Satu hal yang bisa saya lakukan sebagai pribumi Sleman adalah bersyukur. Bersyukur karena meski saya tinggal di daerah pinggiran, tetapi tak membuat saya kehilangan akses terhadap kegembiraan. Lantas ‘gembira ‘ macam apa yang saya maksud? Tentu saja, ‘gembira’ yang sederhana dan secukupnya; yaitu kegembiraan karena saya bisa mengakses pasar tradisional. Sekali lagi, pasar tradisional, ya, BUKAN mal!
Ya, belanja bagi saya adalah salah satu hal yang bisa digunakan untuk refreshing. Termasuk juga uji nyali, jika pas kantong kudu diirit atau (sialnya) sedang kempes … dan saya pas harus ke pasar sekadar untuk survei harga. Ckckck. *lambaikan tangan ke kamera*
Meski begitu, meski kantong sedang tebal atau kempes, meski tanggal muda atau tua … masuk ke pasar tradisional, bagi saya pribadi, tetap punya kesan menggembirakan. Aneh, memang, hahaha. 😆
Nah, di antara sekian banyak pasar di Sleman, ada satu pasar yang sangat lekat dengan ingatan masa kecil saya (pun sampai sekarang). Pasar Pakem, begitulah namanya disesuaikan dengan nama kecamatan di mana pasar ini berlokasi. Pasar ini termasuk dalam kategori pasar besar di Kabupaten Sleman, dengan jumlah pedagang lebih kurang 910 orang. Yang unik, rata-rata pasar di sini memiliki hari pasaran. Legi dan Pon adalah hari pasaran Pasar Pakem.
Hmm, ada yang masih bingung dengan istilah ‘hari pasaran’? Sini, saya bantu menjelaskan. 🙂 Jadi, di penanggalan Jawa dikenal lima hari pasaran: Pahing, Pon, Wage, Kliwon, dan Legi, berulang begitu seterusnya. Hari pasaran ini digunakan untuk menandai puncak keramaian suatu pasar. Misal, hari ini di kalender jatuh di hari Rabu Legi atau Rabu Pon, maka kita bisa memastikan bahwa Pasar Pakem pas ramai-ramainya, pengunjungnya banyak. Mau nimbrung belanja, tentu saja boleh! 😀
Nah, kalau kita datang ke pasar selain di hari pasaran? Pasarnya bukan berarti tutup, lho, kan ini pasar besar. Tetap saja ada pengunjungnya, meski biasanya lengang. Maka, pastikan jika Sahabat (terutama yang berasal dari luar Sleman) hendak berbelanja di Pasar Pakem, cermati dulu kalender.
Meski berada di daerah pinggiran, pasar yang berada di bawah pengelolaan Dinas Pasar ini sangat mudah diakses. Ikuti saja Jalan Kaliurang terus ke arah utara; begitu sampai di kilometer 17, arahkan pandangan ke kanan jalan. Kita akan disambut oleh gapura bertuliskan “PASAR PAKEM”.
Saat erupsi besar Merapi tahun 2010 lalu, pasar ini tidak luput terdampak juga. Lokasi pasar masuk dalam radius 20 km dari puncak Merapi, sehingga mau tak mau, pedagang dan seluruh kegiatan perdagangan di pasar ini pun terhenti. Kondisi ini tentu menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Sleman. Demi menggeliatkan ekonomi Sleman bagian utara, pasar ini kemudian diperbaiki dengan menggandeng pihak PT Unilever Tbk sebagai mitra. Pada awal 2013, penggunaan pasar yang diprogramkan menjadi salah satu pasar sehat di Daerah Istimewa Yogyakarta ini, pun diresmikan. Bisa dilihat kan logonya di gapura pasar di atas? 🙂
Apa lagi yang unik dari Pasar Pakem?
Kalau ditanya bagian mana uniknya … bagi saya, setiap pasar tradisional itu unik, demikian pula Pasar Pakem. Di Pasar Pakem kita bisa membeli perlengkapan dapur tradisional lengkap. Misalnya? Seperti yang tertempel di dapur Ibu saya ini.
Ada siwur (gayung dari batok kelapa bergagang bambu), tampah, tambir (tampah berukuran lebih kecil), kalo (saringan santan dari bambu), irig (saringan dari bambu, anyamannya lebih jarang ketimbang kalo), panci, dsb. Selain itu ada los sayuran, buah, makanan matang (termasuk jajanan pasar), daging, ikan, pakaian, lapak buku, bibit tanaman, bumbu dapur, rempah dan jamu, lapak kelontong, toko emas, serta penjual pisang mas di bagian utara pasar. Pokoknya banyak, bahkan warung makan juga ada di tengah pasar. Dulu Ibu sering mengajak saya makan bakso di situ. 😀
Yang menurut saya paling khas dari Pasar Pakem (karena memang berkesan sekali sejak kecil) adalah olahan lauk dari bebek (kalau istilah Ibu, namanya betutu), dhawet, meniran, dan jenang longok (saya menyebutnya jenang parem).

Empat jenis makanan ini akan sangat mudah membuat saya teringat pada Nyi Warsilah (simbah Uti, ibu dari Ibu saya). Beliau semasa hidupnya dulu jika berbelanja ke Pasar Pakem, hampir selalu membawa pulang empat jenis oleh-oleh tersebut untuk kami. Ah, jadi rindu pada simbah Uti. Semoga beliau tenang di keabadian. Aamiin.
Begitulah, secuplik kisah tentang Pasar Pakem. Sebuah pasar yang menjadi bagian tak terpisahkan dari masa kecil saya. Bagaimanapun modern-nya kehidupan di Sleman kelak; saya selalu berharap Pasar Pakem (dan tentunya pasar-pasar tradisional lain di Indonesia) tidak akan pernah tertinggal. Tetap mandiri dalam kesederhanaan.
PS. Punten kalau fotonya sangat terbatas. Saya selalu keasyikan kalau mengantar Ibu ke Pasar Pakem, sampai tak sempat mengambil foto hiruk pikuknya pasar. 😛


Padahal pengen sy cari suasananya pasar tdi
habisnya suka keasyikan kalau sudah di pasar.. desak-desakan, udah gak kepikir mau motret2 hehehe