagi ketika ternyata anak-anak yang sukarela datang berlatih adalah yang berusia pra-SD hingga yang tertua SD kelas 6. Yang SMP mana? Ckckck, di sinilah saya merasakan sedihnya. Mereka bilang, malu.

Apa?

Kalian malu menyanyikan lagu kebangsaan?! ๐Ÿ‘ฟ *kacak pinggang*

Duh, anak-anak jaman sekarang sungguh berbeda dengan jaman saya kecil dulu. Hmm, tapi bagaimanapun keadaannya saya mengerti, tidak mungkin memaksa anak-anak yang bilang malu untuk ikut serta. Sudahlah, saya gak mau pusing. Saya urus saja yang mau. Yang malu, ditinggal!

Drama terakhir yang bikin kepala saya rada senut-senut adalah permintaan seorang ibu agar anaknya bisa pentas tanpa ikut latihan. Apa? Saya berusaha meyakinkan diri, siapa tahu telinga saya salah dengar. Anak-anak lain berusaha untuk datang latihan, belajar mengatur napas dan artikulasi, menyesuaikan tempo lagu … eh, si ibu ini dengan santainya bilang,

“Kan yang penting ikut pentasnya … daripada dia nangis.”

Asli, saya mau bilang, “Silakan ikut kelas parenting dulu, ya, Bu …” tapi gak kesampaian. *sewot sungguh*

Pada akhirnya si anak tadi tidak saya beri izin untuk bergabung (dan dia nangis, pulang merajuk). Bukan, bukan karena saya meneruskan ke-sewot-an saya terhadap si ibu. Saya sudah datang meminta maaf. Yang saya inginkan adalah menyampaikan pesan bahwa pentas ini serupa hadiah bagi anak-anak yang selama 20 hari mau berusaha dan menikmati proses ‘ditempa’.

…. dan, inilah kami saat memadukan suara di pentas sederhana #RI70 Candi Karang RW 09. Hendak diberi skor berapapun, saya tetap bangga pada mereka: Deti, Dea, Cindy, Uti, Winda, Darel (baris belakang), Mega, Nikmah, Mesya, Rifa, Caca, Rahma, dan Vita (baris depan).

dirigen amatir

Event berikutnya? Saya berharap tim paduan suara akan bertambah. Tidak ada lagi yang merasa malu untuk tampil di kampung sendiri. Tidak ada lagi yang merasa terlalu tua untuk menyanyikan lagu kebangsaan. Juga, tidak ada lagi drama dari ibu-ibu yang menggampangkan sesuatu demi memenuhi keinginan anaknya, daripada merajuk.
Semoga. ๐Ÿ™‚

0 thoughts on “Di Balik #RI70: Balada Paduan Suara

    1. Hahaha iku tim dadakan, Mbak.. tiap tahun juga bakal berubah formasinya. Biasanya sih begitu. Mauku, latihan mereka rutin gitu, tiap seminggu sekali biar kalau ada event kami bisa sering2 tampil… mauku ๐Ÿ˜†
      Kapan lagi ya bisa mentas? *mikir*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *